Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Troketon kini sudah menampung sampah residu 150 ton per hari. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan 2 tahun lalu, yakni 130 ton sampah residu per hari yang berasal dari semua kecamatan di Kabupaten Klaten. Keresahan warga soal bau hingga pencemaran air lindi pun tak terhindarkan.
Guna menghadapi permasalahan itu, Pemerintah Kabupaten Klaten telah mempercepat pengoperasian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), serta menggandeng pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk pengelolaan sampah yang lebih terpadu.
Menimbun bau sampah residu Klaten dengan tanah
Sudah sekitar 4 tahun ini, Rohmat (36) bertugas menimbun sampah dengan tanah di TPA Troketon. Tiap satu minggu sekali, Rohmat mengoperasikan alat berat bego guna mengeruk tanah dari bawah, lalu memindahkannya ke atas gunungan sampah.
Meski terkesan mudah, metode sanitary landfill yang dilakukan Rohmat sangat penting untuk mencegah bau dan penyebaran penyakit yang berpotensi timbul dari TPA Troketon.
“Saya kerja dari pukul 07.30 WIB sampai 15.30 WIB,” ujar Rohmat di TPA Troketon, Klaten pada Rabu (8/7/2026) siang. Butuh waktu cukup lama bagi kami untuk mewawancarainya, karena dia terus mondar-mandir mengoperasikan bego di atas gunungan sampah. Seolah tak punya waktu jeda.
“Kalau dulu kan sampah di sini masih sedikit, jadi bisa agak santai lah, tapi sekarang seiring perkembangan zaman, sampah juga makin bertambah dan kalau ditumpuk gini kan lama-lama kelihatan tinggi,” jelasnya.
Tak berhenti bekerja meski hujan tiba

Sebagai salah satu operator alat berat yang berkutat di dalam TPA Troketon, Rohmat bukannya tidak sadar akan keluhan warga setempat soal bau sampah. Laporan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Yogyakarta menyebut, ada 13 desa di 3 kecamatan yang terdampak parah soal bau dan banyaknya lalat.
Oleh karena itu, Rohmat merasa tidak enak hati jika leha-leha menjalankan tugasnya. Bahkan saat hujan turun, Rohmat masih tak pantang menyerah untuk menutupi sampah dengan tanah. Sebab, di waktu-waktu itu, kata Rohmat, baunya makin menjadi-jadi.
“Kalau hujan itu kan akses untuk langsir tanah uruknya jadi becek, jadi kepleret (bego sering terpeleset). Sering juga diingetin sama teman-teman kayak sopir pengangkut sampah sama pemulung di sini agar hati-hati,” kata Rohmat terkekeh.
“Belum lagi kalau tanah untuk pengurukan zona itu kan kempel nggak bisa kemepiar (menggumpal sehingga tidak bisa terpecah), jadi lengket,” jelasnya.
Rohmat berharap, atas kerja kerasnya itu bau sengit yang ditimbulkan dari TPA Troketon dapat sedikit berkurang walaupun tak bisa hilang sepenuhnya. Tak hanya untuk masyarakat sekitar, tapi juga orang-orang yang mencari kehidupan di TPA Troketon.
“Dulu ya bau banget, tapi sekarang rasanya kok nggak. Mungkin karena saya juga sudah terbiasa. Namanya sampah juga pasti bau,” kata Jumirah yang sudah 4 tahun bekerja menjadi pemulung di TPA Troketon, Klaten.
Menjinakkan lindi dari sampah residu Klaten
Tak hanya upaya sanitary landfill, Penanggung Jawab TPA Troketon, Harjono berujar pemerintah Kabupaten Klaten rencananya bakal bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri untuk pengolahan sampah berbasis teknologi di tahun 2027.
Harjono pun tak menampik, selain masalah bau, dirinya juga telah mendapat laporan dari warga soal lindi yang merembes ke saluran yang melewati permukiman, sehingga mencemari sumber air warga di dua desa.
“Air lindi itu memang nggak boleh keluar. Hanya berputar di lingkungan TPA Troketon, terutama saat hujan karena berpotensi meluap,” ujar Harjono.
Masalahnya tak berhenti sampai di situ, Harjono menjelaskan embung di TPA Troketon yang digunakan untuk menampung lindi yang bercampur dengan air hujan, posisinya lebih tinggi dari akses jalan. Maka ketika hujan, air embung bakal meluap ke jalan sehingga sulit untuk dilintasi.
Dia pun khawatir, jika kondisi itu dibiarkan dapat berdampak serius terhadap lingkungan, kesehatan warga, dan penurunan pendapatan warga yang terdampak.
Mempercepat operasi IPAL di TPA Troketon, Klaten
Setelah mendapat arahan langsung dari Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Harjono langsung mempercepat operasi IPAL yang sudah dibangun sejak tahun 2025.
“Kami sudah bekerja sama dengan dinas dan PT AMAKA untuk melakukan uji lab air. Dari yang warnanya dulu pekat dan bau luar biasa, sekarang airnya mulai bersih,” jelas Harjono.
Tak perlu waktu lama, air lindi dari TPA Troketon pun sudah memenuhi standar baku mutu lingkungan. Air lindi yang dikelola dan diencerkan dengan baik, kata Harjono, bisa menjadi pupuk organik cair untuk irigasi petani. Bahkan rencananya, Harjono bakal menyulap kolam indikator yang sudah diolah, menjadi tempat tinggal ikan-ikan, selain sebagai tempat penampungan air bersih.
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengaku proses pengerjaannya memang sempat mundur sekitar tiga bulan. Hal itu karena kendala cuaca dan musim hujan ekstrem.
“Tapi sekarang, kolam penampungan dengan kapasitas output dari instalasi yang mencapai 65-75 meter kubik per jam ini sudah dioperasikan,” tegas Hamenang saat dikonfirmasi Mojok, Rabu (8/7/2026).
Gandeng UGM agar TPA Troketon, Klaten bebas bau
Selain penanganan lindi, Hamenang juga menggandeng peneliti dari UGM untuk menangani masalah sampah di TPA Troketon. Tim peneliti dari Fakultas Teknik UGM, Brilian Sadewo berujar telah mengubah pola lama menjadi sistem pengelolaan sampah yang lebih terpadu di TPA Troketon Klaten.
Sebelumnya, jelas Brilian, TPA hanya menjadi tempat penimbunan akhir yang menerapkan sistem ‘kumpul-angkut-buang’. Namun kali ini, polanya lebih diarahkan menjadi fasilitas pengolahan yang mampu memilah, mengolah sampah organik, memanfaatkan fraksi anorganik yang masih bernilai, serta mengurangi residu yang harus ditimbun.
“Yang perlu digarisbawahi, pengolahan sampah ini tidak bisa hanya mengandalkan satu teknologi,” tegas Brilian Sadewo saat dikonfirmasi Mojok, Selasa (28/7/2026).
Temuan peneliti UGM dan saran yang diberikan
Dalam temuannya, Brilian mengungkap bahwa sampah di TPA Troketon didominasi oleh sampah organik dengan kadar air yang tinggi, seperti sisa makanan, buah busuk, dan sayuran basah.
Sampah dengan karakteristik tersebut dapat memicu pembusukan anaerobik yang cepat, menghasilkan cairan lindi beracun, hingga menimbulkan bau menyengat yang mengundang lalat.
Guna mengatasi persoalan tersebut, timnya menyarankan agar petugas menerapkan sistem hybrid, yakni melakukan pengolahan organik melalui komposting atau stabilisasi biologis, yang kemudian dikombinasikan dengan teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF).
Singkatnya, hasil pengolahan sampah padat dari RDF ini dapat dijadikan bahan bakar alternatif pengganti batubara atau sebagai Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP), asal sudah memenuhi syarat.
“Setahu kami, tahap saat ini sudah ada kajian kelayakan yang arahnya soal penanganan, termasuk rekomendasi teknologi, kebutuhan pengendalian lingkungan, kelembagaan pengelola, serta roadmap implementasi,” jelas Brilian.
Dalam kajian kelayakan tersebut, Brilian Sadewo memastikan bahwa arahnya memang layak untuk dilanjutkan. Namun, detail soal kesiapan teknis, biaya pasti, dan performa fasilitas, baru dapat dipastikan setelah Detail Engineering Design (DED) dan pengujian teknis lanjutan final.
Bupati Klaten bolak-balik sidak ke TPA Troketon
Hamenang sendiri sudah bolak-balik sidak ke TPA Troketon Klaten dari bulan Mei hingga Juni ini, guna memantau proses penanganan lindi dan menggenjot pematangan proses pengelolaan sampah.
“Selanjutnya pemenang lelang akan mulai melakukan kegiatan pengurusan sampah. Tahun ini pengelolaan sampah di TPA Troketon ditargetkan bisa berjalan optimal,” jelasnya.
Hamenang tak menampik bahwa hasilnya tidak bisa didapatkan segera, karena harus melewati tahapan dan prosedur yang panjang, baik penanganan dari hulu hingga hilir. Meski begitu, dia memastikan agar program pengelolaan sampah dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Kami ingin sekali program dikerjakan, langsung jalan. Sehingga lambat laun sampah di TPA Troketon akan habis dan tidak ada bau lagi,” ucapnya.
Untuk mempercepat proses tersebut, Hamenang mengajak masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Troketon. Salah satu upaya kecil yang bisa dilakukan adalah memilah sampah rumah tangga secara mandiri.
“Sejatinya sampah dihasilkan oleh kita semua. Karena itu perlu gotong royong agar sampah organik bisa diselesaikan di masing-masing rumah tangga dan yang dibuang ke TPA hanya residu, yang benar-benar tidak bisa diolah lagi,” jelas Hamenang.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Bank Sampah yang Memberikan Kesempatan Kedua pada Sampah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan