Dalang dalam pewayangan sejatinya tak mengenal batas gender dan usia. Baik perempuan maupun laki-laki, yang masih kecil hingga orang tua, punya kesempatan yang sama untuk menekuninya. Misalnya, Azkiya Qolbi Cahya Sitaresmi (13) yang menjadi satu-satunya peserta perempuan dalam Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2026.
“Cewek kalau bisa mendalang itu menurut saya unik. Beda sendiri, karena selama ini kan rata-rata cowok ya,” kata Azkiya saat ditemui Mojok di Joglo Monumen Juang ‘45 Klaten pada Rabu (15/7/2026).
Terinspirasi dari sosok ayah yang juga dalang di Klaten
Ketertarikan Azkiya terhadap dunia pewayangan tak terlepas dari latar belakang sang ayah, Tri Harni Sugondo (63) yang juga dalang, walaupun profesi utamanya adalah polisi. Dari dulu, Tri memang berharap, setidaknya ada satu dari lima orang anaknya yang meneruskan jejaknya nanti untuk mendalang.
“Saya melihat dia punya bakat. Di bidang suara dia cepat nangkep, saya ajari sekali itu cerdas dan langsung bisa. Nah kalau nggak dilatih atau dibina, nanti bakatnya hilang,” kata Tri kepada Mojok di Joglo Monumen Juang ‘45 Klaten pada Rabu (15/7/2026).
Tri tak menampik ada tantangan tersendiri dalam menumbuhkan minat pewayangan ke anak-anaknya, terutama di era digital seperti sekarang. Padahal, cerita wayang mengandung banyak pesan filosofis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Wayang itu luar biasa. Di situ ada contoh-contoh yang buruk dan jahat. Ada pula contoh baik dan benar. Tokoh yang bijaksana, tokoh yang penuh humor, semuanya ada. Jadi, ada banyak teladan yang sebenarnya bisa dipelajari oleh anak-anak,” jelasnya.
Untuk membujuk Azkiya ikut lomba, Tri memberi pemahaman kepada anak bungsunya itu bahwa wayang adalah permainan yang menyenangkan. Hitung-hitung, dia bisa menghibur teman-temannya lewat wayang.
“Harapannya, wayang dapat dicintai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa,” tegas Tri.
Giat berlatih hingga jadi juara di Klaten
Dengan pendekatan yang lembut, Tri berhasil membujuk Azkiya tampil dan mengikuti Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2025 untuk pertama kalinya. Tahun ini, Azkiya mencoba lagi dengan menampilkan penggalan lakon Aji Narantaka serupa, yakni Gatotkaca sebagai ksatria sakti dengan julukan otot kawat tulang besi.
Sebagai dalang muda, Azkiya harus menguasai banyak peran sekaligus, mulai dari sutradara, penembang, dan penghibur. Selain membutuhkan wawasan luas tentang sejarah dan budaya, Azkiya juga harus mampu menghidupkan benda mati.
Oleh karena itu, walaupun sudah pernah menampilkan penggalan lakon yang sama, Azkiya tetap merasa perlu berlatih. Dengan latihan yang dilakukan terus berulang, Azkiya berharap kemampuannya bisa meningkat.
“Awalnya aku melihat ayah mendalang, terus aku ikutin. Nah, sulitnya itu di bagian Gatotkaca perang sama Prabu Kala Pracona. Terutama waktu Gatotkaca mengeluarkan kekuatannya,” kata Azkiya.
Namun Azkiya yakin atas latihan keras dan pengalamannya lomba selama 2 tahun .terakhir. Dia pun merasa puas dengan penampilannya di Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2026 lalu
Bocah perempuan asal Kecamatan Cawas, Klaten itu pun berhasil meraih Juara Harapan 1 di kategori B (usia 13-15 tahun) yang diikuti oleh 7 peserta. Sedangkan untuk kategori A (usia 8-12 tahun) diikuti oleh 8 peserta.
Gatotkaca, teladan bagi sang dalang perempuan
Lebih dari sekadar juara, bagi Azkiya pesan dari cerita Gatotkaca jauh lebih penting untuk dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Azkiya belajar dari sosok Gatotkaca yang tangguh.
“Saya suka sama Gatotkaca karena dia adalah anak Werkudoro (Bimasena) yang terkenal paling kuat di antara pandawa. Jadi otomatis, anaknya pasti kuat. Jadi saya tertarik buat belajar dan menampilkan lakon Gatotkaca,” ucap perempuan asal Kecamatan Cawas, Klaten itu.
Dalam cerita pewayangan sendiri, Gatotkaca dikenal sebagai pembela utama kerajaan Amarta, pelindung kahyangan dari para raksasa, serta raja di Kerajaan Pringgadani. Hal itulah yang membuat Azkiya kagum dengan sosok Gatotkaca.
Menjaga warisan dalang di Klaten
Ketua Penyelenggara Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2026, Ki Hary Sembung menegaskan bahwa wayang sejatinya tidak mengenal gender. Siapapun yang menyukai wayang, kata dia, bisa untuk mendalang asal mau belajar dan tidak cepat bosan.
“Kami tidak membatasi gender. Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) telah membuat standar nasional seperti syarat usia peserta,” jelas Hary.
Hary berharap adanya Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2026 yang diadakan secara dapat menjadi pengingat warga Klaten, khususnya anak-anak bahwa tanah kelahiran mereka sejatinya dijuluki sebagai Kota Dalang. Tempat lahirnya maestro dalang legendaris dan terbanyak di Tanah Air, salah satunya Ki Narto Sabdo.
“Lomba ini diadakan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya kita sendiri agar tidak tergerus oleh tantangan zaman. Kami tumbuhkan sejak dini supaya kalau sudah dewasa, kegemarannya berubah ke arah yang positif,” jelas Hary.
Hary menjelaskan, bagi peserta yang juara dalam Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2026, nantinya akan dikirim sebagai perwakilan ke tingkat provinsi dan harapannya bisa lanjut ke tingkat nasional.
“Harapan saya, lomba ini dapat menjadi ajang untuk memotivasi mereka lebih giat lagi dalam berlatih hingga menjadi dalang profesional. Jadi, tidak berhenti sampai lomba saja, tapi setelahnya mereka bisa terus mengasah diri dan berkreativitas,” pesan Hary.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Di Balik Pagelaran Wayang 20 Jam Nonstop: Menaklukkan Angin, Hujan, dan 40 Kepala Manusia di Atap Mal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan