Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Eksplor

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
22 Juli 2026
A A
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

ilustrasi - Azkiya (13) terinspirasi dari sang ayah yang menyukai wayang. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalang dalam pewayangan sejatinya tak mengenal batas gender dan usia. Baik perempuan maupun laki-laki, yang masih kecil hingga orang tua, punya kesempatan yang sama untuk menekuninya. Misalnya, Azkiya Qolbi Cahya Sitaresmi (13) yang menjadi satu-satunya peserta perempuan dalam Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2026.

“Cewek kalau bisa mendalang itu menurut saya unik. Beda sendiri, karena selama ini kan rata-rata cowok ya,” kata Azkiya saat ditemui Mojok di Joglo Monumen Juang ‘45 Klaten pada Rabu (15/7/2026).

Iklan

Terinspirasi dari sosok ayah yang juga dalang di Klaten

Ketertarikan Azkiya terhadap dunia pewayangan tak terlepas dari latar belakang sang ayah, Tri Harni Sugondo (63) yang juga dalang, walaupun profesi utamanya adalah polisi. Dari dulu, Tri memang berharap, setidaknya ada satu dari lima orang anaknya yang meneruskan jejaknya nanti untuk mendalang.

“Saya melihat dia punya bakat. Di bidang suara dia cepat nangkep, saya ajari sekali itu cerdas dan langsung bisa. Nah kalau nggak dilatih atau dibina, nanti bakatnya hilang,” kata Tri kepada Mojok di Joglo Monumen Juang ‘45 Klaten pada Rabu (15/7/2026).

Tri tak menampik ada tantangan tersendiri dalam menumbuhkan minat pewayangan ke anak-anaknya, terutama di era digital seperti sekarang. Padahal, cerita wayang mengandung banyak pesan filosofis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Azkiya dan ayahnya. MOJOK.CO
Azkiya (13) dan ayahnya Tri Harni Sugondo (63). (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Wayang itu luar biasa. Di situ ada contoh-contoh yang buruk dan jahat. Ada pula contoh baik dan benar. Tokoh yang bijaksana, tokoh yang penuh humor, semuanya ada. Jadi, ada banyak teladan yang sebenarnya bisa dipelajari oleh anak-anak,” jelasnya.

Untuk membujuk Azkiya ikut lomba, Tri memberi pemahaman kepada anak bungsunya itu bahwa wayang adalah permainan yang menyenangkan. Hitung-hitung, dia bisa menghibur teman-temannya lewat wayang.

“Harapannya, wayang dapat dicintai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa,” tegas Tri.

Giat berlatih hingga jadi juara di Klaten

Dengan pendekatan yang lembut, Tri berhasil membujuk Azkiya tampil dan mengikuti Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2025 untuk pertama kalinya. Tahun ini, Azkiya mencoba lagi dengan menampilkan penggalan lakon Aji Narantaka serupa, yakni Gatotkaca sebagai ksatria sakti dengan julukan otot kawat tulang besi.

Sebagai dalang muda, Azkiya harus menguasai banyak peran sekaligus, mulai dari sutradara, penembang, dan penghibur. Selain membutuhkan wawasan luas tentang sejarah dan budaya, Azkiya juga harus mampu menghidupkan benda mati. 

Oleh karena itu, walaupun sudah pernah menampilkan penggalan lakon yang sama, Azkiya tetap merasa perlu berlatih. Dengan latihan yang dilakukan terus berulang, Azkiya berharap kemampuannya bisa meningkat.

Dalang anak. MOJOK.CO
Seorang dalang anak bermain wayang. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Awalnya aku melihat ayah mendalang, terus aku ikutin. Nah, sulitnya itu di bagian Gatotkaca perang sama Prabu Kala Pracona. Terutama waktu Gatotkaca mengeluarkan kekuatannya,” kata Azkiya. 

Namun Azkiya yakin atas latihan keras dan pengalamannya lomba selama 2 tahun .terakhir. Dia pun merasa puas dengan penampilannya di Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2026 lalu

Bocah perempuan asal Kecamatan Cawas, Klaten itu pun berhasil meraih Juara Harapan 1 di kategori B (usia 13-15 tahun) yang diikuti oleh 7 peserta. Sedangkan untuk kategori A (usia 8-12 tahun) diikuti oleh 8 peserta.

Iklan

Gatotkaca, teladan bagi sang dalang perempuan

Lebih dari sekadar juara, bagi Azkiya pesan dari cerita Gatotkaca jauh lebih penting untuk dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Azkiya belajar dari sosok Gatotkaca yang tangguh.

“Saya suka sama Gatotkaca karena dia adalah anak Werkudoro (Bimasena) yang terkenal paling kuat di antara pandawa. Jadi otomatis, anaknya pasti kuat. Jadi saya tertarik buat belajar dan menampilkan lakon Gatotkaca,” ucap perempuan asal Kecamatan Cawas, Klaten itu.

Dalam cerita pewayangan sendiri, Gatotkaca dikenal sebagai pembela utama kerajaan Amarta, pelindung kahyangan dari para raksasa, serta raja di Kerajaan Pringgadani. Hal itulah yang membuat Azkiya kagum dengan sosok Gatotkaca. 

Menjaga warisan dalang di Klaten 

Wayang untuk semua gender dan usia. MOJOK.CO
Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) telah membuat standar nasional seperti syarat usia peserta lomba dalang anak. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Ketua Penyelenggara Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2026, Ki Hary Sembung menegaskan bahwa wayang sejatinya tidak mengenal gender. Siapapun yang menyukai wayang, kata dia, bisa untuk mendalang asal mau belajar dan tidak cepat bosan.

“Kami tidak membatasi gender. Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) telah membuat standar nasional seperti syarat usia peserta,” jelas Hary.

Hary berharap adanya Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2026 yang diadakan secara dapat menjadi pengingat warga Klaten, khususnya anak-anak bahwa tanah kelahiran mereka sejatinya dijuluki sebagai Kota Dalang. Tempat lahirnya maestro dalang legendaris dan terbanyak di Tanah Air, salah satunya Ki Narto Sabdo.

“Lomba ini diadakan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya kita sendiri agar tidak tergerus oleh tantangan zaman. Kami tumbuhkan sejak dini supaya kalau sudah dewasa, kegemarannya berubah ke arah yang positif,” jelas Hary.

Hary menjelaskan, bagi peserta yang juara dalam Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten 2026, nantinya akan dikirim sebagai perwakilan ke tingkat provinsi dan harapannya bisa lanjut ke tingkat nasional. 

“Harapan saya, lomba ini dapat menjadi ajang untuk memotivasi mereka lebih giat lagi dalam berlatih hingga menjadi dalang profesional. Jadi, tidak berhenti sampai lomba saja, tapi setelahnya mereka bisa terus mengasah diri dan berkreativitas,” pesan Hary. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Di Balik Pagelaran Wayang 20 Jam Nonstop: Menaklukkan Angin, Hujan, dan 40 Kepala Manusia di Atap Mal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Juli 2026 oleh

Tags: dalangdalang anakdalang perempuanfilosofi wayangklatenlomba dalanglomba dalang anakPendidikan KarakterWayang
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten dan dirikan KOMSAH. MOJOK.CO
Sosok

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.