Brand clothing independen asal Yogyakarta, Starcross, merilis koleksi pakaian eksklusif bersama warung tenda legendaris Gudeg Bromo Bu Tekluk. Kolaborasi ini menjadi wujud perayaan paling jujur atas denyut nadi gaya hidup jalanan Yogyakarta yang sesungguhnya.
***
Sekitar tahun 2009, Jalan Gejayan belum seramai dan semacet hari ini. Di salah satu sudut trotoarnya, ketika malam mulai larut dan angin Yogyakarta terasa makin dingin, Weimpy Adhari punya satu kebiasaan yang pantang dilewatkan.
Pria yang akrab disapa Tebong ini sering menyusuri jalanan tersebut sepulang kerja hanya untuk menuntaskan hari di sebuah warung tenda sederhana: Gudeg Bromo Bu Tekluk.
Pada masa itu, kalau kata Tebong, warung makan ini masih sangat “indie”. Belum seviral dan seramai sekarang, antreannya pun belum mengular panjang hingga memakan bahu jalan.
Sambil menikmati sepiring nasi gudeg basah yang masih mengepul, krecek pedas, dan telur, Tebong kerap memperhatikan Bu Tekluk yang duduk menjaga periuk dagangannya.
“Dulu saya bahkan masih sering melihat ibu (Ibu Sumijo alias Bu Tekluk) nahan kantuk, sambil duduk. Kemudian ceria lagi kalau ada pembeli datang,” kisahnya saat ditemui Mojok, Kamis (3/9/2026).

Nostalgia di trotoar Gejayan inilah, yang belasan tahun kemudian, memantik sebuah proyek lintas industri yang tak pernah dibayangkan banyak orang. Starcross, salah satu raksasa streetwear lokal Yogyakarta yang dibangun oleh Tebong, secara resmi merilis koleksi pakaian eksklusif hasil kolaborasinya dengan Gudeg Bromo Bu Tekluk.
Gudeg Bromo, wujud paling jujur dari street lifestyle Yogyakarta
Ketika sebuah merek pakaian anak muda memutuskan untuk berkolaborasi dengan industri kuliner, biasanya pilihan paling aman dan lumrah jatuh pada makanan barat. Kita, barangkali, sering melihat banyak jenama merilis kaus bergambar burger, pizza, atau kedai kopi kekinian.
Namun, bagi tim Starcross, jalur itu terasa terlalu mainstream.
Tebong mengaku bahwa dirinya menginginkan sesuatu yang lebih raw, lebih tradisional, dan punya kedekatan emosi yang nyata dengan warga lokal. Pilihan akhirnya jatuh secara mutlak pada Gudeg Bromo.
“Jogja itu menyenangkan karena nostalgianya. Karena kenangannya. Saya rasa banyak orang memiliki kenangan dengan Gudeg Bromo, selain saya secara personal tentunya,” katanya.
Bagi Tebong, Gudeg Bromo adalah wujud paling jujur dari street lifestyle, gaya hidup jalanan Yogyakarta yang sesungguhnya. Di saat banyak warung gudeg legendaris lain mulai berdandan, mengubah diri menjadi restoran modern, membuka puluhan cabang, hingga masuk ke mal mewah, Gudeg Bromo memilih keras kepala.
Mereka menolak kompromi tersebut. Warung ini tetap setia pada akar aslinya, bertahan di pinggir jalan, beralaskan tikar, beratapkan tenda terpal, dan baru mulai hidup ketika tengah malam tiba.
Keaslian karakter inilah yang membuat irisan audiens kedua jenama ini berpotongan dengan sangat rapi. Anak-anak muda Yogyakarta yang sehari-hari nongkrong mengenakan kaus dan hoodie Starcross adalah orang-orang yang sama, yang rela duduk lesehan di trotoar Gejayan pada jam dua pagi demi sepiring gudeg.
“Kolaborasi ini, bagi saya, menjadi pertemuan antara dua elemen organik yang menghidupi jalanan Yogyakarta. Anak muda, dan gudeg di tengah malam.”

Fashionable, tanpa meninggalkan “rasa asli” Gudeg Bromo
Ide gila ini sebenarnya sudah mengendap di kepala Tebong sejak dua tahun lalu. Tim Starcross sengaja menyimpan gagasan tersebut rapat-rapat sembari menunggu momentum yang paling pas untuk mengeksekusinya.
Panggung Urban Sneaker Society (USS) Downtown Market Yogyakarta akhirnya dipilih sebagai waktu peluncuran yang paling tepat.
View this post on Instagram
Hebatnya, proses adu gagasan di dapur kreatif Starcross hanya memakan waktu tiga hari. Mereka mengeksekusi produksi kurang dari tiga minggu karena semuanya dikerjakan dengan pendekatan emosional yang kuat.
Dalam menerjemahkan estetika kuliner tradisional ke dalam bahasa fesyen anak muda, Starcross memilih jalan yang harafiah. Mereka tidak memaksakan desain agar terlihat futuristis.
Salah satu kaus dalam koleksi ini, misalnya, menampilkan foto hidangan gudeg secara blak-blakan.
Desain lainnya justru mengadaptasi gaya spanduk kain legendaris khas warung Bu Tekluk. Lengkap dengan tipografi lawas, nama warung, dan deretan nomor teleponnya, yang kemudian disablon apik ke atas kaus.
Koleksi terbatas ini memang dirancang sebagai collectible items yang fungsional. Lini produknya cukup lengkap, mulai dari kaus lengan pendek, kaus lengan panjang, topi, tas tote bag, stiker, hingga pin.
Jersei mancing bapak-bapak dan tas koin emak-emak
Namun, ada dua produk yang paling mencuri perhatian.
Pertama, Starcross merilis fishing jersey atau jersei mancing. Di saat merek lain sibuk merilis jersei sepak bola untuk keperluan, salah satunya blokecore, mereka justru memilih pakaian olahraga luar ruangan yang identik dengan gaya santai bapak-bapak di akar rumput.
“Meskipun jersei mancing bisa juga buat blokecore,” ujarnya Tebong sambil tertawa.
Kedua, mereka membuat sebuah pouch atau tas kecil yang bentuknya sangat familier. Desainnya terinspirasi langsung dari kantong koin kain yang sering dipakai pedagang pasar tradisional atau orang tua zaman dulu.

Kantong koin klasik tersebut dirombak total menggunakan warna-warna neon yang terang, menjadikannya aksesori kekinian yang sangat pas saat dikaitkan pada celana kargo.
“Desainnya kami bikin fashionable, tapi nostalgianya juga masih kuat.”
Mendefinisikan ulang cara orang luar memandang Jogja
Melalui proyek kolaborasi ini, Starcross sedang membawa misi yang jauh lebih tajam dari sekadar urusan jualan baju. Mereka ingin mendefinisikan ulang cara orang luar memandang Yogyakarta.
Selama ini, identitas kota selalu dikerdilkan menjadi sekadar Tugu, Jalan Malioboro, atau bakpia. Padahal, kehidupan malam yang berisik, berpeluh, dan penuh tawa di atas trotoar Gejayan bersama sepiring Gudeg Bromo adalah denyut nadi Yogyakarta yang sesungguhnya.
Itulah realita yang layak dirayakan dengan penuh kebanggaan.
“Bahkan, sekarang Gudeg Bromo sudah jadi identitas. Pembelinya bukan lagi mahasiswa atau warga asli yang pulang nongkrong. Banyak juga wisatawan yang juga datang ke sana,” kata Tebong.
Koleksi kolaborasi Starcross x Gudeg Bromo Bu Tekluk ini dirilis secara eksklusif dalam gelaran USS Downtown Market di Ambarrukmo Plaza mulai besok, 4 hingga 6 September 2026.
Tebong menegaskan, bahwa acara ini adalah sebuah kesempatan langka bagi anak muda untuk membawa pulang sepotong memori kehangatan jalanan Yogyakarta yang paling autentik.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Hormat dan Patuh pada Orang Tua, Kunci Nafas Panjang STARCROSS sebagai Brand Legend Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan