ADVERTISEMENT

Di Balik Rumah Elit Kampung Sondakan, Ada Perjuangan Warganya yang Tak Lelah Mencintai Indonesia

Suasana Kampung Sodakan di Laweyan, Solo. MOJOK.CO

Sondakan di Kecamatan Laweyan bukan sekadar permukiman yang dipenuhi rumah mewah juragan batik, kampung ini menjadi saksi bisu pelarian Pakubuwono II, kegigihan tokoh perempuan Mbok Mase, cikal bakal Sarekat Dagang Islam, hingga perjuangan warga Solo mempertahankan kemerdekaan. 

***

ADVERTISEMENT

Hampir setiap jengkal Solo menyimpan lapisan sejarah dan filosofi, sebab ia lahir dari reruntuhan Kerajaan Mataram Islam pada 1745, yakni peristiwa pemindahan kekuasaan dari Kartasura ke Desa Sala (Surakarta).

Dulu, Desa Sala merupakan desa kecil di dekat Sungai Bengawan Solo yang dipilih oleh Raja Kasunanan Surakarta, Pakubuwono II sebagai lokasi istana baru akibat hancurnya Keraton Kartasura usai peristiwa Geger Pecinan.

Peristiwa itu dikenal sebagai gabungan pemberontakan antara etnis Tionghoa dan Jawa untuk melawan VOC serta Pakubuwono II yang bersekutu dengannya. Pakubuwono II pun melakukan perjalanan pindah (Boyong Kedhaton) dengan melintasi wilayah Laweyan.

Salah satu wilayah yang dilintasinya adalah kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Sondakan. Di sinilah saya bersama 19 peserta dari Solo Wellness Famtrip 2026 menelusuri jejak sejarah Kota Solo. 

Meski begitu, Muhammad Aprianto selaku tour guide walking tour di Sondakan berujar Sondakan hanyalah satu di antara sejarah panjang Keraton Kasunan Surakarta. Lalu, apa yang menjadikan kampung ini menarik?

Kisah di balik Tembang Sinom Sondakan

Muhammad Aprianto. MOJOK.CO
Tour Guide, Muhammad Aprianto menjelaskan sejarah Kampung Sondakan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Minggu (1/11/2026) pagi, Apri memboyong kami ke sebuah monumen ikon Kampung Wisata Sondakan yang terletak di Kecamatan Laweyan, Solo. Dari kejauhan, kami sudah bisa melihat pola lingkaran yin dan yang yang diapit oleh pahatan dua telapak tangan.

Dalam filsafat Tionghoa kuno, Yin dan Yang menggambarkan dua kekuatan atau energi yang saling berlawanan tapi saling melengkapi untuk menciptakan keseimbangan. Hal ini menjadi simbol bagaimana akulturasi budaya antara tradisi masyarakat Jawa dan etnis Tionghoa di Kampung Sondakan saling terikat. 

Saat berjalan mendekati monumen tersebut, saya baru bisa melihat ukiran aksara Jawa di sisi kiri dan tulisan Latin di sisi kanannya yang tertuang pada sebuah marmer.

ADVERTISEMENT

“Ada yang bisa tembang macapat di sini?” tanya Apri disambut celingukan para peserta dari Jogja dan Solo, “dulu pernah belajar di sekolah ya, sekarang lupa,” lanjutnya memahami kebingungan kami.

Meskipun ada tulisan berbahasa latin, tetap saja kami masih tak tahu dengan makna Sinom Kampung Sondakan yang diceritakan dalam monumen tersebut. Apri akhirnya membacakan kalimatnya satu per satu sekaligus menceritakan peristiwa di baliknya.

Sosok Kyai Sondoko yang menjadi cikal bakal nama Kampung Sondakan

Makam Kyai Sondoko. MOJOK.CO
Makam Kyai Sondoko di Kampung Sondakan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Dikisahkan dalam tembang ini, Pakubuwono II bertemu dengan seorang bekel (kini lurah desa) bernama Kyai Sondoko Singoprodjo yang menjadi cikal bakal Kampung Sondakan ini,” jelas Apri.

Pada saat Geger Pecinan meluas ke Jawa Tengah, Pakubuwono II turut melarikan diri ke Laweyan dan sempat beristirahat di pohon pelem wulung yang ada di Kampung Sondakan. Kemudian, ia meminta abdi dalemnya untuk meminjam kuda ke para saudagar batik yang ada di sana.

Sayangnya, mereka semua menolak karena takut bisnisnya rugi jika diketahui membantu raja. Di tengah kemurkaan Pakubuwono II, muncullah Kyai Sondoko yang justru menyambut ia beserta pengikutnya dengan penuh hormat.

“Pakubuwono II dijamu dengan makan dan minum, bahkan dalam beberapa arsip sejarah juga disebutkan dia disuguhkan ‘degan’ atau kelapa muda hijau dan buah-buahan,” jelas Apri.

Tak hanya itu, Kyai Sondoko juga meminjamkan Pakubuwono II kuda sehingga akhirnya bisa lari ke Ponorogo. Karena jasanya tersebut, Pakubuwono II memberikannya tanah perdikan.

Rumah juragan batik di Solo. MOJOK.CO
Salah satu rumah pemilik pengusaha batik. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Dulu tanah ini milik dia sendiri ya, tapi sekarang sudah jadi perumahan, sekolah, bahkan hotel,” kata Apri.

Batik parang kesit yang menggambarkan sifat warga Solo

Lebih dari itu, Kampung Sondakan juga dikenal dengan jejak perjuangan pahlawan nasional KH Samanhudi yang juga merupakan saudagar batik, sekaligus pencetus Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada tahun 1905.

Sebelum SDI berdiri, Samanhudi sempat membentuk perkumpulan dagang dan sosial-keagamaan seperti Mardhi Budhi, serta kelompok dagang Rekso Roemekso untuk membela kepentingan pribumi.

Ia pun berhasil menyatukan para saudagar batik pribumi untuk melawan diskriminasi ekonomi, serta dominasi pedagang asing yang disokong oleh kebijakan kolonial. Karena daya geraknya yang masif, SDI yang kemudian bertransformasi menjadi Sarekat Islam (SI) sempat dibekukan sementara oleh residen Belanda. Sebab, mereka khawatir akan potensi pemberontakannya.

Selain Samanhudi, Kampung Sondakan juga ditinggali oleh tokoh-tokoh Mbok Mase–sebutan bagi juragan perempuan yang memiliki usaha batik. Mereka terkenal mampu memegang kendali atas manajemen bisnis, produksi, inovasi motif, serta pengelolaan keuangan. 

Rumah pebisnis batik di Kampung Sondakan. MOJOK.CO
Rumah pebisnis batik. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Maka tak heran jika melintas di wilayah Sondakan banyak sekali rumah-rumah mewah yang menjadi simbol kesuksesan pengusaha batik di sana. 

Namun di antara rumah-rumah itu, tak banyak yang menyadari ada sebuah prasasti untuk mengingat perjuangan warga saat menghadapi Agresi Militer II Belanda pada tahun 1949, atau kini dikenal dengan nama Serangan Umum Empat Hari di Surakarta (Solo).

Kawasan Sondakan sendiri menjadi salah satu titik pertahanan dan lokasi pertempuran paling sengit pada saat itu. Tak pelak, Kampung Sondakan kini disimbolkan dengan motif batik parang kesit.

Motif itu menggambarkan sifat warga Kampung Sondakan yang memiliki kepemimpinan kuat, ketajaman rasa dan pikiran, ketegasan, serta perjuangan hidup untuk mencari kebahagiaan lahir dan batin.

Melalui setiap lorong dan peninggalan prasastinya, Kampung Sondakan membuktikan bahwa sejarah besar Solo tidak hanya berpusat di keraton, melainkan juga diukir oleh keberanian warganya yang pantang menyerah hingga hari ini.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Dari “Rerimatan” di Keraton hingga Kuliner Sehat, Saya Menemukan Alasan Mengapa Solo Cocok untuk Kaum Urban atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 November 2026 oleh .
Artikel Advertorial

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.