Ironi Perempuan di Desa: Dihambat Tumbuh dan Maju karena Crab Mentality

Ilustrasi - Cerita Lola Nadiya Putri, peserta Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang mengangkat persoalan crab mentality yang menghambat perempuan desa di Nganjuk untuk tumbuh dan maju. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Ketika hendak keluar desa untuk melanjutkan pendidikan di kota, Lola Nadiya Putri justru mendapat reaksi yang terkesan “gembosi” dari orang-orang di desanya: buat apa sekolah tinggi-tinggi?

Di desa Lola di Nganjuk, Jawa Timur, perempuan berpendidikan tinggi atau berkarier bagus di kota bukanlah kelaziman. Sehingga, alih-alih mendapat dukungan, yang ada justru menerima cibiran. Yang namanya orang desa, seolah diharuskan hidup seadanya, tidak usah punya mimpi muluk-muluk.

“Perempuan-perempuan di desa saya menghadapi sebuah komunitas masyarakat dengan crab mentality,” ujar Lola, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan saya dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 di Badung, Bali, Kamis (25/6/2026). 

Istilah crab mentality memang baru populer belakangan. Namun substansinya telah lama dikaji dalam psikologi sosial melalui berbagai konsep seperti social comparison, conformity, dan norm enforcement.

Psikolog Leon Festinger dalam teorinya A Theory of Social Comparison Processes (Human Relations, 1954) menjelaskan bahwa individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Sehingga ketika ada seseorang yang dianggap “terlalu berhasil”, sebagian anggota kelompok dapat merasakan ancaman terhadap posisi sosialnya. Dari situ muncul kecenderungan menarik orang tersebut kembali agar tetap setara.

Lola Nadiya Putri, peserta Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang mengangkat persoalan crab mentality yang menghambat perempuan desa di Nganjuk untuk tumbuh dan maju MOJOK.CO
Lola Nadiya Putri, peserta Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang mengangkat persoalan crab mentality yang menghambat perempuan desa di Nganjuk untuk tumbuh dan maju. (Agung PW/Mojok.co)

Nasib perempuan di desa di tengah crab mentality, pabrik dan pelaminan jadi tujuan utama

Itulah kenapa tidak banyak perempuan dari desa Lola yang bisa setidaknya seperti Lola: melangkah di jalan yang ia pilih sendiri. Pilihan yang tersisa bagi perempuan desanya: kalau tidak kerja maka langsung menikah saja. 

Alhasil banyak perempuan, tidak terkecuali beberapa teman Lola sendiri, yang pendidikannya bahkan hanya mentok di SMP-SMA. Setelah itu, mereka bekerja di pabrik atau menikah. 

“Tapi apakah secara ekonomi mereka kurang untuk biaya kuliah? Nggak juga. Banyak warga punya aset (seperti sawah atau lahan tanah lain). Persoalannya, mereka sudah beranggapan kalau orang kuliah itu nanti semakin jauh dari desa (dalam arti apapun). Jadinya nggak rela menggunakan aset untuk menguliahkan anak,” beber mahasiswa semester 6 tersebut. 

Lola sendiri mengaku mengalami crab mentality dari orang-orang di desanya sejak SMP. Saat itu ia memang lebih memilih sekolah SMP agak ke kota. Karena ia merasa memerlukan sekolah dengan kualitas lebih bagus.  

“Itu udah banyak cemooh dari tetangga. Mereka tanya ke orang tua saya, kenapa sekolah aja harus jauh-jauh,” ungkap Lola. 

Crab mentality terhadap Lola semakin parah ketika ia akhirnya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi: mengambil Jurusan Teknik Perminyakan di UPN Yogyakarta, semakin jauh dari Nganjuk. Bahkan, keluarga Lola merasa mengalami pembatasan interaksi sosial, karena semakin sedikit orang yang mengajak berbincang. 

Data nasional memang menunjukkan bahwa persoalan putus sekolah perempuan memang masih menjadi tantangan, terutama di wilayah pedesaan. 

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Statistik Pendidikan 2024, angka partisipasi pendidikan pada jenjang perguruan tinggi masih jauh lebih rendah dibanding pendidikan dasar dan menengah, dengan kesenjangan yang lebih besar pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah dan wilayah pedesaan.

Laporan UNESCO Global Education Monitoring Report pun mengonfirmasi bahwa keputusan perempuan untuk tidak melanjutkan pendidikan seringkali dipengaruhi bukan oleh kemampuan akademik, melainkan oleh ekspektasi keluarga, beban domestik, perkawinan dini, dan keterbatasan dukungan sosial.

Lola Nadiya Putri, peserta Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang mengangkat persoalan crab mentality yang menghambat perempuan desa di Nganjuk untuk tumbuh dan maju. (Aly Reza/Mojok.co)

Mencari solusi para perempuan desa yang langkahnya terhambat crab mentality

Ironisnya, menurut Lola, ada beberapa perempuan di desanya yang sebenarnya tidak menginginkan situasi demikian: misalnya selesai sekolah kemudian harus mengurus rumah, anak, dan suami. Situasi yang memaksa mereka mengubur banyak mimpi. 

Perempuan di desa memang terjebak dalam beberapa lapis persoalan sosial. Harus hidup dalam sistem patriarki yang mengerdilkan posisi perempuan. Dipertebal dengan fenomena crab mentality yang semakin menyempitkan ruang perempuan desa untuk menjadi lebih berdaya. 

Maka, meski tengah dikejar banyak tumpukan tugas kuliah, di indekosnya di Jogja, energinya untuk merumuskan masalah tersebut dan mencari solusinya terus menyala meski sudah lewat tengah malam.

Gagasan-gagasan Lola untuk membuka paradigma warga desanya yang punya kecenderungan crab mentality tersebut ia tuangkan dalam esai berjudul Dilema Crab Mentality: Si Gendhuk Terlalu Bersinar untuk Desanya, Terlalu Redup untuk Dunia. 

Saat presentasi dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 di Badung, Bali, esai Lola menjadi salah satu yang memikat Najwa Shihab di kursi dewan juri. “Saya menikmatinya, karena menjadi representasi perempuan yang punya cita-cita besar untuk berdaya,” begitu komentar Najwa yang tentu saja membuat hatinya bungah. 

“Saya ingin ada edukasi terhadap masyarakat untuk mengikis crab mentality,” ujar Lola. “Sistem sosialnya harus diperbaiki.” Karena bagi Lola, program pemberdayaan yang hanya berfokus pada individu perempuan akan terus menghadapi kebocoran struktural selama lingkungan sosialnya tidak ikut berubah. 

Lola pernah menerima curhatan dari teman dekatnya di desanya di Nganjuk. Seseorang yang, menurut Lola, punya potensi besar, tapi mimpinya untuk kuliah nyaris terhalang karena situasi sosial yang sudah kadung mengakar di desa. 

“Saya kasih masukan ke ibunya, ibunya terus curhat ke ibu saya. Ibu saya ngasih masukan. Dan ternyata itu cukup berhasil membuka paradigma orang tuanya. Temanku akhirnya diperbolehkan untuk kuliah,” kata Lola dengan senyum mengembang. Memang baru satu perubahan kecil, akan tetapi ia percaya gagasannya itu kelak akan membuat sebuah perubahan besar di desanya di Nganjuk. 

Gagasan harus diungkapkan untuk didengar

Bagi Lola, Essay Contest Beswan Djarum bukan sekadar kompetisi menulis esai. Tetapi menjadi ruang bagi Gen Z untuk mengungkapkan keresahan dan gagasannya. Apalagi jika gagasan tersebut lahir dari rasa peduli terhadap sesama. 

“Saya menulis esai ini, saya presentasikan di hadapan banyak orang di sini, saya berharap nantinya bisa menumbuhkan kesadaran bersama dan menjadi inspirasi,” jujur Lola. 

Dalam prosesnya di Essay Contest Beswan Djarum, Lola tidak hanya belajar menulis. Tapi terutama adalah belajar bagaimana mengolah keresahan menjadi sebuah gagasan untuk kemudian menemukan solusi konkret atas persoalan nyata sehari-hari. 

Tidak berhenti di situ, gagasan juga harus diungkapkan. Lola pun mengaku akhirnya belajar gaya lain public speaking: narrative speaking, menyampaikan gagasan dengan model bercerita, sehingga lebih mudah diterima alih-alih menggurui. Tidak sekaku seperti presentasi di ruang kelas pula, alias ngalir aja. 

Lola masih semester 6. Masih akan melalui KKN dan skripsi sebelum lulus kuliah. Namun, ia sudah punya bayangan kelak ia harus kembali desanya di Nganjuk, dalam arti harus bisa menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan muda di desa agar tetap merawat mimpinya. 

Essay Contest Beswan Djarum: saluran mengungkapkan keresahan dan memupuk rasa peduli

Selain Lola, ada 15 Beswan Djarum yang mempresentasikan esainya di Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 di Badung, Bali. Sebagian besar berangkat dari keprihatinan atas situasi tidak ideal yang mereka dapati bahkan alami sehari-hari. 

“Kami pengin melengkapi apa yang sudah didapatkan teman-teman Beswan Djarum di bangku kuliah, yaitu knowledge. Kami ingin melengkapinya dengan cara berpikir (critical thinking, creative thinking, dan computational thinking,” beber Program Manager Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Abraham D. Oktaviari. 

Tapi, lanjut Abraham, tidak cukup kalau anak-anak muda hanya punya bekal kecerdasan intelektual saja, tapi juga harus memiliki kecerdasan emosional. Maka compassion (welas asih/rasa peduli) menjadi satu hal yang juga ditanamkan kepada anak-anak muda Beswan Djarum. 

Abraham D Oktaviari, Program Manager Bakti Lingkungan Djarum Foundation menyebut, menulis esai menjadi life skill yang menunjang karier anak muda di dunia kerja. (Aly Reza/Mojok.co)

“Jangan sampai mereka menjadi pribadi yang cuek, acuh terhadap persoalan di sekitarnya. Mereka harus terpantik untuk ikut mencari solusinya,” sambung Abraham. 

Abraham juga menegaskan, esai para finalis Essay Contest Beswan Djarum 2026 tidak akan berakhir sebagai tumpukan file nganggur belaka. Esai-esai tersebut akan dipublikasikan agar gagasan-gagasan mereka bisa ditangkap publik secara lebih luas untuk memancing aksi nyata. 

“Ini bisa bisa menjadi diskusi publik, bahwa ini ada masalah, loh. Publik terpancing, ayo diselesaikan bersama sama,” tutur Abraham. ***(Adv)

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Menulis Esai Jadi Bekal Karier Anak Muda, Beri Ragam Soft Skills Vital yang Dicari Dunia Kerja Profesional atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version