Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

Ilustrasi - Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Apem ya qowiyyu—kue tradisional khas Jatinom, Klaten—diperkirakan sudah berusia 400 tahun. Kue tersebut bukan semata warisan dalam khazanah kuliner nusantara. Lebih dari itu, menjadi simbol warisan kesalehan sosial dan praktik Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

***

Sebagaimana sudah berlangsung bertahun-tahun, setiap minggu kedua di bulan Safar masyarakat Jatinom, Klaten, menggelar tradisi Sedekah Apem Ya Qowiyyu. Puluhan ribu apem khas Jatinom akan disebar dan diperebutkan ribuan masyarakat dengan tujuan mendapat berkah dari “kue berkah” tersebut. 

Sejak pukul 10.00 pagi pada Jumat (31/7/2026), tanah lapang Siti Hinggil Oro-oro Sendang Klampeyan (lokasi Sedekah Apem Ya Qowiyyu) sudah dipadati lautan manusia. Padahal acara baru akan dimulai pada pukul 13.00 siang. Siang itu, ada dua gunungan apem ya qowiyyu dengan total 65.000 buah yang akan dibagikan. 

Dan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, antusiasme masyarakat begitu besar kala puluhan ribu apem tersebut digebyah. Masyarakat percaya bahwa apem-apem tersebut mengandung berkah. 

Lebih dari itu, apem ya qowiyyu sejatinya bukan hanya kue tradisional yang dipercaya mengandung berkah tak kasat. Kue khas Jatinom, Klaten, tersebut juga merupakan simbolisasi nilai dakwah Islam dari Kiai Ageng Gribig sebagai sosok penyebar Islam di kawasan tersebut. 

Ribuan orang memadati Jatinom, Klaten, dalam perayaan Sedekah Apem Ya Qowiyyu MOJOK.CO
Ribuan orang memadati Jatinom, Klaten, dalam perayaan Sedekah Apem Ya Qowiyyu. (Aly Reza/Mojok.co)

Apem ya qowiyyu: kue khas Jatinom Klaten yang sudah berusia 400 tahun

Dihitung sejak pertama kali Kiai Ageng Gribig bersedekah apem kepada masyarakat Jatinom, Klaten, sembari melantunkan doa “Ya qowiyyu… (dan seterusnya)”, tahun 2026 ini tradisi Sedekah Apem Ya Qowiyyu sudah berusia 400 tahun lebih. 

Menurut penjelasan Muhammad Daryanta selaku Ketua Dewan Pembina Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG), waktu permulaan sedekah apem yang dilakukan Kiai Ageng Gribig terjadi dengan kode sengkalan (penanda waktu Jawa dalam bentuk rangkaian kata): Ratu suci tataning jagat, yang berarti 1541 Saka atau 1619 Masehi. 

“Sebagai pewaris dan penerus dakwah Kiai Ageng Gribig, kita terus pertahankan andum (sedekah) apem ya qowiyyu,” ujar Daryanta. 

Prosesi Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten, yang diikuti ribuah orang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Apem ya qowiyyu: antara berserah pada Allah dan ikhtiar manusia

Semasa hidup Kiai Ageng Gribig mengudar nilai-nilai Islam dalam bentuk nasihat Jawa yang mudah dimengerti oleh masyarakat. 

Pada detik-detik sebelum gunungan apem digebyah ke lautan manusia, Daryanta yang didapuk merekonstruksi sosok Kiai Ageng Gribig membeberkan nasihat-nasihat Jawa di hadapan ribuah masyarakat yang berkumpul di oro-oro: 

Kuatno gegujengan marang agamamu (Berpegang kuatlah pada agamamu)

Jaganen ibadahmu (Jagalah ibadahmu)

Donga lan ikhtiaro golek rezekine Allah (Berdoa dan berikhtiarlah mencari rezeki Allah)

Ridho lan nampa apa wae sing dari sedekah (Ridho dan terimalah setiap pemberian)

Gunungan apem dalam Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten. (Aly Reza/Mojok.co)

Melalui nasihat-nasihat tersebut, Daryanta—yang merekonstruksi sosok Kiai Ageng Gribig—mengajak masyarakat Jatinom, Klaten, untuk menyadari posisi sebagai hamba Allah Swt. 

Sebagai hamba, sudah sepatutnya menjadikan tuntunan agama (Islam) sebagai panduan hidup sehari-hari. Sudah seharusnya pula menjaga ibadah untuk menghamba dan mendekat kepada Allah Swt. 

Termasuk dalam perkara mencari rezeki. Seorang hamba memang sepatutnya bergantung dan mengandalkan kuasa Allah Swt, melalui doa. Tapi di samping itu juga harus berikhtiar semampu-mampunya. Sisanya adalah keridhoan menerima setiap pemberian dari-Nya. 

Ingaluhur ingarsa trustaning Gusti. Setinggi apapun ilmu atau pencapaian, harus didasari pada kerendahan da tawakal di hadapan Allah Swt. Sebuah pesan yang digemakan dalam puncak perayaan Sedekah Apem Ya Qowiyyu siang itu. 

Prosesi Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten, yang diikuti ribuan orang. (Aly Reza/Mojok.co)

Kesalehan sosial yang diwarisi masyarakat Jatinom Klaten

Selain persoalan kesalehan spiritual di atas, tradisi Sedekah Apem Ya Qowiyyu juga merupakan warisan kesalehan sosial bagi masyarakat Jatinom, Klaten. 

Sedekah apem yang dilakukan Kiai Ageng Gribig 400-an tahun lampau adalah simbol bagaimana semestinya masyarakat memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungannya: melalui kebiasaan berbagi. Bagian ini memang terejawantah dalam kehidupan masyarakat setempat. 

Salah satu contohnya adalah dari warung apem Bu Suti yang saya hampiri sebelum detik-detik puncak acara Sedekah Apem Ya Qowiyyu dimulai. 

Suti (50-an) bercerita, setiap Saparan (perayaan Sedekah Ya Qowiyyu di tiap bulan Safar), masyarakat tidak hanya ramai-ramai membuat kue apem untuk dijual. Tapi juga menyediakan khusus untuk disetorkan ke Yayasan P3KAG untuk dijadikan gunungan yang bakal disedekahkan. 

“Karena secara filosofis, tradisi ini kan mencari berkah dan sedekah, berbagi ke sesama seperti teladan dari pendahulu,” ungkap Suti. 

Suti juga punya kebiasaan membolehkan para pengunjung acara untuk mencicipi apem buatannya. Jadi sebelum membeli kue apem di warungnya, para pengunjung bisa sekadar icip. Sebutir, dua butir. Kalau toh nantinya tidak jadi membeli, tidak masalah. 

“Saya niatkan itu sebagai suguhan. Para pendatang ini kan ibarat tamu, sebagai tuan rumah, saya memberi suguhan (berupa kebolehan mencicipi kue apem buatan warungnya),” tutur perempuan yang sudah jualan apem ya qowiyyu sejak 2015 itu. Apa yang Suti lakukan tersebut adalah manifestasi dari salah satu bentuk kesalehan sosial dalam Islam: hurmati dhuyuf (menghormati tamu). 

“Kalau di warung saya, kalau nawar harga, nggak boleh. Tapi kalau mau icip dulu, saya persilakan,” sambungnya. 

Masyarakat berebut berkah dari sebaran kue apem ya qowiyyu. (Aly Reza/Mojok.co)

Praktik hidup ala Al-Qur’an

Apem ya Qowiyyu pun menjadi simbolisasi bagaimana Al-Qur’an sebagai gujengan agama mengejawantah dalam masyarakat. Setidaknya begitu yang dipaparkan Rika Alimah dkk dalam penelitian berjudul, “Tradisi Sebaran Apem Yaqowiyyu Warisan Kyai Ageng Gribig Perspektif Living Quran Di Jatinom Klaten”. 

Dalam penelitian tersebut dipaparkan, apem memang memiliki banyak makna dalam konteks budaya Islam Jawa. Apem konon merupakan saduran dari kata Arab “afwun” yang berarti pengampunan atau pembersihan diri. Dan salah satu cara membersihkan diri tersebut adalah melalui melepaskan ikatan materi duniawi melalui proses sedekah. 

“Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan dan kebersamaan, sedangkan teksturnya yang halus dan halus menyampaikan kelembutan dan harapan akan belas kasihan Ilahi,” tulis Rika dkk. 

Lebih lanjut, dari kajian yang digali Rika dkk, apem ya qowiyyu menunjukkan dengan jelas bagaimana konsep Al-Qur’an termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tradisi Sedekah Apem Ya Qowiyyu memuat prinsip-prinsip Al-Qur’an tentang kekuatan (quwwah/qowiyyun), kemurahan hati (infāq), persatuan (ukhuwwah), dan rasa syukur. 

Karena tradisi ini berlangsung dengan landasan sebagaimana nasihat-nasihat yang dipaparkan oleh Daryanta sebelumnya: pengakuan sebagai hamba yang tidak berdaya tanpa kekuatan dari Allah, kesalehan sosial dalam bentuk kegemaran berbagi dengan sesama, ikatan persaudaraan berwujud budaya gotong royong masyarakat setempat, dan dorongan untuk bersyukur atas setiap pemberian dari Allah Swt. 

Berada di tengah-tengah lautan manusia yang berebut berkah apem pada Jumat (31/7/2026) siang itu, saya menyaksikan bagaimana masyarakat Jatinom, Klaten, menyikapi sebutir kue apem tidak hanya sekadar kuliner kuna. Tapi merupakan warisan dengan nilai-nilai besar yang terus ingin dijaga, baik secara simbolis maupun ikhtiar mengejawantahkannya dalam kehidupan sosial-spiritual sehari-hari. ***(Adv)

BACA JUGA: Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version