Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Memperjuangkan beasiswa adalah satu usaha keras. Namun, hal lain yang berkaitan dengan beasiswa ini adalah kesadaran diri atas nilai yang perlu disoroti dalam aplikasinya. Menyadari ini, tidak pernah mudah, termasuk bagi mereka yang telah terbiasa dalam kondisi secukupnya. Jangankan membayangkan lolos beasiswa LPDP, bisa melanjutkan S2 di UGM Jogja saja masih terasa tidak nyata.

Begitulah setidaknya yang dirasakan Agustin (26) sebagai penerima beasiswa prasejahtera LPDP yang sedang melanjutkan studinya di Jogja.

Berasal dari keluarga kurang mampu di Ngawi

Agustin bercerita bahwa, dirinya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Bukan hanya itu, ia menyebut secara khusus bahwa dirinya bisa hidup karena belas kasih orang-orang di sekitarnya.

Berkat keluarga dan tetangga yang peduli, perempuan asal Ngawi, Jawa Timur, ini bisa tumbuh besar sampai hari ini.

Baginya, bantuan ini adalah kontribusi yang akan selalu diingatnya. “Latar belakangku memang berasal dari keluarga yang kurang mampu, dan aku tumbuh besar dari belas kasih, dari uluran tangan orang-orang di sekitar saya,” katanya, Minggu (22/2/2026).

Dari situlah, Agustin mengakui telah terbiasa dengan hidup yang dicukupkan. Ia terbilang hemat dan bisa mengelola keuangan yang terbatas. Sebab bagaimanapun, inilah caranya bertahan.

Maka dari itu juga, melanjutkan S2 tidak ada dalam rencana awalnya. 

Tidak terlalu berharap LPDP, terbiasa hidup secukupnya

Semasa sekolah, Agustin sebenarnya tidak asing dengan beasiswa. Ia mendapatkan Bantuan Siswa Miskin (BSM) untuk dapat bersekolah sedari SD sampai SMA di Ngawi.

“Dari SD, SMP, SMA, dapat yang namanya BSM atau Bantuan Siswa Miskin. Jadi, untuk bayar SPP, untuk beli peralatan sekolah ya dari BSM itu,” katanya.

Biaya itu, yang saat ini berganti nama program menjadi Program Indonesia Pintar (PIP) memberikan biaya pendidikan berkisar Rp900 ribu sampai Rp1,8 juta tergantung jenjang sekolahnya.

Namun yang pasti, uang tersebut diberikan dalam periode satu tahun sekali. Artinya, Agustin harus meneruskan kebiasaan yang sudah dipelajarinya sedari kecil, yakni berusaha mencukupkan pengeluarannya.

Untuk bertahan hidup pun, Agustin mengatakan, dirinya juga dibantu oleh guru yang mengizinkannya untuk tinggal sebab jarak rumahnya yang jauh dari sekolah. Karena ini juga, ia bisa menghemat biaya makan.

“Waktu SMA juga aku terbantu karena dipasok oleh guruku. Jadi, tinggal sama guruku untuk makan dan lain-lain difasilitasi karena kebetulan SMA-nya dari rumah lumayan jauh,” katanya.

Hidup “lebih” sederhana setelah kuliah

Setelah lulus dari sekolah, Agustin melanjutkan pendidikannya ke UIN Salatiga. Biaya kuliahnya ditanggung bidikmisi, tetapi biaya hidupnya adalah tanggungan Agustin sendiri.

Oleh karena itu, ia mencari cara untuk tidak nglaju Salatiga-Ngawi yang setidaknya akan memakan kisaran 1,5 jam perjalanan. Solusinya adalah dengan ikut tinggal di sebuah pondok pesantren yang mematok uang bulanan senilai Rp2 ribu.

Menurut Agustin, biaya ini bahkan hanya berupa sedekah. Sebab, seluruh kebutuhannya menjadi tanggungan pesantren hanya dengan membayarkan nominal yang tidak seberapa itu—bahkan setara dengan tarif parkir motor.

“Untuk fasilitas dan lain-lain juga gratis dari Bapak Kiai, aku juga kadang bantu-bantu di rumah beliau, bersih-bersih itu aku dapat makan,” ujarnya.

Gaya hidup ini terus berlanjut sampai Agustin lulus kuliah. Ia masih mencoba beberapa pekerjaan, seperti menjadi penjaga pondok pesantren sampai dengan guru honorer. Hari-harinya berlangsung sederhana, setidaknya sampai dia menyadari bahwa ada keinginan besar untuk pulang ke Ngawi dan melakukan sesuatu.

Sempat pesimistis lolos LPDP

Untuk bagian ini, Agustin menceritakannya setelah menyelesaikan satu kelas perkuliahan di UGM. Ia sedang duduk di salah satu fasilitas yang ada, tetapi belum juga percaya telah lolos beasiswa dan bisa lanjut berkuliah.

“Kalau nggak dapat, mungkin aku juga nggak akan S2,” katanya.

“Kenapa?” tanya saya.

“Sebelumnya aku juga nggak yakin aja begitu,” jawabnya. 

Menurut ceritanya, Agustin mengaku tidak mempersiapkan banyak hal dalam mengikuti LPDP. Ia hanya mengikuti langkah-langkah administratif untuk pendaftar kriteria afirmasi – prasejahtera, yang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat dari keluarga prasejahtera.

“Aku nggak siapin banyak. Aku terbilang singkat persiapannya juga,” katanya.

Karena itu, Agustin tidak terlalu berharap untuk mendapat beasiswa LPDP. Ia menyadari bahwa persiapannya belum terlalu matang dan peluang gagal ada di depan mata. Sebab, ia sebelumnya menyasar Beasiswa Indonesia Bangkit dari Kementerian Agama yang sayangnya tidak dibuka.

Namun, rencana Agustin berjalan lebih baik dari yang diharapkannya, ia lolos sebagai penerima beasiswa LPDP. Ia juga bisa melanjutkan sekolah lagi dan meniti rencana kontribusinya.

Soal ini, Agustin mengaku ingin pulang dan bergabung ke badan pengurus desa untuk berkontribusi penuh pada perkembangan kampung halamannya di Ngawi. Sementara itu, dirinya mencoba untuk membuat tabungan yang selama ini tidak bisa dilakukannya dalam kondisi ekonomi pas-pasan—sebagai bekalnya kemudian hari.

“Aku dapat uang saku beasiswa, turunnya per tiga bulan.  Karena aku terbiasa hemat, ya aku tabung,” katanya.

Bentuk dukungan beasiswa LPDP kepadanya, kata Agustin, ditanamkan baik-baik sebagai sebuah keharusan untuk membayar balik dengan kontribusi di kemudian hari. Ia juga menyebut, kesempatan ini sebagai sebuah privilese yang akan digunakan sebaik mungkin.

“Aku sadar aku jadi privilese (beruntung) karena ini. Jadi aku akan memanfaatkan sebaik mungkin,” akunya.

Dari kesadaran akan keberuntungannya, Agustin mengatakan, bisa menilai dirinya tidak sepenuhnya mendapatkan beasiswa karena faktor bejo (keuntungan) yang tidak disertai pendukung lainnya.

Baginya, dedikasinya sebelum mendaftarkan diri untuk beasiswa berperan penting sebagai bukti keseriusan diri untuk benar-benar mengabdi selepas kuliah dengan bantuan beasiswa LPDP. “Setelah kupikir, aku nggak yang nggak ada kontribusi juga. Sebelumnya aku guru honorer kan, aku juga sambil kerja pas S1,” katanya tegas.

Keyakinannya ini, adalah keyakinan yang sekiranya juga harus dimiliki oleh penerima (awardee) dan bakal penerima yang “beruntung” berkat difasilitasi oleh negara ini dalam pendidikan.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version