Lulusan UT diremehkan karena dianggap kuliah di kampus abal-abal. Namun, sebagian dari mereka tetap bersyukur karena punya karier lebih bagus daripada para lulusan S1 bahkan S2 yang menghinanya.
***
Mika (27) masih ingat betul rasa bangganya saat pertama kali mendaftar kuliah pada awal tahun 2024 lalu. Dua tahun sebelumnya, usai lulus SMA pada 2022, perempuan asal Bengkulu ini terpaksa mengubur mimpi masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Masalah biaya memaksanya harus langsung terjun ke dunia kerja.
Gaji yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit akhirnya cukup untuk membayar biaya pendaftaran di Universitas Terbuka (UT). Namun, kebanggaan yang baru seumur jagung itu hancur hanya karena celetukan seorang teman kerjanya.
“Ngapain kuliah di UT? Itu kan kampus abal-abal. Kuliah kok cuma dari rumah, belajarnya nggak jelas,” kenang Mika, Selasa (3/3/2026), mengingat ucapan temannya kala itu.
Kata-kata tadi langsung membuat Mika insecure alias tidak percaya diri. Niatnya untuk mandiri dan mencari ilmu sambil tetap bekerja malah dipandang sebelah mata. Sistem belajar UT yang fleksibel dan menuntut kemandirian justru dianggap sebagai tanda bahwa kampusnya tidak berkualitas.
Padahal, UT selevel dengan PTN lain
Kisah Mika bukanlah cerita baru. Dalam sebuah obrolan di Threads, banyak alumni maupun mahasiswa yang masih kuliah di UT mengaku kerap diremehkan bahkan dapat olok-olokan.
View on Threads
Di lingkungan masyarakat kita, gengsi almamater atau nama besar kampus memang masih dijadikan tolok ukur kesuksesan seseorang. Kampus yang tidak menuntut mahasiswanya datang ke kelas setiap hari, seperti UT, acap kali diremehkan dan dianggap sebagai kampus “kelas dua”.
Padahal, kalau melihat realitas di dunia kerja nyata saat ini justru sedang berbalik arah. Ijazah dari kampus ternama, bahkan gelar S2 dari PTN top sekalipun, tak lagi jadi jaminan otomatis seseorang akan mudah mendapat pekerjaan, apalagi bergaji besar.
Lebih jauh, tudingan UT sebagai “kampus abal-abal” itu sebenarnya sangat salah alamat. Menurut laman resmi UT, paling tidak ada dua alasan.
Pertama, UT adalah PTN resmi milik pemerintah. Statusnya bahkan sudah naik menjadi PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum) sejak tahun 2022. Sebagai informasi, status PTN-BH ini adalah kasta tertinggi kampus negeri di Indonesia, sejajar dengan kampus-kampus top legendaris seperti UI, UGM, ITB, atau Unpad.
Kedua, ada fakta menarik yang selalu ampuh membungkam orang-orang yang suka menghina UT. Hampir di setiap penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), lulusan UT selalu menduduki peringkat pertama sebagai penyumbang PNS yang paling banyak lolos. Mereka mengalahkan ratusan ribu pendaftar lain dari berbagai kampus negeri ternama.
“Dulu aku begitu insecure, memposting keseharian saja nggak berani. Minder. Sekarang berdamai sajalah, toh kuliah pakai uangku,” kata Mika.
Kerja modal ijazah D1, lanjut kuliah S1 di UT
Cerita lain datang dari Amri (29). Laki-laki asal Jakarta ini baru saja lulus sarjana (S1) dari UT pada tahun 2024 lalu.
Sama seperti Mika, awalnya Amri memilih UT karena alasan biaya yang lebih ramah di kantong dan waktu kuliah yang fleksibel. Amri sadar, dia tidak bisa hanya mengandalkan teori kuliah tanpa bekerja.
Sebelumnya, ia hanya sempat menamatkan pendidikan hingga jenjang D1 Akuntansi.
“Dulu cuma bisa sampai D1 karena memang ingin langsung kerja. Keluarga nggak bisa biayain kuliah saya sampai sarjana,” katanya, Selasa (3/3/2026).
Bermodal ijazah D1 itu, Amri melamar pekerjaan di Jakarta. Ia bekerja keras setiap hari, sambil melanjutkan S1 Akuntansi di UT pada waktu senggangnya. Tentu saja, perjalanannya tidak lepas dari hinaan. Beberapa temannya yang berkuliah di PTN bergengsi sering meremehkan pilihannya karena ia jarang terlihat “pergi ke kampus”.
Diejek dengan kalimat, “diajar sama dosen setan”
Pengalaman paling membekas bagi Amri terjadi saat acara reuni SMA beberapa tahun lalu. Kala itu, Amri bercerita bahwa ia baru saja mendaftar S1 di UT di hadapan kawan-kawannya yang kebanyakan alumni S1 bahkan S2 PTN top.
Bukannya didukung, ia malah ditertawakan.
“Kuliah kok cuma lewat HP?”
“Emang dosennya kelihatan?”
“Wah, kamu diajar dosen setan itu, nggak pernah nampak.”
Hinaan itu dilontarkan terang-terangan di depan banyak orang. Telinga Amri tentu terasa panas.
Meski itu terkesan sebagai candaan tongkrongan, Amri tetap merasa sakit hati. Niat hatinya ingin berbagi cerita, malah direspons dengan ejekan oleh kawan-kawannya.
“Ya saya sih memilih diam. Cuma saya sangat sakit hati,” kata lulusan UT ini.
Lebih sukses dari teman-temannya yang lulusan S1-S2 PTN
Namun, waktu yang akhirnya menjawab semuanya. Saat ini, karier Amri melesat jauh. Di Jakarta, ia kini mengantongi gaji Rp8 juta per bulan. Sebuah angka yang terbilang sangat lumayan untuk ukuran seseorang yang baru mendapat gelar sarjana pada 2024 lalu.
Rahasia kesuksesan Amri sebenarnya sangat sederhana. Ia mengakui, saat sarjana dari kampus lain baru mulai mencari kerja dan kebingungan membuat surat lamaran, Amri sudah memiliki pengalaman kerja bertahun-tahun. Perpaduan antara ijazah S1 dan “jam terbang” riil inilah yang membuat perusahaan tidak ragu untuk membayarnya mahal.
Lalu, bagaimana nasib teman-teman Amri yang dulu sering menghinanya?
Ironisnya, banyak dari mereka yang kini masih luntang-lantung mencari pekerjaan. Ada pula yang sudah bekerja, meski gajinya terbilang kecil, jauh di bawah gaji yang diterima Amri. Bahkan, beberapa kenalannya yang merupakan lulusan S2 dari PTN top pun ikut merasakan kerasnya realitas persaingan kerja ini.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sebenarnya sudah lama menunjukkan fenomena ini. Angka pengangguran dari kalangan terdidik—yakni lulusan diploma dan universitas—masih terus menjadi masalah besar di Indonesia. Banyak sarjana terpaksa menganggur karena keterampilan yang mereka pelajari di kelas tidak sesuai dengan kebutuhan praktis perusahaan.
“Saya bersyukur, meskipun nggak dari PTN yang dianggap top seenggaknya bisa hidup mandiri. Biar dihina, yang penting saya lebih sukses dari mereka,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kuliah di Universitas Terbuka (UT), Meski Diremehkan tapi bikin Gen Z Bersyukur karena Beri Jawaban Konkret untuk Kebutuhan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
