Sistem kuliah online Universitas Terbuka (UT) dirancang bukan sekadar untuk mengikuti gerak zaman, tapi juga untuk memberi kemudahan bagi setiap mahasiswa agar bisa menjalani perkuliahan tanpa batasan ruang dan mendistraksi kesibukan pribadi. Di balik layar kecanggihan itu, para tenaga ahli di belakangnya harus berjibaku menghadapi hacker yang kerap menyerbu.
***
Saat pandemi Covid-19 melanda, banyak kampus mengalami kegagapan pada perangkat teknologi. Dosen gelagapan, mahasiswa juga tidak siap. Sementara kampus belum menyiapkan sistem yang mumpuni untuk melangsungkan sistem pembelajaran digital.
Hasilnya, sistem kuliah pun berjalan seadanya: menggunakan perangkat yang sudah ada (Google Meet atau Zoom). Tapi itu pun bukannya tanpa kendala karena ketidaksiapan tersebut. Sedangkan semua sektor memang dipaksa harus beradaptasi.
Kegagapan kala kampus dipaksa jalankan kuliah online
Kendala jaringan itu lain soal. Namun, kendala yang agak merepotkan adalah: ada dosen yang karena gagap teknologi (gaptek), akhirnya tetap memberlakukan sistem perkuliahan selaiknya perkuliahan tatap muka: tugas-tugas mahasiswa harus dikirim melalui jasa antar paket.
Bahkan, ada juga dosen yang saking tidak mudengnya terhadap teknologi, ia hanya bisa mengirim tugas-tugas melalui grup WhatsApp. Lalu mahasiswa akan mengirimkan hasil garapan mereka ke grup yang sama.
Sejumlah orang yang pernah mengalami perkuliahan online di masa pandemi Covid-19 juga mengaku: kuliah online—yang sering kali hanya menyimak pemaparan tunggal dari dosen—ujung-ujungnya malah ketiduran. Perkuliahan pun akhirnya terasa seperti sekadarnya saja.
Tak pelak jika akhirnya, pada masa-masa itu, mahasiswa di sejumlah kampus melayangkan protes ke pihak kampus. Sebab, mereka merasa UKT mahal yang disetorkan tidak sepadan dengan kelayakan sistem pendidikan dalam jaringan yang mahasiswa terima.
Universitas Terbuka (UT): kampus paling siap jalankan kuliah online
Etty Puji Lestari, Kepala Pusat Riset dan Inovasi Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PRI-PTJJ) tersenyum ketika mengenang bagaimana Universitas Terbuka mencoba adaptif di masa-masa pandemi Covid-19 silam.
Etty sudah mengajar di UT sejak 2002. Awalnya ia tidak menyangka jika pada akhirnya model kuliah ala UT bakal berada di arus utama sistem pembelajaran di Indonesia.
Sebab, sebelumnya, sistem kuliah online ala UT tidak terlalu populer. Tidak begitu dilirik karena banyak orang lebih memilih prestise kuliah di kampus yang nyata-nyata memiliki gedung megah di sebuah kota.
“Di masa pandemi UT justru leading dengan sistem kuliah online. Karena kami sudah punya Learning Management System (LMS) yang sudah dikembangkan sebelum-sebelumnya,” ujar Etty saat berbincang dengan Mojok, Senin (9/2/2026).
Bahkan, kata Etty, saat itu UT membuka akses LMS yang bisa digunakan secara cuma-cuma untuk kampus-kampus lain yang butuh support system untuk adaptasi ke era perkuliahan online.
“UT waktu itu juga open Ruang Baca Virtual (RBV). Ribuan bahan ajar di situ bisa dibuka, baik oleh dosen maupun mahasiswa kampus lain. Itu bentuk kemanusiaan,” jelas Etty.
Universitas Terbuka (UT): full kuliah online, tapi tetap jaga kualitas
Dalam tulisan sebelumnya (Kuliah di Universitas Terbuka (UT), Meski Diremehkan tapi bikin Gen Z Bersyukur karena Beri Jawaban Konkret untuk Kebutuhan), Mojok mendapati fakta bahwa saat ini Universitas Terbuka saat ini justru menjadi kampus pilihan Gen Z.
Sebab, kuliah online dirasa memudahkan mahasiswa—apalagi yang nyambi kerja, tapi tidak dirancang asal-asalan. Modul dan sistem pembelajaran disiapkan agar tetap relevan dalam peningkatan kapasitas mahasiswa.
Etty sendiri menjelaskan, setiap sistem yang disiapkan UT untuk model kuliah online memang melalui perencanaan terukur.
“Modul itu harus disusun oleh orang dengan atribusi S3. Kemudian setelah disusun itu ditelaah oleh pakar juga. Standar kualitas pembelajaran betul-betul kami jaga. UT juga menyediakan Bahan Ajar Interaktif (BAI). Jjadi bahan ajar sekarang nggak cuman berupa buku aja. Tapi mahasiswa bisa melihat melalui video interaktif,” papar Etty.
“Improvement teknologi untuk terus menunjang model e-learning juga terus dilakukan. Karena yang mengakses itu kan 700.000-an mahasiswa. Itu kalau nggak improve terus, bisa jebol,” sambungnya.
Untuk itu, kata Etty, UT memiliki unit yang secara khusus bertugas untuk melakukan improvisasi nyaris tanpa henti di bidang teknologi-digital, yakni Direktorat Teknologi Digital (DTD). Bertugas mengelola, mengembangkan, dan memelihara infrastruktur teknologi informasi serta sistem digital untuk mendukung pembelajaran jarak jauh di UT. Sementara PRI-PTJJ sendiri menjadi pusat untuk pengembangan bahan ajar agar terus relevan.
Berulang kali diserbu hacker
Menjadi cyber university bukannya tanpa tantangan bagi Universitas Terbuka. Etty menyebut, setiap kali DTD melakukan improvisasi terhadap sistem teknologi UT, cukup gencar berhadapan dengan serangan para hacker yang mencoba mengganggu sistem.
Oleh karena itu, Etty menjelaskan, pihak UT memiliki tenaga-tenaga ahli di bidang cyber security. Tugas mereka menjamin proteksi terhadap aset teknologi UT agar aman dari gangguan.
“Pokoknya dalam mengembangkan UT, kami bekerja sama dengan tenaga ahli. Termasuk tenaga ahli dari luar negeri,” kata Etty.
Hingga sejauh ini, UT tidak mau lantas berpuas diri. Perkembangan teknologi-digital bergerak cepat, menuntut manusia cepat beradaptasi pula jika tidak ingin tenggelam.
Etty menegaskan, UT masih akan terus melakukan riset dan improvisasi: riset di aspek bahan ajar yang efektif dan memiliki dampak konkret ke mahasiswa, sekaligus improvisasi pada aspek teknologi agar lebih kompatibel dengan kebutuhan. Sehingga, alih-alih meremehkan, orang kini akan semakin memperhitungkan dan tidak ragu untuk kuliah di “kampus kuning” tersebut.***(Adv)
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Alasan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Lebih Tertarik Kuliah di Universitas Terbuka (UT) daripada di PTN Top atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













