Saat memutuskan mengambil jurusan Sastra Indonesia saat kuliah S1, awalnya sama sekali tidak terpikir kelak setelah lulus akan menjadi apa. Toh kuliah di sebuah PTN terbaik di Jawa Timur, rasa-rasanya ijazah atas nama besar kampus bisa menjadi daya tawar saat mencari kerja. Namun, kenyataannya justru menjadi sarjana beban keluarga. Bahkan untuk melamar lowongan pekerjaan freelance saja tidak bisa.
***
Hari-hari setelah wisuda pada pertengahan 2025 harus Maher (23) lalui dengan lebih banyak di kamar sempit di rumahnya di Nganjuk, Jawa Timur. Ia biasanya baru akan keluar di jam-jam menjelang tengah malam hingga menjelang Subuh.
Alasannya, pertama, jelas untuk menyembunyikan rasa malu sekaligus menghindari tatapan-tatapan merendahkan dari tetangga: sarjana dari salah satu PTN terbaik di Jawa Timur kok klumbrak-klumbruk.
Alasan kedua, dari pagi sampai malam, Maher biasanya lebih banyak menghadap laptop: mengirim surat elektronik berisi lamaran kerja ke berbagai alamat penyedia lowongan pekerjaan yang ia temukan di media sosial dan aplikasi penyedia informasi lowongan kerja.
Ijazah S1 sarjana Sastra Indonesia bahkan tidak bisa buat daftar freelance
Kurang lebih 150 lamaran kerja dikirim Maher dalam rentang lima bulan (Agustus-Desember 2025). Kira-kira, setiap hari pasti ada satu saja lamaran kerja yang ia kirim. Baik untuk pekerjaan full-time maupun sekadar freelance.
Setiap hari pula ia memantau akun surat elektroniknya, berharap ada balasan melegakan. Namun, semuanya tidak memberi balasan.
“Padahal dalam bayanganku, freelance-freelance masih bisa lah nyantol, ternyata nggak hahaha. Setidak dilirik itu ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia. Walaupun dari PTN terbaik di Jawa Timur,” ucap Maher, Jumat (20/2/2026).
“Emang pekerjaan freelance seperti apa yang kamu daftari?” Tanya saya.
Sebenarnya memang agak random. Kata Maher, kebanyakan ia memasukkan lamaran kerja sebagai content writer, copy writer media sosial, translator anime, dan apapun yang berhubungan dengan dunia tulis menulis.
Sisanya acak: ada content creator video, desainer grafis, dan lain-lain lah yang sekiranya bisa ia kerjakan dari rumah. “Contoh full time yang random, aku sampai daftar kurir paket dan waiters di waralaba ayam goreng. Tapi juga nggak keterima,” ungkap Maher.
Sarjana Sastra Indonesia menjadi beban keluarga, bikin kakak makin tersiksa
“Tadi kamu bilang, tiap malam mesti keluar ngopi, pasti juga beli rokok. Pasti juga butuh uang buat beli paket internet. Duit dari mana?” Tanya saya.
“Jadi gimana lagi, jadi beban keluarga lah,” jawab Maher terkekeh. Walaupun sebenarnya ia menyimpan rasa bersalah luar biasa.
Situasinya seperti ini: Maher adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Selama ini, kakak pertama Maher (perempuan) lah yang menjadi tumpuan ekonomi bagi keluarga tersebut.
Sebab, ibu Maher hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Bapaknya pekerja serabutan. Sementara kakak keduanya (laki-laki) hidupnya agak kacau.
“Jadi mbakku itu kerja bukan buat dirinya. Dia kerja buat ngidupin adik keduanya, terus ketambahan aku setelah lulus kuliah dan nganggur. Sering juga harus memberi uang ke bapak kalau bapak sedang nggak ada kerjaan dan nggak ada pemasukan,” jelas Maher.
Untung kakak perempuan Maher bukan tipikal kakak penuntut. Sehingga, ia mengerti betul kondisi Maher yang tidak kunjung dapat pekerjaan. Karena kenyataannya, ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia sekaligus label sarjana dari salah satu PTN terbaik di Jawa Timur milik Maher bahkan tidak laku untuk sekadar mengambil lowongan pekerjaan freelance.
Setelah 150 lamaran kerja ditolak, berpikir ngamen di bus AKAP buat cari recehan
150 lamaran kerja membuat sarjana jurusan Sastra Indonesia tersebut berada di ambang putus asa. Ia bahkan berpikir untuk ngamen saja di bus-bus AKAP di jalur Jawa Timuran. Daripada tidak ada pemasukan sama sekali dan hanya berdiam diri d rumah saja.
Toh ia juga punya keahlian bermain gitar. Hapal banyak lagu musisi Jawa yang lagunya kerap dibawakan para pengamen di bus AKAP.
Akan tetapi, keberuntungan justru datang tidak terduga. Seorang kenalan di sebuah kantor tempatnya sempat magang mengabarkan kalau Maher hendak direkrut untuk bekerja dengan posisi sebagai penulis dan editor, sesuai dengan kualifikasinya sebagai sarjana jurusan Sastra Indonesia.
“Aku jadi salah satu dari sarjana Sastra Indonesia yang beruntung bisa kerja sesuai jalur. Walaupun harus melewati masa penolakan 150 lamaran kerja dan menjadi beban keluarga. Karena kebanyakan temanku juga susah cari kerja, ada yang di warung kopi, atau guru honorer,” ucap Maher. “Kalau jadi penulis buku, ya jadi penulis buku yang nggak laku.”
Omong kosong setiap jurusan punya prospek kerja
Betapa susahnya ijazah S1 sarjana jurusan Sastra Indonesia mencari pekerjaan tidak hanya dialami oleh Maher. Tapi juga banyak orang yang ceritanya juga sudah cukup banyak ditulis Mojok. Meskipun itu tidak mengurangi minat calon mahasiswa baru terhadap jurusan tersebut.
Seperti Maher. Alasannya masuk jurusan Sastra Indonesia hanya sebatas karena ia suka curhat melalui puisi. Dalam bayangannya dulu, jika ia kuliah di jurusan tersebut, ia akan disiapkan kampus agar kelak setelah lulus menjadi seorang sastrawan atau penyair ternama. Tidak berpikir jauh. Apalagi ia kuliah gratisan karena dapat beasiswa KIP Kuliah.
“Baru berpikir di tengah-tengah, setelah tahu fakta kalau cari kerja atau jadi sastrawan nggak sesimpel itu,” ucap Maher. Ia menyebut kalau deskripsi “prospek kerja” di brosur jurusan—yang juga ada di sejumlah jurusan lain—hanyalah omong kosong. Jangan serta merta dipercaya.
“Maba harus hati-hati itu. Sekarang mikir yang pragmatis dan realistis. Kuliah ambil jurusan yang nyata-nyata industrinya ada,” sambung Maher. “Jangan karena suka sastra langsung masuk Sastra Indonesia. Duh, buat pekerjaan freelance aja nggak bisa.”
Maher merasa beruntung karena ia memanfaatkan betul masa magang. Di sana ia mencoba belajar sebanyak mungkin, bahkan diperintah apapun oleh orang-orang kantor ia lakukan. Hasilnya, alih-alih mendapat pekerjaan dari 150 lamaran kerja yang ia kirim, ia justru mendapat pekerjaan dari kantor tempatnya magang.
“Pikiranku saat ini, aku harus bayar utang-utangku ke mbakku, sewaktu aku nganggur,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
