Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Februari 2026
A A
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Ilustrasi - Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saat memutuskan mengambil jurusan Sastra Indonesia saat kuliah S1, awalnya sama sekali tidak terpikir kelak setelah lulus akan menjadi apa. Toh kuliah di sebuah PTN terbaik di Jawa Timur, rasa-rasanya ijazah atas nama besar kampus bisa menjadi daya tawar saat mencari kerja. Namun, kenyataannya justru menjadi sarjana beban keluarga. Bahkan untuk melamar lowongan pekerjaan freelance saja tidak bisa. 

***

Hari-hari setelah wisuda pada pertengahan 2025 harus Maher (23) lalui dengan lebih banyak di kamar sempit di rumahnya di Nganjuk, Jawa Timur. Ia biasanya baru akan keluar di jam-jam menjelang tengah malam hingga menjelang Subuh.

Alasannya, pertama, jelas untuk menyembunyikan rasa malu sekaligus menghindari tatapan-tatapan merendahkan dari tetangga: sarjana dari salah satu PTN terbaik di Jawa Timur kok klumbrak-klumbruk. 

Alasan kedua, dari pagi sampai malam, Maher biasanya lebih banyak menghadap laptop: mengirim surat elektronik berisi lamaran kerja ke berbagai alamat penyedia lowongan pekerjaan yang ia temukan di media sosial dan aplikasi penyedia informasi lowongan kerja. 

Ijazah S1 sarjana Sastra Indonesia bahkan tidak bisa buat daftar freelance

Kurang lebih 150 lamaran kerja dikirim Maher dalam rentang lima bulan (Agustus-Desember 2025). Kira-kira, setiap hari pasti ada satu saja lamaran kerja yang ia kirim. Baik untuk pekerjaan full-time maupun sekadar freelance. 

Setiap hari pula ia memantau akun surat elektroniknya, berharap ada balasan melegakan. Namun, semuanya tidak memberi balasan. 

“Padahal dalam bayanganku, freelance-freelance masih bisa lah nyantol, ternyata nggak hahaha. Setidak dilirik itu ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia. Walaupun dari PTN terbaik di Jawa Timur,” ucap Maher, Jumat (20/2/2026). 

“Emang pekerjaan freelance seperti apa yang kamu daftari?” Tanya saya. 

Sebenarnya memang agak random. Kata Maher, kebanyakan ia memasukkan lamaran kerja sebagai content writer, copy writer media sosial, translator anime, dan apapun yang berhubungan dengan dunia tulis menulis. 

Sisanya acak: ada content creator video, desainer grafis, dan lain-lain lah yang sekiranya bisa ia kerjakan dari rumah. “Contoh full time yang random, aku sampai daftar kurir paket dan waiters di waralaba ayam goreng. Tapi juga nggak keterima,” ungkap Maher. 

Sarjana Sastra Indonesia menjadi beban keluarga, bikin kakak makin tersiksa

“Tadi kamu bilang, tiap malam mesti keluar ngopi, pasti juga beli rokok. Pasti juga butuh uang buat beli paket internet. Duit dari mana?” Tanya saya. 

“Jadi gimana lagi, jadi beban keluarga lah,” jawab Maher terkekeh. Walaupun sebenarnya ia menyimpan rasa bersalah luar biasa. 

Situasinya seperti ini: Maher adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Selama ini, kakak pertama Maher (perempuan) lah yang menjadi tumpuan ekonomi bagi keluarga tersebut. 

Iklan

Sebab, ibu Maher hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Bapaknya pekerja serabutan. Sementara kakak keduanya (laki-laki) hidupnya agak kacau. 

“Jadi mbakku itu kerja bukan buat dirinya. Dia kerja buat ngidupin adik keduanya, terus ketambahan aku setelah lulus kuliah dan nganggur. Sering juga harus memberi uang ke bapak kalau bapak sedang nggak ada kerjaan dan nggak ada pemasukan,” jelas Maher. 

Untung kakak perempuan Maher bukan tipikal kakak penuntut. Sehingga, ia mengerti betul kondisi Maher yang tidak kunjung dapat pekerjaan. Karena kenyataannya, ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia sekaligus label sarjana dari salah satu PTN terbaik di Jawa Timur milik Maher bahkan tidak laku untuk sekadar mengambil lowongan pekerjaan freelance. 

Setelah 150 lamaran kerja ditolak, berpikir ngamen di bus AKAP buat cari recehan

150 lamaran kerja membuat sarjana jurusan Sastra Indonesia tersebut berada di ambang putus asa. Ia bahkan berpikir untuk ngamen saja di bus-bus AKAP di jalur Jawa Timuran. Daripada tidak ada pemasukan sama sekali dan hanya berdiam diri d rumah saja. 

Toh ia juga punya keahlian bermain gitar. Hapal banyak lagu musisi Jawa yang lagunya kerap dibawakan para pengamen di bus AKAP. 

Akan tetapi, keberuntungan justru datang tidak terduga. Seorang kenalan di sebuah kantor tempatnya sempat magang mengabarkan kalau Maher hendak direkrut untuk bekerja dengan posisi sebagai penulis dan editor, sesuai dengan kualifikasinya sebagai sarjana jurusan Sastra Indonesia. 

“Aku jadi salah satu dari sarjana Sastra Indonesia yang beruntung bisa kerja sesuai jalur. Walaupun harus melewati masa penolakan 150 lamaran kerja dan menjadi beban keluarga. Karena kebanyakan temanku juga susah cari kerja, ada yang di warung kopi, atau guru honorer,” ucap Maher. “Kalau jadi penulis buku, ya jadi penulis buku yang nggak laku.”

Omong kosong setiap jurusan punya prospek kerja

Betapa susahnya ijazah S1 sarjana jurusan Sastra Indonesia mencari pekerjaan tidak hanya dialami oleh Maher. Tapi juga banyak orang yang ceritanya juga sudah cukup banyak ditulis Mojok. Meskipun itu tidak mengurangi minat calon mahasiswa baru terhadap jurusan tersebut. 

Seperti Maher. Alasannya masuk jurusan Sastra Indonesia hanya sebatas karena ia suka curhat melalui puisi. Dalam bayangannya dulu, jika ia kuliah di jurusan tersebut, ia akan disiapkan kampus agar kelak setelah lulus menjadi seorang sastrawan atau penyair ternama. Tidak berpikir jauh. Apalagi ia kuliah gratisan karena dapat beasiswa KIP Kuliah. 

“Baru berpikir di tengah-tengah, setelah tahu fakta kalau cari kerja atau jadi sastrawan nggak sesimpel itu,” ucap Maher. Ia menyebut kalau deskripsi “prospek kerja” di brosur jurusan—yang juga ada di sejumlah jurusan lain—hanyalah omong kosong. Jangan serta merta dipercaya. 

“Maba harus hati-hati itu. Sekarang mikir yang pragmatis dan realistis. Kuliah ambil jurusan yang nyata-nyata industrinya ada,” sambung Maher. “Jangan karena suka sastra langsung masuk Sastra Indonesia. Duh, buat pekerjaan freelance aja nggak bisa.”

Maher merasa beruntung karena ia memanfaatkan betul masa magang. Di sana ia mencoba belajar sebanyak mungkin, bahkan diperintah apapun oleh orang-orang kantor ia lakukan. Hasilnya, alih-alih mendapat pekerjaan dari 150 lamaran kerja yang ia kirim, ia justru mendapat pekerjaan dari kantor tempatnya magang. 

“Pikiranku saat ini, aku harus bayar utang-utangku ke mbakku, sewaktu aku nganggur,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2026 oleh

Tags: ijazah s1Jurusan Sastra Indonesialoker freelancelowongan kerjalowongan pekerjaanpekerjaan freelanceprospek kerja sastra indonesiaPTNptn jawa timurptn terbaikptn terbaik jawa timurS1 Sastra Indonesiasarjanasarjana pengangguransarjana sastra indonesiaSastra Indonesia
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Sarjana nganggur diteror info loker di grup WA keluarga. MOJOK.CO
Edumojok

Grup WhatsApp Keluarga Besar Isinya “Teror” bagi Sarjana Nganggur, Sehari-hari Dikasih Info Loker Aneh-aneh

18 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
Menurut Ekonom FEB UGM, banyak pekerja Indonesia terpaksa overwork dan multiple jobs gara-gara persoalan jam kerja dan kelayakan upah MOJOK.CO
Mendalam

Overwork-Multiple Jobs: Keterpaksaan Pekerja demi Hidup dari Upah Tak Layak, Masih Tanggung Kesehatan Diri Sendiri Tanpa Jaminan

28 Januari 2026
14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO
Ragam

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Kos di Jogja

Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari

19 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
Gen Z mending beli bunga daripada rumah untuk self reward. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Suka Beli Bunga untuk Self Reward daripada Stres Nggak Mampu Beli Rumah untuk Masa Depan

16 Februari 2026
Barongsai di bandara saat imlek. MOJOK.CO

Semangat Tahun Kuda Api bikin Trafik Penumpang Milik InJourney Melambung 10 Persen Saat Imlek 2026

19 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.