Sama seperti orang kebanyakan, cita-cita Rahma (24) waktu kecil ingin menjadi dokter. Namun, ia sadar akan kemampuan dirinya dan memutuskan banting setir. Tapi setidaknya, ia tetap ingin kuliah di bidang kesehatan. Maka, mendaftarlah dia ke Jurusan Kebidanan di Universitas Airlangga (Unair). Tanpa ia sangka, banyak kebermaknaan yang ia dapatkan dari sana.
***
Waktu Rahma kecil, ia suka bermain peran sebagai dokter yang merawat pasien. Pura-pura, ia pegangi mainan stetoskopnya di dada temannya seolah-olah sedang mendengarkan detak jantung temannya.
Lalu, ia mulai menuliskan macam-macam untuk membuat diagnosis. Sesekali ia bertanya soal keluhan sang pasien–temannya. Sampai kemudian mereka tertawa. Saat itulah, Rahma punya mimpi menjadi dokter saat dewasa.
Namun, mimpinya mulai memudar secara perlahan karena Rahma sadar betul untuk menjadi dokter dibutuhkan kemantapan hati yang ekstra. Misalnya, harus pintar dan keluar uang banyak.
“Sedangkan aku sadar diri kalau kemampuan otakku nggak sepintar itu. Keluargaku pun ekonominya pas-pasan. Akhirnya, aku makin nggak tahu ingin jadi apa kalau udah besar,” kata Rahma saat dihubungi Mojok, Minggu (5/4/2026).
Meski menyerah dengan mimpinya kuliah di kedokteran, sejatinya Rahma masih suka belajar soal kesehatan. Oleh karena itu, untuk menghibur diri, Rahma aktif mengikuti ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMP hingga SMA.
“Walaupun aku nggak bisa kuliah di Kedokteran, setidaknya aku bisa merasakan dasar-dasar kesehatan di PMR meski hanya secuil,” kata Rahma.
Ditolak Unair 2 kali hingga dapat telepon misterius
3 tahun kemudian, tibalah masa di mana Rahma harus menentukan jurusan kuliahnya. Meski dalam hati ingin mendaftar di Jurusan Kedokteran, Rahma akhirnya berani beralih ke Jurusan Kebidanan. Toh, ia pun sebetulnya tak berani menangani pasien secara langsung. Hal ini pun ia ketahui saat ia ikut kegiatan di PMR.
“Jadi aku pilih jurusan kesehatan yang sekiranya sanggup sama otak dan uangku,” kelakarnya.
Usai dengan pergulatan hatinya dalam menentukan jurusan kuliah, Rahma masih harus lanjut berjuang untuk mendaftar di Unair lewat jalur prestasi dan UTBK. Sayangnya, ia selalu gagal karena nilainya tidak mencukupi.
Harapannya pun semakin jauh, karena ia berpikir tak akan mampu lewat jalur Mandiri. Di tengah kegusarannya, sebuah telepon masuk dari pengurus beasiswa Unair. Ia menawarkan kuota Jurusan Kebidanan ke Rahma, tepat pada detik-detik terakhir penutupan gelombang Mandiri ketiga.
“Yap, gelombang terakhir masuk Unair yang nggak semua orang ditawarin, padahal waktu itu aku sudah mau nyerah aja soalnya aku pikir nggak akan diterima di mana-mana,” ujarnya.
Hari-hari belajar ilmu Kedokteran di Unair
Menurut Rahma, kesempatan itu diberikannya tidak cuma-cuma. Barangkali, ada calon mahasiswa baru di Jurusan Kebidanan yang mengundurkan diri, sehingga Rahma diberi tawaran. Rahma juga menduga, tawaran itu ia dapatkan berkat beberapa sertifikat yang ia ikuti selama PMR.
Tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Rahma akhirnya berhasil diterima sebagai mahasiswa Jurusan Kebidanan Unair lewat jalur Mandiri dengan beasiswa Bidikmisi (sekarang KIP Kuliah).
Rahma tak menampik hari-harinya dilalui dengan berat. Tak jauh berbeda dengan anak-anak Kedokteran, Rahma juga belajar soal anatomi, fisiologi, biokimia, mikrobiologi, farmakologi, hingga praktik dasar seperti infus, kateter, dan melahirkan.
Masalahnya, praktik dasar itu dia dapatkan secara daring karena pandemi. Alhasil, saat praktik langsung di rumah sakit usai pandemi, Rahma mengaku kaget dan sulit beradaptasi. Untungnya, kata dia, para dosen dan tenaga kesehatan di sana memaklumi.
“Jadi lebih banyak dibimbing,” ujarnya.
Momen spiritual seperti di film-film
Bagi Rahma, kesulitan itu belum apa-apa jika dibandingkan saat pertama kali dirinya menjalani pendidikan profesi. Di mana, ia bahkan tak cukup beristirahat guna menyesuaikan jam kerja serta praktik.
Jika senggang, ia harus menyelesaikan laporan kasus sebab Unair sendiri punya target per kompetensi. Rahma harus membuat makalah individu maupun kelompok, hingga mengikuti penyuluhan di puskesmas.
“Sehari-hari tuh repeat, kayak jaga, pulang, kerjain laporan, tidur. Jadi waktu istirahat tuh minim, jam tidur pun nggak karuan karena kerja sesuai shift,” ujarnya.
Sampai kemudian, Rahma sadar rasa lelahnya tak sebanding dengan seorang ibu yang mengandung. Suatu hari, untuk pertama kalinya, Rahma terlibat langsung membantu proses persalinan.
Di momen itu, ia melihat langsung perjuangan seorang ibu melahirkan bayinya. Ia tak bisa membayangkan kesulitan dan kekhawatiran yang dihadapi keduanya saat berada di ambang hidup dan mati.
“Belum lagi kalau habis melahirkan, ibunya ada pendarahan. Kalau nggak cepat ditanganin, taruhannya nyawa,” kata Rahma.
Perasaan lega baru muncul ketika Rahma berhasil menolong ibu dan bayinya. Tak sampai di situ, Rahma juga pernah praktik langsung di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Sebuah ruangan perawatan intensif untuk bayi baru lahir yang memerlukan penanganan khusus.
“Di sana aku melihat banyak bayi yang prematur, lebih kecil dari bayi lainnya. Lalu bayi tanpa tempurung kepala, hingga bayi yang kesulitan bernafas,” kata dia.
Tak ayal, momen itu menguras emosinya sebab ada perasaan sedih yang berkecamuk. Setelah melihat perjuangan seorang ibu dalam proses persalinan, ia harus melihat perjuangan bayi yang bertahan dan berusaha hidup dengan melawan penyakit.
Pada akhirnya, Rahma sadar dan berhasil mensyukuri keputusannya dulu. Kalaupun tidak bisa menjadi dokter, ia masih bisa membantu ibu dan anaknya agar tetap sehat baik sebelum, saat, dan sesudah persalinan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
