Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

ilustrasi - ditolak UGM malah bangga karena masuk Unair Jurusan Antropologi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Kecintaan Mei* (25) terhadap ilmu budaya lahir dari ayahnya yang juga mencintai sejarah. Alhasil saat remaja, Mei ingin belajar lebih banyak di kampus top Universitas Gadjah Mada (UGM) Jurusan Arkeologi. Namun, Antropologi Unair justru menyelamatkan hidupnya sekarang.

Patah hati terbesar ditolak UGM

Ketika usia anak-anak, Mei sering diajak jalan-jalan oleh ayahnya ke tempat bersejarah terutama di area peninggalan Kerajaan Majapahit. Menginjak remaja, ayahnya sering mengajak dia ke acara kebudayaan, hingga ia tertarik dan suka membaca buku sejarah yang tebalnya sampai berjilid-jilid.

“Makanya waktu SMA, aku getol banget masuk UGM Jurusan Arkeologi. Kalau nggak itu, aku nggak mau. Titik,” kata Mei saat dihubungi Mojok, Minggu (5/4/2026).

Sayangnya, Mei tidak diterima lewat jalur undangan atau SNMPTN (kini: SNBP). Penolakannya itu bikin Mei patah hati berminggu-minggu. Di tengah hilangnya motivasi, Mei justru tak sengaja melihat konten tentang Jurusan Antropologi Unair di Instagram.

Di sepertiga malamnya, Mei pun berdoa sekaligus meminta jawaban. Mei yang tadinya masih ingin daftar Jurusan Arkeologi UGM lewat jalur tes, akhirnya banting setir ke Antropologi Unair setelah menerima jawaban dari mimpinya.

“Jadi setelah salat istikharah, nggak tau kenapa aku selalu mimpi buruk waktu membayangkan kuliah di UGM. Akhirnya aku pilih Antropologi Unair dan aku nggak menyesal,” kata Mei.

Sejak saat itu, semangat Mei muncul kembali. Saban hari ia belajar guna mempersiapkan diri mengikuti Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT). Usahanya itu pun berhasil hingga ia diterima sebagai mahasiswa Jurusan Antropologi Unair.

Jurusan Antropologi Unair melebihi ekspektasi saya

Di awal mengikuti perkuliahan, Mei sebenarnya tak punya ekspektasi lebih soal Antropologi. Namun, ia dibuat terkesima dengan materi dan dosen-dosen pengajar di sana. Siapa sangka, Unair yang terkenal dengan jurusan favorit seperti Kedokteran di bidang MIPA, juga punya Jurusan Antropologi sebagai Departemen Terbaik Kedua di Unair.

Masalahnya, tak banyak yang tahu soal penghargaan ini. Buktinya, tahun 2024 kemarin, peminat di jurusan ini (SNBT) hanya mencapai 321 orang untuk daya tampung 40 kursi. Sementara, jurusan favorit seperti Kedokteran peminatnya mencapai 1.544 orang di jalur dan tahun yang sama.

Saat mendalami lebih lanjut, Antropologi Unair punya cakupan ilmu yang lebih luas dibandingkan Arkeologi UGM. Istilahnya, kata Mei, Antropologi adalah ilmu gado-gado di Unair. 

“Kalau Arkeologi UGM itu kan belajar soal kebudayaan manusia masa lampau ya, seperti analisis artefak dan interpretasi situs sejarah, tapi kalau Antropologi itu lebih luas lagi dan ternyata aku lebih suka dengan ilmu ini,” kata Mei.

Peluang kerja mentereng lulusan Antropologi Unair

Melansir dari laman resmi FISIP Unair, Program Studi S1 Antropologi memiliki wawasan luas mengenai manusia dan kebudayaan. Jurusan yang sudah berdiri sejak tahun 1985 itu mempelajari dua bidang peminatan seperti ragawi dan sosial-budaya.

“Ke depannya, mahasiswa Antropologi Unair bisa jadi ahli forensik karena kami lebih maju dari segi keilmuan medis tentang tulang dan semacamnya. Intinya, kami bisa mendeteksi semacam kematian yang asal-usulnya belum diketahui penyebabnya,” jelas Mei. 

Bahkan, Toetik Koesbardiati, salah satu dosen Antropologi Unair pernah ikut terlibat dalam operasi Disaster Victim Identification (DVI) dalam peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 tahun 2015. Saat itu Toetik turut mengidentifikasi pemeriksaan luar dalam otopsi korban.

Melihat, prospek kerja yang tak main-main, Mei jadi ikut bangga dan tak pernah menyesali keputusannya memilih Jurusan Antropologi Unair. Malahan, dia mengaku bersyukur pernah ditolak UGM Jurusan Arkeologi.

“Mungkin kalau mata batinku nggak dibuka, aku nggak akan tahu soal Jurusan Antropologi ini,” kata Mei.

Lulus dari Antropologi Unair tetap khawatir

Masalahnya, Mei mengaku tak sanggup melihat mayat meski nilainya bagus untuk melanjutkan karier di bidang forensik. Alhasil, dia memilih peminatan Antropologi budaya yang mempelajari soal psikologi hingga ekonomi manusia, khususnya di masa postmodernisme. 

“Alih-alih meromantisasi salah satu suku A, B, C, kami justru membredel secara kritis isu budaya di salah satu suku tersebut. Misalnya, Bali yang sudah terkomersialisasi tanpa melihat daya dukung lingkungan di bidang pariwisata,” jelas Mei.

Setelah menjalani perkuliahan selama 4 tahun, Mei akhirnya lulus. Meski begitu, ia tak terhindar dari bayang-bayang fresh graduate sulit mencari kerja. Sampai-sampai, ia menarget untuk mengirim 20 lamaran per hari ke berbagai platform, tapi tak ada satupun yang nyantol.

Di titik itu, Mei yang tadinya bangga dengan Jurusan Antropologi Unair justru terjebak dalam pikiran negatif. Ia sempat menyesal masuk jurusan yang sepi peminat itu, sampai akhirnya ia mendapat tawaran kerja di Bali sektor jasa.

Sempat mengira ilmunya di perkuliahan akan sia-sia saat bekerja, Mei justru menyadari Antropologi Unair membentuk pemikirannya lebih dewasa. Bagaimana dia bersikap dan menghormati segala perspektif budaya dari orang lain. 

“Pada akhirnya, aku bekerja dengan berbagai orang yang punya karakter dan latar belakang yang berbeda. Karena aku terbiasa mempelajari itu semua, aku pun punya semacam cara untuk menjembatani mereka sampai kemudian kami semua sepakat dalam sebuah pekerjaan,” jelas Mei.

Oleh karena itu, Mei berpesan jangan sampai kita menyesali segala keputusan yang kita pilih, karena bisa jadi itu adalah jalan terbaik dari Tuhan, meskipun manfaatnya belum kita ketahui sekarang, “dan jangan lupa bersyukur.” Ujar Mei.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA:Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version