Lulus SMA Cuma Diterima Kerja Jadi Babu dan Dihina karena Fisik, Kini Malah Jadi Asesor Sertifikasi dengan Gelar S1 UT

tunadaksa lulusan S1 universitas terbuka (UT). MOJOK.CO

Bariah, perempuan asal Palembang yang berhasil menyandang gelar S1 Manajemen di UT. (Sumber: UT)

Hidup mulanya terasa berat bagi penyandang disabilitas daksa seperti Bariah. Perempuan asal Palembang ini dituntut mandiri sedari kecil usai kehilangan orang tuanya. Namun siapa sangka, remaja yang dulunya nyaris tak bisa lulus SMA itu, kini justru menyandang gelar Sarjana Manajemen Universitas Terbuka (UT).

***

Bagi sebagian orang, pencarian jati diri dimulai setelah SMA. Ada yang memutuskan kuliah karena beasiswa atau punya uang lebih sehingga bisa bayar mandiri. Ada pula yang memilih menunda bahkan tidak lanjut karena tidak diterima di kampus favorit atau terkendala ekonomi. 

Atau bisa jadi, lanjut kerja memang sudah jadi pilihan hidup mereka. Seperti yang dialami Bariah. Sejak kecil, hidup memang tak memberikannya banyak pilihan. Saat duduk di bangku sekolah dasar, Bariah kecil harus mengandalkan beasiswa. Sehingga tak pernah ada dalam bayangan Bariah untuk kuliah, apalagi di UT.

Sebab selama ini, tak ada orang dewasa yang menanggung kebutuhan hidupnya, karena orang tuanya telah tiada. Alhasil, Bariah tumbuh menjadi anak yang mandiri dan cerdas. Prestasinya cukup baik di sekolah, tapi dia nyaris tak bisa masuk SMA karena kendala biaya.

Beberapa guru dan wali murid yang melihat potensi Bariah menyayangkan hal tersebut. Oleh karena itu, mereka membantu biaya sekolah Bariah. Namun, bantuan itu saja tak cukup menopang kebutuhan hidup Bariah. Maka dia pun turut bekerja.

Di usianya yang sudah remaja, Bariah menyisihkan waktu belajarnya untuk menjual gorengan milik tetangganya. Saban jam istirahat, Bariah pasti keliling ke kelas-kelas untuk berjualan. Upahnya itu kemudian bisa dia simpan atau dia pakai untuk jajan.

Kerja jadi ART dengan upah Rp600 ribu per bulan

Tahun demi tahun Bariah lewati hingga acara kelulusan SMA akhirnya tiba. Jujur saja, Bariah tak punya perencanaan matang setelah lulus SMA. Apalagi jika meratapi kondisinya yang punya keterbatasan fisik atau disabilitas.

Tak pelak, dia sering mengalami perundungan yang membuat patah arang, sehingga tidak percaya diri mencari kerja setelah lulus SMA. Namun, Bariah tak pernah berhenti mengirim doanya kepada Sang Pencipta. 

“Saya pernah berpikir, apa ada ya orang yang bisa nerima saya kerja? Tapi saya terus berdoa,” kata Bariah dikutip dari laman resmi Universitas Terbuka (UT), Selasa (10/2/2026).

Namun, Bariah tak pernah menyerah dalam hidup. Jalan terjal yang sudah dia lalui sejak kecil tak menghalangi mimpinya mencari makna. Bariah mencari pekerjaan apa pun yang mampu dia lakukan dan halal. 

Akhirnya, Bariah bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART). Di bulan-bulan pertama bekerja sebagai ART, Bariah hanya digaji Rp600 ribu per bulan. Meski terbilang sedikit, tapi Bariah tetap mensyukurinya. Apalagi itu adalah jawaban dari Tuhan atas doa-doanya selama ini.

“Saya udah seneng banget dengan angka segitu karena itu gaji pertama saya cari uang dan saya dapat pekerjaan ini saat bulan Ramadan,” ucapnya.

Menemukan “rumah” yang mendorongnya kuliah di UT

Selang beberapa bulan, Bariah masih melakoni pekerjaannya sebagai ART. Namun kali ini, dia memutuskan untuk merantau ke Depok dengan harapan dapat memperbaiki hidupnya kelak. Perlahan-lahan, mimpi itu mulai terwujud.

Setelah merantau ke Depok, Bariah diterima kerja di sebuah Lembaga Sertifikasi Profesi Teknologi Digital atau LSPTD. Di tempat itulah Bariah merasa menemukan tempat pulang. “Rumah” dengan keluarga kecil yang mau menerimanya.

Bahkan Bariah mengaku bosnya jauh dari kata killer. Justru dia lah yang memberi motivasi Bariah untuk kuliah di UT. UT menjadi satu-satunya pilihan Bariah karena jam kuliahnya yang fleksibel. Dengan begitu, tugas kuliah dan kerjanya dapat dilakukan beriringan. 

“Kalau kampus lain kayaknya saya nggak sanggup. Biaya beda, terus harus datang ke kelas. UT itu fleksibel banget,” kata Bariah.

Apalagi, bosnya juga ikut membantu kuliah Bariah dengan memberikan subsidi dan pelatihan komputer khusus, sehingga Bariah tak ketinggalan mengikuti perkuliahan.

“Saya ikut banyak pelatihan dan bos saya juga yang memfasilitasi semuanya,” kata Bariah.

Lebih dari dukungan orang sekitar, bagi Bariah, UT memberi kesempatan luas bagi penyandang disabilitas seperti dirinya. Bahkan bagi mereka yang berada di lapisan sosial paling bawah. 

Sebab, UT memiliki nilai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 10 tentang pengurangan ketimpangan, yang menekankan kesetaraan kesempatan bagi semua.

Disabilitas bukan alasan berhenti berkembang

Selama kuliah di UT, Bariah mengaku pola pikirnya berubah. Dia mendapat banyak perspektif baru, termasuk tentang status pekerjaannya saat ini. Dari yang tadinya hanya ART dengan upah Rp600 ribu per bulan, kini Bariah punya potensi diproyeksikan naik jabatan sebagai asesor sertifikasi. Tugasnya merencanakan hingga mengevaluasi uji kompetensi asesi secara objektif.

“Pendidikan juga mengubah pola pikirku untuk pandai meregulasi emosi. Dulu kalau ada masalah, emosi. Sekarang lebih tenang, bisa mikir solusi,” kata Bariah.

Siapa sangka, Bariah akhirnya menyandang gelar Sarjana Manajemen dari Universitas Terbuka pada Minggu (1/2/2026) lalu. Baginya, momen wisuda terasa personal. Bukan hanya soal ijazah, melainkan tentang pembuktian. 

“Pengalaman-pengalaman sebelumnya cukup membekas, dan hari ini menjadi pembuktian bagi saya bahwa saya mampu menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana di UT meskipun dengan berbagai keterbatasan yang ada,” ucap sarjana UT itu.

“Nggak ada kata terlambat buat belajar. Disabilitas bukan alasan berhenti berkembang,” lanjutnya. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Alasan Saya Mengabaikan Pengumuman Lolos di UGM, Lebih Pilih Kuliah di Universitas Terbuka Malang untuk Bertahan Hidup dan artikel Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version