Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO

ilustrasi - Kuliah Unair di Jurusan Elite, Lulusnya Masih Sulit Cari Kerja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Awalnya Rahma mengira setelah lulus dari kampus top seperti Universitas Airlangga (Unair), jalannya mencari kerja bakal lebih mudah. Apalagi, profesi yang ia tuju sudah jelas dan selinier dengan jurusannya, yakni Kebidanan. Namun, ia pun tak terhindar dari cap fresh graduate nganggur.

Terkena layoff setelah kerja baru beberapa bulan

Setelah menyelesaikan kuliah di Jurusan Kebidanan Unair selama 4 tahun, Rahma diwajibkan mengikuti pendidikan profesi jika ingin melanjutkan karier di bidang tersebut. Meski harus lembur dan tanpa dibayar, Rahma rela bersusah payah mewujudkan mimpinya.

“Aku harus menyesuaikan jam kerja serta praktik ke pasien. Jika senggang, aku mesti menyelesaikan laporan kasus karena di Unair ada target per kompetensi. Belum lagi kalau ada tugas membuat makalah, sampai ikut penyuluhan di Puskesmas,” tutur Rahma saat dihubungi Mojok, Minggu (5/4/2026).

Setelah melalui proses itu semua selama 2 tahun, Rahma akhirnya diterima kerja di sana. Namun, baru beberapa bulan kerja dirinya terkena layoff imbas dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Tak pelak, ia pun merasa kecewa apalagi statusnya masih fresh graduate yang kurang pengalaman.

“Aku sampai overthinking dan stres. Mulai cari-cari kesalahanku dan merasa jadi orang paling bodoh,” kata Rahma.

Perasaan itu muncul kurang lebih selama seminggu. Mau dialihkan dengan cara apa pun, kata Rahma, pikiran negatifnya tak mau hilang. Meski terjebak dalam lingkaran setan, Rahma masih rutin mengirim lamaran kerja.

Lulus dari Unair tak menjamin dapat kerja dan gaji layak

8 bulan pun berlalu usai Rahma terkena layoff. Ia yang tadinya masih semangat mengejar karier sebagai bidan, sempat putus asa dan ingin mencari pekerjaan lain. Ia sudah kecewa dengan asumsinya sendiri bahwa lulusan kampus top seperti Unari bakal membuka peluangnya lebih besar tapi ternyata tidak. 

“Aku kira dengan kuliah S1 Unair plus profesi yang kujalani hampir 6 tahun ini, bakalan gampang cari kerja, tapi ternyata setelah aku cari sana-sini, banyak lowongan kerja yang nggak fresh graduate friendly. Kalaupun ada, gajinya bakal jauh di bawah UMR,” jelas Rahma.

Memang benar fresh graduate seharusnya ada di fase memperbanyak pengalaman. Ironinya, hal itu justru dimanfaatkan oleh klinik kecil untuk menggaji fresh graduate yang jumlahnya bahkan nggak sampai setengah UMR. 

“Aku juga sudah coba cari di website lain, ternyata kapoknya kurang lebih sama. Kerasa banget ditampar kenyataan. Berarti betul kata orang-orang, kalau kamu nggak punya niatan kuat jadi tenaga kesehatan, mending mundur,” lanjutnya.

Tantangan selama kuliah di Unair jauh lebih sulit

Untungnya, Rahma tak memilih menyerah. Alih-alih banting setir ke pekerjaan lain, motivasinya untuk menjadi bidan jauh lebih kuat. Apalagi, jika ia mengingat perjuangannya dulu saat menempuh pendidikan tinggi di Unair selama Covid-19. 

Lebih dari itu, ada satu momen mengharukan yang bikin dia keukeuh jadi bidan. Momen di mana ia melihat langsung perjuangan seorang ibu melahirkan bayinya dengan taruhan nyawa. Tak sampai di situ, Rahma juga pernah praktik langsung di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Sebuah ruangan perawatan intensif untuk bayi baru lahir yang memerlukan penanganan khusus.

“Di sana aku melihat banyak bayi yang prematur, lebih kecil dari bayi lainnya. Lalu bayi tanpa tempurung kepala, hingga bayi yang kesulitan bernafas,” kata dia.

Tak ayal, momen itu menguras emosinya sebab ada perasaan sedih yang berkecamuk. Setelah melihat perjuangan seorang ibu dalam proses persalinan, ia harus melihat perjuangan bayi yang bertahan dan berusaha hidup dengan melawan penyakit. 

Mental baja alumnus Unair

Berdasarkan keyakinan dan semangatnya menempuh karier sebagai bidan, Rahma akhirnya diterima kerja di salah satu klinik kecil setelah 8 bulan menanti. Meski gajinya tak seberapa, ia lebih memilih kerja di saat teman-temannya yang lain sibuk memperdalam skill dengan ikut pelatihan alih-alih bekerja.

“Aku sendiri sudah nyaman di sini. Aku juga lagi reach out lebih dalam dan pelan-pelan planning, apa kemauanku untuk ke depannya,” ujarnya.

“Memang nggak mudah, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk asah skill maupun kumpulin uang buat jalanin apa yang sudah aku rencanakan, tapi aku selalu percaya usaha itu nggak akan pernah mengkhianati hasil,” lanjutnya.

Pada akhirnya, alumnus Unair itu sadar untuk menikmati prosesnya alih-alih menyalahkan keadaan. Ia berharap usahanya tidak sia-sia dan bisa menolong ibu maupun bayi mereka agar tetap sehat, baik di fase sebelum, saat, dan sesudah persalinan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Unair Surabaya Memang Kampus Impian, tapi PTS Kecil di Solo yang Menghidupkan Kembali Mimpi Saya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version