Tak berhenti sampai di situ, Rif’an juga tertolong berkat program asrama pembinaan kepemimpinan tahun 2014, yang kini dikenal sebagai Rumah Kepemimpinan. Dari sana, ia mendapat bantuan tempat tinggal sekaligus uang saku bulanan sekitar Rp500 ribu.
Namun, muncul stigma bahwa mahasiswa yang bekerja di warnet pasti lulusnya lama. Mendengar hal itu, Rif’an memberanikan diri untuk menemui Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Fakultas Geografi UGM, guna menceritakan alasannya bekerja paruh waktu di warnet.

Untuk pertama kalinya, Rif’an bisa menabung dari uang saku bulanan tersebut. Dari program itu pula, ia bisa merasakan bepergian ke luar negeri untuk pertama kalinya.
“Aku ikut perjalanan singkat ke Kuala Lumpur bersama teman-teman asrama,” dikutip dari laman resmi UGM.
Lanjut kuliah S2 di Amerika setelah wisuda UGM
Singkat cerita, Rif’an akhirnya lulus dan mendapat gelar Sarjana di UGM. Setelah itu, ia mulai mencari-cari beasiswa hingga lolos beasiswa LPDP luar negeri pada tahun 2018. Bersamaan dengan itu, Rif’an juga diterima kuliah S2 di Arizona State University, Amerika Serikat (AS).

Setibanya di AS, Rif’an dibantu oleh komunitas mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia untuk mencari tempat tinggal. Berkat mereka pula, Rif’an bisa beradaptasi. Tanpa menghilangkan prinsip hidupnya untuk berhemat, Rif’an lebih sering masak sendiri serta memanfaatkan food bank di kampus guna mendapat bahan makanan.
“Aku masih ingat, almarhum kyai Muhammad Khatib Masyhudi (guruku dulu) datang ke rumah waktu aku belum berangkat ke Amerika. Dia kasih uang saku yang menurutku cukup besar yakni Rp700 ribu. Lebih dari itu, aku juga bawa cash 200 USD, hasil utang beliau juga sebesar Rp20 juta,” ujar Rif’an.
Setelah berhasil bertahan di AS selama 15 bulan, Rif’an diimbau untuk pulang ke tanah air karena pandemi Covid-19. Alhasil, ia pulang dan menyelesaikan tesisnya di Indonesia hingga lulus pada tahun 2020.
Dari UGM, Amerika, hingga S3 di Belanda
Sepulang dari Amerika, Rif’an sempat bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kini, ia mengajar sebagai dosen di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.
Pada 2024, ia kembali meraih beasiswa LPDP dan melanjutkan kuliah S3 di Wageningen University & Research di Belanda dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air dan pertanian.
Mengingat usahanya kini, Rif’an sadar bahwa tiap usaha dan kesulitan yang tengah dijalani seseorang tidak akan pernah sia-sia. Selalu akan ada pelajaran yang bisa diambil, serta solusi yang dibukakan, asal kita tidak menyerah.
“Jika boleh menyampaikan pesan untuk siapa pun yang sedang berjuang, aku selalu percaya satu hal: Gusti mboten sare—Tuhan tidak pernah tidur,” kata alumnus UGM tersebut.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














