Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Cerita Mahasiswa UNESA Asal Bangkalan Madura yang Hanya Dijatah 50 Ribu per Minggu, Kehabisan Bensin di Jalan Sudah Biasa, tapi Tetap Semangat Menjalani Kuliah di Surabaya

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
6 Mei 2024
A A
Cerita Mahasiswa UNESA Asal Bangkalan Madura yang Hanya Dijatah 50 Ribu per Minggu, Kehabisan Bensin di Jalan Sudah Biasa, tapi Tetap Semangat Menjalani Kuliah di Surabaya uin jogja, madura

Cerita Mahasiswa UNESA Asal Bangkalan Madura yang Hanya Dijatah 50 Ribu per Minggu, Kehabisan Bensin di Jalan Sudah Biasa, tapi Tetap Semangat Menjalani Kuliah di Surabaya

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mahasiswa KIP asal Bangkalan Madura berbagi ceritanya yang hanya punya uang saku 50 ribu seminggu. Mahasiswa UNESA ini harus putar otak agar uangnya bisa cukup untuk seminggu.

***

Ketika saya dengar Mas Rohman berkata bahwa uang sakunya hanya 50 ribu per minggu (06/05/2024), saya tercengang dan menanyakan ulang. Dan, ya, benar, uang sakunya seminggu hanya 50 ribu.

Rohman (23) adalah mahasiswa UNESA asal Bangkalan Madura. Beliau berstatus sebagai pemegang KIP, dan itu sudah menjelaskan kenapa uang sakunya sedikit. Belakangan memang santer terdengar mahasiswa KIP gadungan yang aslinya kaya, tapi Mas Rohman bukan.

Rohman bercerita bagaimana dia bisa bertahan dengan uang saku yang sedikit itu. Baginya, uang saku itu cukup, meski memang harus berusaha dengan amat keras untuk berhemat. 25 ribu untuk bensin, 25 ribu untuk ngopi dan nugas. Bagaimanapun yang terjadi, itulah angka yang harus dia jaga.

Rohman sebenarnya juga merasa berat dengan uang saku ini. tapi untunglah dia diberi uang tambahan jika harus mengurus skripsi ke Surabaya. Kadang dia mendapat uang saku 100, itu pun masih tak cukup jika dia bisa tiga kali bolak-balik Bangkalan-Surabaya. Dia harus mengisi bensin sebesar 20 ribu rupiah jika harus PP Bangkalan-Surabaya. Lebih dari separuh uangnya sudah habis untuk bensin. Untuk keperluan lain, dia memilih untuk menahan diri.

“Pokoknya saya membatasi ke Surabaya maksimal 3 kali seminggu, Mas. Acara apa aja, kalau sudah keitung 4 kali, saya tolak, Mas.”

Rohman tak jarang kehabisan uang. Tak jarang juga dia kehabisan bensin, ban kempes, padahal masih di tengah perjalanan dan uang sudah menipis. Kalau sudah seperti itu, barulah dia minta tolong. Rohman mengaku, dia tak enakan orangnya, jadi dia meski tahu uangnya tak cukup, tetap berusaha ke Surabaya dengan apa yang dia punya. Misal adanya tinggal 20 ribu, ya sudah, berangkat. Dia hanya mau meminta bantuan saat benar-benar kepepet atau saat benar-benar tak bisa berusaha lagi.

Mahasiswa Bangkalan bergantung pada bantuan KIP

Untuk sekarang, Rohman melakukan apa yang dia bisa untuk menambal keuangan yang bolong sana-sini. Dia sempat mengajar TK. Kini, dia ikut Kampus Mengajar. Katanya lumayan untuk tambah uang saku, meski skripsinya jadi terbengkalai. Tapi itu semua baru bisa dia lakoni di semester 8. Selama tujuh semester sebelumnya, ya dia mau tak mau harus membatasi perjalanannya keluar dari Bangkalan.

Sebagai mahasiswa KIP, Rohman jelas bergantung pada bantuan yang pemerintah berikan. Saat KIP-nya cair itulah, dia merasa bisa lebih produktif dan tidak kebingungan dalam perkara keuangan. Dikutip dari Puslabdik Kemendikbud, bantuan untuk mahasiswa dengan skema KIP Kuliah Merdeka besarannya lumayan, dan tergantung dari klaster daerah. Bantuan terendah berkisar di angka 800 ribu hingga 1.4 juta rupiah.

Angkanya lumayan, tapi tak berarti menghilangkan rasa-rasa tak menyenangkan di hati Rohman.

Baca halaman selanjutnya

“Andai aku tak miskin…”

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2024 oleh

Tags: bangkalan maduraKIPSurabayauang sakuunesa
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO
Urban

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Ribuan istri di Surabaya minta cerai. MOJOK.CO
Ragam

Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup

30 Januari 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO
Ragam

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO
Ragam

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

3 Februari 2026
tan malaka.MOJOK.CO

Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi

6 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.