Seorang teman membagikan sejumlah link video media sosial dengan kalimat: almamatermu lagi viral!, disertai emoticon tawa terbahak. Setelah saya cek satu persatu, semua link tersebut berisi materi video yang sama: seorang wisudawati di UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) jatuh terjengkang dari atas panggung saat hendak melakukan selebrasi wisuda “minta difotoin rektor”.
Kronologi wisudawati UINSA jatuh terjengkang usai minta difotoin rektor
Peristiwa itu terjadi dalam prosesi Wisuda ke-115 Sesi III UINSA pada Minggu (26/7/2026). Bagian Kerjasama, Kelembagaan dan Humas UINSA Nur Hayati menjelaskan, saat itu seorang wisudawati berinisial ESH dari Fakultas Syariah dan Hukum memang hendak melakukan selebrasi wisuda saat giliran namanya dipanggil.
ESH lantas mengeluarkan ponsel, lalu menyodorkannya ke Plt Rektor UINSA, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag, untuk memfotokan dirinya dengan latar belakang seluruh wisudawan-wisudawati di dalam ruangan. Nahasnya, saat ESH berjalan mundur untuk mengambil posisi, ia justru kebablasan hingga jatuh terjengkang.
Kegaduhan tidak hanya terjadi di ruangan wisuda. Tak berselang lama dari terjadinya peristiwa yang terekam dalam siaran langsung kanal YouTube UINSA tersebut, potongan video ESH terjengkang lantas tersebar di mana-mana. Awalnya hanya satu-dua akun. Tapi lama-lama merembet ke banyak akun lain.
Setiap akun yang mengunggah potongan video tersebut pun langsung dibanjiri komentar. Kebanyakan netizen menyebut, selebrasi minta difotoin rektor sangat jauh dari kepantasan.
Lihat postingan ini di Instagram
Selebrasi di panggung wisuda jadi tren untuk meluapkan “kemenangan”
Tren selebrasi di panggung wisuda memang sudah menjadi tren baru pasca Covid-19. Entah bagaimana mulanya, di media sosial banyak bertebaran potongan video: usai menerima ijazah dan bersalaman dengan rektor di atas panggung, si wisudawan/wisudawati lantas akan berhenti sejenak di depan kamera (yang biasanya untuk merekam live streaming di kanal YouTube resmi kampus) untuk melakukan selebrasi.
Yang paling umum ditemui: selebrasi “siu” ala Cristiano Ronaldo, menunjukkan quote lucu di kertas yang memang sudah disiapkan, hingga gestur tangan velocity atau joget-joget ala TikTok yang memang lagi ngetren dan banyak diduplikasi.
Sebagai wisudawan yang lulus sebelum tren semacam itu melonjak, saya dan sejumlah teman seangkatan jelas sangat tidak relate. Dulu kami mengikuti prosesi wisuda di UINSA justru dengan khidmat. Dan bagi kami, naik panggung justru jadi rangkaian prosesi yang sejujurnya tidak begitu kami sukai: rasanya ingin cepat-cepat berlalu. Malu saja rasanya dilihat banyak orang. Serba kikuk.
Setelah saya tanyakan ke teman-teman angkatan di bawah saya, selebrasi di panggung wisuda sebenarnya memiliki dua motif: sebagai bentuk meluapkan kemenangan karena akhirnya lulus juga setelah drama-drama perskripsian atau memang buat gaya-gayaan saja.
Tren selebrasi di panggung wisuda: mengejar atensi maya karena momen sekali seumur hidup
Jika dilihat dari disiplin Sosiologi, fenomena “memaksakan diri” untuk terlihat lebih unik bahkan nyeleneh saat selebrasi wisuda tidak lain karena dampak nyata dari attention-seeking behavior. Yakni ketika banyak orang mengejar atensi virtual demi validasi diri melalui jumlah likes dan komentar dari foto/video yang diunggah di media sosial.
Mengacu pada teori Sosiolog Jean Baudrillard mengenai Simulakra, realitas buatan (dalam hal ini konten media sosial) kini dianggap lebih penting daripada realitas aslinya (prosesi wisuda itu sendiri). Alhasil, nilai kesakralan institusi akademik perlahan bergeser menjadi komoditas visual yang harus dikonsumsi publik.
Pengakuan teman-teman angkatan di bawah saya, wisuda adalah momen sekali seumur hidup. Mencapainya juga harus dengan “berdarah-darah”, misalnya karena harus menghadapi dosen pembimbing yang ilang-ilangan.
Oleh karena itu, di momen wisuda—sebagai puncak dari proses panjang masa studi di kampus—mereka tidak ingin membiarkan momen tersebut berlalu tanpa kesan. Salah satu bentuk menciptakan kesan yang belum tentu bisa terulang tersebut akhirnya diwujudkan dengan melakukan selebrasi seunik mungkin. Selain memang ada faktor dorongan FOMO yang melatarbelakanginya: hasrat tidak ingin ketinggalan sesuatu yang tengah jadi tren massal.
POV difotoin rektor: pergeseran batas hierarki formal
Saat melihat wisudawati UINSA minta difotoin rektor, netizen berasumsi bahwa si wisudawati nantinya ingin mengunggah foto dengan keterangan: POV difotoin rektor. POV yang terlihat keren. Secara yang memfoto rektor loh ini, sosok yang punya posisi tinggi di kampus.
Banyak netizen menilai tindakan tersebut sudah kelewat batas. Tidak memenuhi standar sopan santun terhadap orang yang seharusnya paling disegani/dihormati.
Lihat postingan ini di Instagram
Fenomena minta difotoin rektor ini memperlihatkan apa yang dalam Sosiologi disebut sebagai de-tradisionalisasi, yakni pergeseran batas-batas hierarki sosial yang sebelumnya dianggap mapan.
Dalam prosesi wisuda, rektor secara simbolik menempati posisi otoritas tertinggi di lingkungan akademik. Kehadirannya bukan sekadar individu yang membagikan ijazah, melainkan representasi institusi, legitimasi ilmu pengetahuan, sekaligus penanda keberhasilan mahasiswa menyelesaikan proses pendidikan.
Namun, di era media sosial, simbol otoritas tersebut telah mengalami pergeseran. Jika menggunakan pendekatan pemikiran Sosiolog Anthony Giddens dalam Modernity and Self-Identity, de-traditionalization membuat relasi sosial masyarakat modern tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh struktur hierarkis, melainkan oleh pilihan-pilihan reflektif individu. Dalam konteks ini, mahasiswa merasa memiliki keleluasaan untuk berinteraksi dengan rektor secara lebih egaliter, sesuatu yang mungkin dianggap tidak lazim oleh generasi sebelumnya.
Evaluasi selebrasi berlebihan
Peristiwa terjengkang usai minta difotoin rektor tidak hanya membuat si wisudawati viral di mana-mana. Nama kampus UINSA pun turut muncul sebagai headline unggahan banyak akun media sosial.
Atas peristiwa tersebut, pihak kampus menegaskan akan melakukan evaluasi agar wisudawan/wisudawati tidak melakukan selebrasi berlebihan sehingga peristiwa serupa tidak terulang.
“Tentunya akan kami evaluasi lebih lanjut. Meskipun sebenarnya kami juga sudah kerapkali mengimbau para wisudawan ketika Gladi Bersih supaya tidak melakukan selebrasi yang berlebihan saat prosesi wisuda. Untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan,” tegas Bagian Kerjasama, Kelembagaan dan Humas UINSA Nur Hayati dikutip dari DetikJatim.
Lebih lanjut, Nur Hayati memahami selebrasi dari si wisudawati. Hanya saja, memang perlu diingatkan kembali soal kehati-hatian selama di atas panggung.
“Namanya juga anak muda, ingin mengabadikan momen seumur hidup sekali. Tapi yang ndilalah pas apes. Semoga jadi pelajaran bagi kita semua, termasuk tim pelaksana wisuda untuk bisa lebih hati-hati lagi,” ungkap Nur Hayati.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














