Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

mabar game online.MOJOK.CO

llustrasi - game online (mojok.co/Ega Fansuri)

Suasana nongkrong semakin membosankan gara-gara game online. Teman-teman tongkrongan hanya sibuk mabar. Kita malah dicap nggak asyik kalau tak ikut main.

***

Belakangan ini, saya semakin malas merespons ajakan nongkrong di luar. Kalau tidak ada undangan yang benar-benar penting dan mendesak, saya lebih memilih mendekam di kamar kos

Keputusan ini bukan karena saya tiba-tiba berubah menjadi ansos. Namun, karena saya mulai sadar kalau pertemanan itu punya lapisannya sendiri, dan tidak semuanya layak mengorbankan jam istirahat kita.

Secara garis besar, saya membagi teman-teman ke dalam dua lingkar pertemanan. Pertama, inner circle. Ini adalah tempat saya bisa deep talk, membahas banyak hal dari yang sangat receh sampai urusan masa depan. Sayangnya, karena sudah sama-sama dewasa dan punya kesibukan masing-masing, kami paling banter cuma bisa bertemu sebulan sekali.

Kedua, outer circle. Isinya campur aduk. Mulai dari teman zaman kuliah, teman kumpul ngomongin gogon musik, atau teman yang dulu rutin fafifuwasweswos soal ijazah Jokowi. Karena inner circle sangat jarang kumpul, ajakan keluar rumah praktis lebih sering datang dari geng lingkar luar ini. 

Masalahnya, di tongkrongan kedua inilah bersarang sebuah kebiasaan menyebalkan yang belakangan bikin saya muak keluar kos. Kalian tahu lah: virus mabar.

Gara-gara game, ruang obrolan berubah jadi arena umpatan

Suatu malam, saya tergoda mengiyakan ajakan ngopi mereka. Ekspektasi di kepala saya sederhana saja: saya ingin adu argumen terkait MBG, bertukar cerita soal kerjaan, atau sekadar tertawa lepas menertawakan kerasnya hidup.

Namun, begitu sampai di kafe dan kopi mendarat di meja, pemandangan “horor” itu dimulai. Semua ponsel di meja serentak diputar ke posisi mendatar. Istilah kekiniannya: sindrom HP miring.

Ruang obrolan mendadak mati. Suasana tongkrongan berganti menjadi riuh dengan umpatan.

Namun, tunggu sebentar! Sebelum dicap macam-macam, mari kita luruskan satu hal. Jangan salah sangka, saya sama sekali bukan pembenci game. Kalau urusan main PES bareng teman atau simulasi Football Manager, saya sanggup duduk menatap layar selama dua hari tanpa henti. 

Saya sangat paham asyiknya bermain game.

Namun, yang saya keluhkan adalah hilangnya kesadaran soal tahu waktu dan tahu tempat. 

Menurut kepercayaan yang saya anut sejak dulu, esensi nongkrong itu ya untuk saling ngobrol. Kalau dari awal niatnya cuma mau menatap layar ponsel masing-masing, untuk apa kita repot-repot mandi dan membuang waktu serta uang membeli kopi mahal di luar? 

Toh, agenda main bareng atau mabar itu bisa dilakukan sambil rebahan di kasur masing-masing.

Dicap “nggak asyik” karena tak ikut mabar

Malam itu, di kafe yang cukup bising, saya benar-benar bosan. Saya duduk canggung seperti obat nyamuk selama berjam-jam, hanya bisa memandangi pengunjung lain yang hanyut dalam obrolan. 

Sesekali saya melirik jam tangan. Kalau saya nekat nyeletuk untuk memancing obrolan, balasannya cuma gumaman pendek tanpa ada satu pun yang sudi menatap mata saya.

Puncaknya terjadi ketika saya mulai menampakkan wajah bosan dan berniat pamit pulang duluan. Bukannya merasa bersalah karena sudah mengabaikan temannya, mereka justru meng-gaslight saya.

“Ah, kamu sekarang garing banget. Nggak asyik,” celetuk salah satu dari mereka sambil ibu jarinya tetap sibuk menekan layar. “Makanya download gamenya dong biar membaur, main bareng kita!”

Kira-kira begitu yang mereka katakan.

Bagi saya, ini manipulasi psikologis. Saya yang datang membawa niat tulus untuk bersilaturahmi dan menuntut komunikasi normal, justru dihakimi sebagai perusak suasana. Saya disalahkan hanya karena menolak tunduk pada tren mabar di meja kafe.

Niat menenangkan diri, malah tambah dongkol karena teman asyik main game

Rupanya, nasib tragis ini tidak cuma menimpa saya. Hal ini diamini oleh seorang teman saya, namanya Bagas (26). Ia adalah satu-satunya non-gamer di geng tongkrongannya. Berbeda dengan saya yang masih bisa menikmati beberapa game, Bagas ini tipikal orang yang nggak pernah main game.

Pengalaman Bagas, menurut saya, bahkan jauh lebih ngenes dan tragis dari sekadar menjadi obat nyamuk. 

Ia bercerita, suatu malam dirinya datang ke tongkrongan dengan kepala mumet. Hari itu, ia baru saja mengalami masalah keluarga dan sedikit problem di kantor. Niatnya datang ke kafe malam itu adalah untuk mencari ketenagan.

Ia ingin menumpahkan keresahan. Mencari empati dari teman-temannya, atau setidaknya butuh pendengar agar kewarasannya tetap terjaga.

Namun, apa yang ia dapatkan? Saat Bagas mencoba membuka cerita soal nasib apesnya, teman-temannya malah asyik main game. Tanggapan yang keluar dari mulut mereka hanya kalimat-kalimat ngelantur tanpa kontak mata.

Selama beberapa jam berikutnya, Bagas hanya bisa duduk mematung. Teman-temannya terlalu sibuk memaki tim lawan hingga lupa ada temannya sendiri yang sedang hancur di meja yang sama. 

“Sejak saat itu aku nggak percaya lagi sama ajakan nongkrong,” kata Bagas, Kamis (23/4/2026).

Eksistensi diakui di tongkrongan kalau ikut mabar

Keresahan yang dialami saya dan Bagas ini ternyata skalanya jauh lebih masif dari yang saya duga. Belakangan ini, kalau kita rajin mengecek media sosial seperti Threads dan X, linimasanya penuh dengan curhatan serupa. 

Banyak orang mengeluh dan merasa konyol karena sudah dandan maksimal hanya untuk disuruh menonton teman-temannya main game.

Ada satu celetukan viral di Threads yang sangat mewakili keresahan ini. Kata salah satu netizen ini, “Definisi ‘membaur’ zaman sekarang aneh banget. Kita disuruh buang kuota download game ratusan mega cuma biar eksistensinya diakui di tongkrongan.” 

Membaca luapan kekesalan netizen itu membuat saya sedikit lega. Ternyata, saya tidak sedang baperan sendirian. “Virus” mabar yang membunuh ruang obrolan ini memang fenomena kolektif.

Tapi, game adalah pelarian dari kekalahan-kekalahan di dunia nyata

Namun, di balik rasa jengkel itu, Bagas sebenarnya punya sudut pandang yang cukup “adil”. Bagi Bagas, fenomena meja kafe yang berubah menjadi arena mabar ini punya sisi psikologis yang patut dimaklumi. 

Ia melihat kecanduan teman-teman kami bukan sekadar perkara serunya permainan. Itu adalah bentuk pelarian dari kerasnya realitas menjadi orang dewasa.

“Di usia yang makin bertambah ini, hidup memang sedang capek-capeknya,” kata Bagas. “Di dunia nyata, kerja keras kita seringkali nggak dihargai. Nah, satu-satunya pelarian untuk bisa menjadi pemenang, ya main game, karena di sana aturannya jauh lebih adil.”

Menurutnya, kemenangan di game memberikan suntikan dopamin dan ilusi pencapaian yang gagal mereka dapatkan di dunia nyata. Sistem game memberikan apresiasi instan yang sangat dirindukan oleh pekerja-pekerja yang kelelahan dihajar realitas.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: MUchamad Aly Reza

BACA JUGA: Gara-gara Slot, Suasana di Desa Tak Sehangat Dulu Lagi: dari Ronda Malam sampai Tahlilan, Tak Pernah Absen Main Judol Jahanam atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version