Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi

tan malaka.MOJOK.CO

Ilustrasi - Tan Malaka "Hidup Lagi": Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi (Mojok.co/Ega Fansuri)

Tan Malaka seperti hidup lagi. Karya-karyanya, kini, mulai banyak digemari oleh muda-mudi. Mulai dari yang suka ngopi, hingga yang rajin turun aksi.

***

Di sudut-sudut kedai kopi kekinian, ada pemandangan yang mulai berubah. Perhatikan saja meja sebelah kamu. 

Dulu, di sela-sela obrolan fafifuwasweswos, yang tergeletak di sana biasanya adalah buku-buku self-help. Kalau tidak, ya, buku psikologi populer “seni untuk” menyembuhkan luka batin ataupun pengembangan diri.

Namun, belakangan ini, sampul-sampul itu berganti warna menjadi merah atau hitam, dengan menampilkan siluet wajah seorang pria, yang saya sendiri tak asing dengannya: Tan Malaka.

Betul, Tan Malaka “hidup lagi”. Karya-karyanya mulai digandrungi anak muda. Bahkan di media sosial, pembicaraan soal Bapak Republik Indonesia ini sama nyaringnya. Sebagai penggemar dan pembaca karya-karyanya, tentu saya sangat senang dengan fenomena ini.

Saya semakin sadar betapa masifnya fenomena ini setelah menonton obrolan berdurasi satu jam antara Pangeran Siahaan dan Zen RS di kanal YouTube Asumsi. Mereka menyebutnya sebagai “Tan Malaka Revival”. 

Ternyata, “kebangkitan” ini bukan sekadar perasaan saya saja. Kalau mau cek data, ternyata anak muda kini mulai menaruh minat besar pada buku-buku bergenre sejarah dan sosial-politik, seperti buku-buku Tan Malaka.

Menurut hasil “Survei Preferensi Membaca Buku di Era Digital 2025” yang dirilis oleh GoodStats (bekerja sama dengan beberapa entitas literasi), selera pasar pada buku-buku bergenre sejarah dan ilmu sosial politik memang melonjak drastis.

Meskipun buku genre pengembangan diri masih memimpin dengan 65 persen, genre sejarah dan sosial-politik melesat ke angka 60,1 persen. Pertumbuhan drastis 20-30 persen pada tema politik dan sejarah terjadi pasca-pemilu 2024. 

Data beberapa distributor buku juga menunjukkan bahwa penjualan buku sosial-politik, sejarah, dan fiksi sejarah kini melonjak drastis, bahkan mengalahkan buku-buku manajemen dan psikologi yang sebelumnya merajai pasar.

Ada apa dengan anak muda hari ini? Mengapa buku yang dulu “dilarang dan ditakuti”, kini justru menjadi teman ngopi”?

Anak muda butuh jawaban atas situasi dunia yang fucked up

Zen RS, editor sekaligus orang yang akan menerbitkan kembali salah satu karya penting Tan Malaka, Naar de Republiek Indonesia, memberikan analisis yang membuat saya mengangguk setuju. 

Anak muda zaman sekarang, terutama yang sekuler, sedang bingung menghadapi dunia yang kacau balau atau—meminjam istilah Zen—”fucked up”. 

“Kita melihat perang di Gaza, konflik di Ukraina, hingga dinamika politik dalam negeri yang membingungkan dengan kemunculan ‘tokoh-tokoh lama’,” ujarnya dalam obrolan tersebut..

Di tengah kekacauan ini, narasi motivasi ala “kamu pasti bisa sukses” terasa tidak lagi mempan. Kita tidak butuh disemangati. Kata Zen, “kita butuh jawaban struktural mengapa dunia ini berantakan.” 

Zen menyebutkan bahwa buku-buku seperti karya Tan Malaka menjadi pegangan atau jangkar intelektual bagi mereka yang mencari pemahaman di tengah situasi dunia yang tidak menentu. Jadi, membeli buku Tan Malaka hari ini bukan sekadar hobi, melainkan respons atas kecemasan eksistensial.

Maka, jangan heran kalau di media sosial banyak orang mulai berdiskursung riang soal pemikiran-pemikiran Tan Malaka. Atau, tiba-tiba, secara random, kamu ketemu orang yang lagi ngopi sambil baca Madilog.

Awas jebakan “performative male”

Namun, Pangeran Siahaan melemparkan satu kekhawatiran yang valid. Ia teringat masa tahun 1998, saat wajah Che Guevara tiba-tiba muncul di mana-mana–di kaos, topi, poster–tetapi esensi perjuangannya seringkali luput. 

Tan Malaka, katanya, kini berisiko mengalami nasib serupa.

Ada bahaya bahwa orang mulai menggandrungi Tan Malaka untuk sekadar gaya-gayaan. Istilah kerennya: “performative”. Membawa buku Madilog atau Naar de Republiek Indonesia supaya terlihat intelektual, terlihat progresif, atau sekadar ikut tren performative male.

Tetapi, apakah itu salah? Zen, sih, dengan santai bilang: “sebenarnya tidak apa-apa juga kalau cuma baca buku dan tidak melakukan aksi nyata”. Namun, ia menekankan betapa jauh lebih kerennya jika seseorang tidak hanya membaca, tetapi juga menjadi “kombatan” di lapangan. Membaca adalah langkah awal, bukan garis finis.

Jadi, buat kamu yang membaca buku Tan Malaka tapi masih takut ikut aksi, atau masih nyinyir ketika buruh demo, nggak apa-apa. Kalau kamu udah menamatkan Madilog tapi belum paham juga, kamu tidak salah. Namun, kalau kata Zen, alangkah kerennya kalau membaca dibarengi aksi nyata.

Buku Tan Malaka pernah disangka rencana perang

Oleh karena itu, Zen melanjutkan, di sinilah letak pentingnya buku yang mereka bahas secara spesifik: Naar de Republiek Indonesia. Zen RS baru saja menerbitkan ulang buku ini dengan “catatan kritis”. Pertanyaannya, mengapa buku ini penting?

Pertama, ini adalah dokumen tertulis pertama yang menyebut kata “Republik Indonesia”. Jauh sebelum Sukarno memproklamasikan kemerdekaan, Tan Malaka sudah punya rencana untuk membangun sebuah republik bernama “Indonesia”

Kedua, buku ini adalah pintu masuk paling ramah untuk mengenal Tan Malaka. Sebab, Madilog itu “seram” dan butuh energi besar untuk memahaminya, sementara kalau Dari Penjara ke Penjara, meminjam kata Zen, “terlalu diary”. 

Naar de Republiek adalah jembatan yang pas; ia mengajarkan bahwa berpikir itu penting, tetapi harus dalam kerangka perubahan,” kata dia.

Saya tertawa kecil saat mendengar fakta sejarah yang ironis dari Zen. Dulu, pemerintah kolonial Belanda dan intelijennya gemetar melihat buku ini. Mereka salah baca (misreading) habis-habisan. 

Laporan intelijen tahun 1927 menyebut buku analisis politik ini sebagai “rencana perang” dan panduan pemberontakan PKI 1926. Padahal, Tan Malaka justru menentang pemberontakan itu karena dianggap belum waktunya. Ketakutan membuat penjajah melihat hantu di siang bolong.

Sebagai orang yang membaca Naar de Republiek pada semester satu kala kuliah dulu, jujur saya baru tahu fakta ini. Fakta ini juga yang bikin saya makin tak sabar menanti terbitan baru yang sudah dilengkapi catatan kritis itu.

Karya Tan Malaka adalah tamparan keras untuk “kelas menengah ngehe”

Bagian yang paling menohok bagi saya–dan mungkin bagi banyak anak muda yang bekerja di korporat–adalah alasan Zen RS memberikan catatan kritis dan catatan kaki yang ekstensif. 

Tan Malaka menulis buku ini aslinya dalam bahasa Belanda. Jadi kelihatan, bahwa target pembacanya bukan petani atau buruh kasar, melainkan kaum intelektual dan kelas menengah seperti kita. Tan ingin memberikan “tangga” agar kaum terpelajar mau turun melihat realitas.

Zen mengutip satu paragraf Tan Malaka yang rasanya seperti tamparan keras: “Akan datang satu masa bahwa kapitalisme kolonial yang sekarang masih dapat menggunakan tenagamu akan membuang kaummu seperti sepah yang habis manisnya”.

Kalimat ini ditulis 100 tahun lalu, tetapi rasanya sangat relevan dengan isu layoff, ketidakpastian kerja, dan kerentanan kelas menengah hari ini. Tan Malaka seolah berteriak dari masa lalu: kenyamanan intelektual kalian itu semu.

Sudah saatnya merobek tirai pembatas?

Lantas, bagaimana mengubah gaya menjadi aksi? Bagaimana supaya tidak cuma jadi “anak skena” yang menenteng buku kiri tapi apatis?

Zen RS bercerita bahwa Tan Malaka sendiri berubah dari seorang yang teoritis menjadi aktivis lapangan karena benturan kondisi material. Dia melihat langsung penderitaan kuli kontrak di Deli dan merasakan kemiskinan saat sakit di luar negeri.

Kemiskinan dan ketimpangan yang dilihat mata kepala sendiri itulah yang mengubah orientasi hidupnya.

Zen memberikan pandangan optimis: sebenarnya jarak antara kemarahan kita (soal penggusuran, pendidikan mahal, korupsi) dengan aksi nyata itu sangat dekat. Masalahnya, ada “tembok” atau “tirai” tak kasat mata yang memisahkan kita yang cuma mengeluh dengan mereka yang bergerak di lapangan. 

Tugas kita adalah merobek tirai itu. Begitu tirai robek, kita akan sadar bahwa medan juang itu ada di mana-mana. Begitu kira-kira kata Zen.

Jadi, sebagai penutup tulisan ini, sudahkah kalian membaca (dan memahami) buku-buku Tan Malaka hari ini?

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Siasat Kelompok Pencuri Buku di Jogja: Robin Hood atau Krimininal? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version