Stasiun maupun terminal Madiun bisa dibilang merupakan tempat pemberhentian terbaik bagi orang-orang yang melakukan perjalanan jauh, terutama di jalur selatan (rute Jogja-Surabaya).
Sejak tahun 2024, saya menjadi sangat akrab dengan dua moda transportasi di rute Jogja-Surabaya. Untuk bepergian di rute ini, sesekali saya memilih menggunakan bus ekonomi, tidak jarang pula menggunakan kereta api.
Sepanjang pengalaman mobilitas di rute dan dengan dua transportasi darat tersebut, saya akhirnya menyadari bahwa Madiun—baik di stasiun maupun di terminal—memang menjadi pemberhentian terbaik bagi penumpang yang tengah dalam perjalanan jauh.
Jadi titik pemberhentian karena faktor jarak psikologis
Kalau kereta api di rute Jogja-Surabaya, memang pasti berhenti agak lama di Stasiun Madiun. Sebab, ada kebutuhan mengisi tangki air atau menunggu persilangan dengan kereta api lain.
Sementara untuk bus ekonomi, saya pernah berbincang singkat dengan seorang kondektur bus ekonomi Sri Tanjung perihal alasan kenapa selalu memilih berhenti lama di Terminal Madiun.
Alasannya: bagi sopir dan kru bus rute Jogja-Surabaya, seolah sudah tertanam jarak psikologis pada mereka bahwa Madiun adalah titik tengah dalam rentang jarak yang cukup panjang antara Jogja dengan Surabaya.
Sehingga, sudah barang pasti target pertama setelah bus keluar dari lorong keberangkatan terminal awal (baik Surabaya maupun Jogja) adalah lekas sampai ke Terminal Madiun agar bisa rehat sejenak. Jeda itu menjadi penting karena bablas tentu akan sangat melelahkan.
Nah, tidak hanya bagi kru transportasi, pemberhentian di Madiun pun menjadi “berkah” sendiri bagi para penumpang.
Pemberhentian di Stasiun Madiun: nikmat bagi yang mulutnya sudah kecut
Kereta api memang hanya berhenti sekitar 10 menitan di Stasiun Madiun. Namun, ketika speaker gerbong mengumumkan kereta akan memasuki Stasiun Madiun, sejumlah penumpang laki-laki langsung beranjak dari kursinya, menuju area penghubung, bersiap turun.
Mereka adalah kelompok laki-laki ahli hisap alias perokok yang mulutnya sudah merasa kecut setelah beberapa jam “berpuasa” tidak merokok di dalam gerbong. Tentu tidak ada penumpang yang nekat melanggar aturan keras KAI tersebut jika tidak mau diturunkan di sembarang stasiun.
Saat kaki sudah menginjak peron, mereka lantas bergegas mencari sudut merokok, lalu secara tergesa menyulut korek. “10 menit, tetap lumayan,” kalimat itu, secara kebetulan, selalu saya dengar dari para perokok tiap kami sama-sama turun di Stasiun Madiun.
Tampak betul mereka menikmati momen 10 menit tersebut. Terlihat dari cara mereka menghisap batang udud dalam-dalam. Ya walaupun ada juga tipe orang yang asal kebal-kebul karena merasa diburu waktu yang hanya 10 menit itu. Meski begitu, pemberhentian di Stasiun Madiun tetap menjadi oase yang sangat dinikmati.
Memberi napas orang tua yang anaknya rewel di kereta
Dalam banyak perjalanan, saya kerap menjumpai orang tua (bapak-bapak maupun ibu-ibu) yang harus berusaha keras mendiamkan agak anaknya tidak rewel terus-menerus.
Namanya juga anak-anak, pasti mengalami kejenuhan di dalam kendaraan. Selalu merengek ingin turun.
Orang tua pun mau tidak mau harus mengupayakan banyak cara agar anaknya berhenti rewel, karena takut rengekan si anak bakal mengganggu penumpang lain. Pilihannya mentok pada: mengajak anak berjalan-jalan maju-mundur dari ujung ke ujung gerbong. Sesekali berhenti di area penghubung untuk melihat pemandangan luar.
Maka, ketika situasinya buntu, pemberhentian di Stasiun Madiun memberi napas bagi orang tua. Setidaknya bisa mengajak anaknya keluar gerbong untuk menghirup udara luar sembari berjalan-jalan di peron.
Terminal Madiun: oase bagi penumpang bus yang tidak punya banyak keleluasaan
Salah satu tantangan krusial bagi penumpang bus ekonomi adalah kebelet buang air, mengingat tidak ada fasilitas toilet di dalamnya.
Sementara ia tidak punya keleluasaan untuk meminta sopir berhenti. Sehingga mau tidak mau harus menahan betul sampai si sopir memutuskan berhenti dengan sendirinya. Karena kalau penumpang request berhenti, agaknya susah dipenuhi.
Oleh karena itu, ketika bus sudah mendekati Madiun, penumpang—termasuk saya—pasti langsung bernapas lega. Sebab, sudah pasti bus akan masuk terminal dan berhenti agak lama.
Sopir pun akan memberi pengumuman—lewat teriakan—bahwa bus akan berhenti agak lama, sehingga penumpang punya kesempatan untuk ke toilet.
Tidak hanya toilet, bagi saya pribadi, berhenti di Terminal Madiun kemudian menjadi momen untuk dua hal lain. Satu, sebagai momen untuk meregangkan badan dan mengangkat bokong yang sudah mulai panas. Lalu dua, menjadi momen menghela napas karena sebelumnya dibuat sport jantung lantaran bus melaju ugal-ugalan.
Bukan jajanan template
Bagi yang ingin mengganjal perut pun, pemberhentian di Terminal Madiun dirasa cukup ideal karena memang ada banyak penjaja makanan maupun jajanan, baik asongan maupun beberapa warung yang buka di dalam area terminal.
Makanan yang dijajakan di sana pun tidak template berkutat pada lemper, lumpia, atau tahu asin. Namun, ada juga jenis makanan berat bungkus seperti pecel madiun, sate ponorogo, pentol, hingga bakso. Waktu berhenti yang cukup lama memungkinkan penumpang untuk bersantap terlebih dulu.
Para laki-laki ahli hisap pun punya waktu yang cukup untuk keluar bus, menghisap sebatang udud sampai habis, sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Sebab memang, meskipun kelas ekonomi, tetapi rata-rata bus ekonomi di rute Jogja-Surabaya menggunakan AC yang masih berfungsi optimal. Maka, merokok di dalam bus saat perjalanan hukumnya haram, sebelum akhirnya bisa halal di terminal.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan