ADVERTISEMENT

Serba Salah di Bus Ekonomi AKAP: Penumpang Tak Jenak Pamitan, Bisa Turun Aman Jadi “Perjudian”

Bus ekonomi AKAP seperti di rute Surabaya-Semarang menaik-turunkan penumpang dalam posisi roda berjalan MOJOK.CO

Bus ekonomi AKAP cenderung tidak berhenti total saat menaikkan atau menurunkan penumpang. Pasti sambil berjalan pelan. Bahkan ada pula yang terkesan “tidak sabaran” sampai calon penumpang tidak punya kesempatan untuk berpamitan dengan keluarga yang mengantar di pinggir jalan. 

Belum lama ini, saya menemukan sebuah video yang membuat sejumlah warganet bingung. 

ADVERTISEMENT

Dalam video tersebut, tampak seorang pria yang diantar istrinya tengah menunggu kedatangan bus ekonomi AKAP untuk bepergian (mungkin untuk berangkat ke perantauan). 

Saat bus yang ditunggu terlihat dari kejauhan, pria itu lantas melambaikan tangan. Lalu ketika bus sudah dekat, si pria berpamitan dengan istri (salim dan memberi pelukan terakhir). Tetapi, ketika si pria berbalik dan melangkah ke arah bus, bus tersebut justru malah tancap gas. 

“Kenapa sih bus-bus AKAP kesannya buru-buru, kalau ambil atau menurunkan penumpang tidak mau bener-bener berhenti?” Ada sejumlah pertanyaan dengan konteks tersebut di kolom komentar. 

Harus lari saat naik bus ekonomi AKAP, jalan cepat saja bisa diteriaki 

Sebagai penumpang bus ekonomi AKAP, saya tentu relate. Apalagi bus di rute Surabaya-Semarang. Saya kerap harus berlari sambil meloncat meraih pegangan pintu atau tangan kernet saat hendak naik karena bus yang saya naiki dalam posisi tetap berjalan. 

Itu membuat momen pamitan dengan keluarga yang mengantar (entah Ibu, adik, atau istri) menjadi sama sekali tidak jenak. Serba terburu-buru. Karena selain roda bus yang terus berjalan, dari pintu belakang si kernet juga berseru-seru agar saya (atau calon penumpang) segera naik. 

Bahkan, kalau saya atau calon penumpang di rute Surabaya-Semarang terlihat jalan kaki, meski sudah dengan langkah-langkah cepat, si kernet tetap berteriak agar saya lari. Tidak puas kalau hanya jalan cepat, pokoknya harus lari. 

“Ayo cepet, malah mlaku (jalan)!”

“Cepet, cepet, cepet, mlayu (lari)!” Itulah teriakan yang lazim saya alami atau saya temui di setiap penumpang bus rute Surabaya-Semarang selama ini. 

ADVERTISEMENT

Turun dengan deg-degan, ragu-ragu bisa kena semprot

Namun, memang, bagi saya pribadi persoalan turun lah yang lebih ngeri-ngeri sedap. 

Tidak hanya menaikkan penumpang dalam kondisi masih berjalan, bus ekonomi AKAP—terutama yang saya jumpai pada bus rute Surabaya-Semarang—punya kecenderungan menurunkan penumpang juga dalam kondisi roda masih menggelinding. 

Kernet paling hanya memberi instruksi ke penumpang agar turun dengan kaki kiri lebih dulu. “Kaki kiri, kaki kiri,” menjadi instruksi yang terus diulang-ulang. Itu menjadi cara si kernet memastikan penumpang turun dengan selamat karena kondisi bus masih melaju. 

Sebab, pada saat turun bus menggunakan kaki kiri, kaki kanan akan menopang badan agar tetap seimbang. Namun, jika menggunakan kaki kanan terlebih dahulu, badan tidak akan seimbang mengikuti gerak bus sehingga mudah jatuh lantaran kaki kiri tidak kuat menopang.

Meski begitu, meski sudah sekian kali naik bus ekonomi AKAP, jujur saja saya masih kerap deg-degan jika hendak turun bus. Pasalnya, meski sudah dengan menggunakan kaki kiri, tapi dalam posisi turun saat bus melaju, saya tetap masih harus gedandapan, takut ndlosor. Memastikan diri turun dalam kondisi benar-benar aman seolah menjadi perjudian keselamatan.

Karena itu, sering kali muncul ragu-ragu saat hendak menapakkan kaki kiri ke jalan, meski si kernet sudah berulang kali menginstruksikan agar saya turun pakai kaki kiri terlebih dulu. Masalahnya, keragu-raguan itu lantas memicu perasaan jengkel si kernet, sehingga harus pakai nada tinggi untuk “memaksa” saya atau penumpang lain lekas turun meski kondisi roda masih menggelinding. 

Bus ekonomi AKAP tidak punya rumus “mandek jegrek” hanya untuk satu penumpang

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan: Kenapa bus ekonomi AKAP cenderung seperti itu saat menaik-turunkan penumpang? 

Saya belum menemukan jawaban langsung dari para sopir. Namun, kalangan teman-teman Busmania menjelaskan, alasan utamanya adalah demi menjaga momentum Kecepatan. 

Begini, bus—sebagai kendaraan bermesin besar—membutuhkan energi dan bahan bakar besar untuk mulai bergerak dari posisi berhenti total. Dengan tetap berjalan pelan, sopir bisa menjaga momentum agar hemat solar dan waktu perjalanan. 

Terlebih memang, jarak antar-jam satu bus dengan bus lain saling berdekatan. Sehingga harus pintar-pintar menjaga interval satu sama lain agar tidak terjadi tabrakan waktu yang seringkali memicu balapan di jalan raya. 

Apalagi jika hanya untuk menaikkan atau menurunkan satu penumpang. Bahkan, jika ada satu penumpang yang sudah melambaikan tangan dari jauh, sementara si bus ekonomi AKAP terlanjur dalam posisi tancap gas kencang atau menyalip dari sisi kanan, si sopir tidak segan memilih melewati satu penumpang itu begitu saja. 

Sopir bus hanya akan “tunduk” setidaknya untuk dua golongan: orang sepuh atau rombongan (3 penumpang ke atas). Untuk dua jenis itu, ada kecenderungan si sopir memutuskan benar-benar mandek jegrek (berhenti total). Untuk orang sepuh ya karena mempertimbangkan kerentanan, sementara untuk rombongan ya karena tidak mungkin 3 atau lebih penumpang harus naik atau turun dalam kondisi roda menggelinding. 

Pamitan harusnya sudah jauh sebelum bus datang

Atas dasar itu, kalangan Busmania di sekitar saya mengaku mewajari ketika ada penumpang yang malah ditinggal ketika baru saja pamitan dengan keluarga. 

Menurut mereka, pamitan memang seharusnya sudah dilakukan jauh sebelum bus datang. Bahkan seharusnya sudah dilakukan di rumah, sebelum berangkat. 

Dengan begitu, berdiri di pinggir jalan memang khusus untuk menunggu bus melintas. Sehingga, ketika bus yang hendak dinaiki sudah terlihat dari kejauhan, calon penumpang bisa langsung siaga dan langsung mengejar pintu belakang yang sudah terbuka. 

“Jangankan penumpang, sopir atau kernet bus AKAP itu, kan ada yang kadang dicegat anak dan istrinya di pinggir jalan. Mereka juga nggak pamitan yang lama-lama. Mereka cuma salim, paling cium anak-istri, ambil bingkisan pemberian anak-istri, terus balik lagi ke dalam bus, langsung lanjut jalan lagi,” terang teman-teman Busmania. “Namanya juga kejar jam dan setoran.” 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Penumpang Bus Sumber Selamat Belum Tentu Sanggup Naik Bus Surabaya-Semarang, Meski Sesama Ugal-ugalan tapi Beda Kenyamanan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Terakhir diperbarui pada 7 November 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.