Setiap kali melewati lampu merah di jalanan Jombang, Jawa Timur, ada pemandangan yang mengaduk-aduk emosi karena ternyata menyimpan kejanggalan. Di lampu merah A bisa jadi marah atau geram, tapi di lampu merah B bisa seketika berubah menjadi sedih—begitu juga sebaliknya.
Dari rumah istri di Jombang selatan, perjalanan saya ke pusat kota harus melewati kurang lebih enam lampu merah. Setelah dua tahun ini lebih sering pulang ke Jombang ketimbang ke kampung halaman saya di Rembang, akhirnya saya tahu kalau setiap lampu merah ternyata memberi kesan yang beragam—mengaduk-aduk perasaan.
Kesan tersebut juga dirasakan oleh warga asli Jombang sendiri. Lampu merah ternyata bukan hanya titik untuk menunggu giliran lalu-lintas kendaraan, tapi menjadi persinggungan antara ujian kesabaran, simpati, dan bagaimana sebuah fakta menyebalkan terungkap di depan mata.
Antara iba dan curiga di lampu merah Jombang
Hampir di setiap lampu merah yang saya lewati di Jombang, selalu ada setidaknya tiga kelompok yang mengais belas kasihan dari para pengendara: pengamen badut, manusia silver, hingga pengemis yang duduk beralas kardus di tengah panas terik.
Keberadaan mereka membuat saya merasa iba. Apalagi jika melihat mereka harus mengamen dengan anaknya. Atau seorang remaja SMP yang harus membalur tubuhnya dengan cat silver, berjalan tanpa alas kaki, untuk mengais iba dari para pengendara yang melintas.
Sebab, kerap kali dalam momen lampu merah, nyaris tidak ada pengendara yang menyodorkan recehan. Membuat mereka memutar badan dengan gestur lesu. Itulah yang kemudian membuat istri sering menyediakan uang recehan di dasbor motor, agar saya lebih mudah meraihnya untuk disodorkan kepada mereka saat berhenti di lampu merah.
Namun, seorang tetangga mengingatkan agar saya berhati-hati dengan perasaan iba tersebut. Kecuali kalau saya memang benar-benar ikhlas untuk berbagi agara saya tidak kecewa jika tahu fakta-fakta menyebalkan.
Pasalnya, tetangga saya akhirnya memandang kelompok-kelompok tersebut dengan curiga, tidak lagi mudah memberi recehan setelah melihat dengan mata kepala sendiri: nasib mereka belum tentu setidak beruntung yang dibayangkan.
Tetangga saya mengaku selama ini menaruh iba besar pada seorang pria paruh baya yang mengemis di sebuah lampu merah yang terkenal tanpa iyup-iyupan: berada persis di bawah terik matahari. Si pengemis duduk beralas kardus, sesekali juga tidur, dengan sekujur tubuh yang tampak lusuh dan berkeringat.
Hingga suatu sore menjelang magrib, ia melihat pria paruh baya itu ternyata dijemput oleh seorang laki-laki muda dengan mobil pick-up. Si pria paruh baya tidak menunjukkan wajah melas sebagaimana sudah ia tunjukkan seharian. Malah tertawa-tawa.
Pemandangan itu membuat tetangga saya jengkel sekaligus kini selalu menaruh curiga: jangan-jangan orang-orang yang mengais rezeki di lampu merah itu tergabung dalam komplotan yang kemungkinan bisa mengantongi uang besar dalam sehari melancarkan operasi mengiba-ibanya di lampu merah di Jombang.
Ulah pengendara selalu berhasil bikin emosi
Pada Ramadan 2026 lalu saya pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan di salah satu lampu merah tidak jauh dari rumah. Saya nyaris ditumbuk oleh seorang pengendara yang tidak terima saya tegur karena menyerobot lampu merah padahal jelas-jelas menunjukkan nyala tanda berhenti.
Bagi orang Jombang, kejadian semacam itu ternyata bisa nyaris setiap saat terjadi. Seperti yang diungkapkan oleh dua anak muda setempat yang saya ajak berbincang.
“Grasak-grusuk”, begitu mereka menggambarkan cara berkendara kebanyakan orang di Jombang, terutama pengendara motor.
Ritme hidup di Jombang tentu tidak secepat ritme hidup di kota. Namun, dua anak muda yang saya ajak berbincang itu juga heran, entah apa yang membuat para pengendara di sana selalu berkendara dengan tergesa.
Ketika lampu apill menunjukkan warna merah, bukannya berhenti, banyak pengendara yang justru serobot-serobot untuk menerobos barisan pengendara yang mematuhi aturan. Yang lebih menyebalkan, oknum pengendara itu malah dengan penuh percaya diri membunyikan klakson kencang-kencang agar dibukakan jalan.
Hal itu jelas memancing emosi. Namun, masalahnya, dalam pengalaman dua anak muda Jombang tersebut, ketika mereka emosi dan refleks mengumpat, si penyerobot lampu merah tadi bukannya merasa bersalah justru merasa benar sendiri. Ia tidak segan putar balik, lalu menghadang orang yang mengumpat sekaligus menantang berkelahi.
Lampu merah di Jombang jadi pembuangan ODGJ
Untuk urutan ketiga ini, spesifik yang saya ketahui adalah di daerah Jombang selatan (jalur Jombang perbatasan Kediri dan Batu).
Seorang teman ngopi memantik ingatan saya: sejak saya tinggal di Jombang selatan, seberapa sering saya melihat ada ODGJ berjalan menyusuri jalan raya, dengan perawakan awut-awutan, bahkan tanpa busana? Sejauh yang saya ingat, tidak banyak. Tapi cenderung lebih sering melihatnya di jalanan Jombang selatan ketimbang di jalanan menuju pusat kota.
“Kalau dulu malah banyak, karena sampai masuk-masuk kampung. Kamu tahu kenapa? Karena lampu merah di Jombang selatan, karena di jalur sepi, sering jadi tempat pembuangan ODGJ,” jelasnya.
“Kamu tahu dari mana dan ODGJ dari mana?” Tanya saja penasatan.
“Sudah menjadi rahasia umum. Tapi aku nggak tahu mereka dibuang dari mana.”
Teman ngopi saya itu bercerita, jam operasi pembuangan ODGJ itu biasanya berlangsung di jam-jam dini hari, saat sedang sepi-sepinya. Ia mengaku pernah melihat sendiri saat mengantar ibunya ke pasar pada jam 3 pagi. Saat itu, ia melihat sebuah mobil truk berhenti di lampu merah, lalu menurunkan dua ODGJ dan meninggalkannya di sana.
Namun, cerita tentang pembuangan ODGJ di lampu merah jalanan Jombang selatan katanya sudah terjadi sejak lama. Memang tidak setiap hari, tapi kerap terjadi. Tentu saja meresahkan, karena akhirnya ada saja ODGJ yang nyasar ke kampung dan mengganggu kenyamanan warga. Hanya memang, belum ada sekelompok warga yang effort berjaga di lampu merah pada dini hari untuk mencegat operasi tersebut.
Pada akhirnya warga hanya bisa memendam kekesalan dan menyimpan tanya: Dari mana ODGJ-ODGJ itu diangkut?
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan