Ada alasan logis mengapa saya lebih suka melamun di rooftop kosan yang terkesan semrawut karena jemuran baju, toren air yang besar, hingga udara panas dari unit AC outdoor. Sebab, di sanalah tempat terbaik untuk mengistirahatkan jiwa di belantara kota seperti Jakarta dan Jogja.
Rooftop kosan: Oase anak kos di tengah kota
Beberapa orang tentu punya standar dalam memilih kos-kosan. Kalau saya sendiri mengutamakan kos-kosan yang terdapat rooftop, selain kamar yang harus ada jendelanya agar tidak pengap.
Waktu kerja di Jakarta, saya tidak punya banyak pilihan untuk survei kos-kosan selain ikut bareng teman. Boro-boro mau main sebentar, saya langsung mendapat pelatihan sehari setelah mengikuti berbagai seleksi dan dinyatakan lolos bekerja.
Cari kos-kosan yang sesuai standar dengan bujet yang sudah saya tentukan pun cukup sulit di Jakarta Barat. Makanya, saya sudah sangat senang saat ada rekan kerja saya yang merekomendasikan kos-kosan. Minusnya, kos-kosan tersebut tidak ada jendela sehingga suasananya terasa seperti di penjara.
Padahal, kerja di Jakarta saja sudah gedebak-gedebuk. Napas saya sudah sesak saat pulang menggunakan KRL di malam hari. Eh, kembali ke kosan masih harus engap-engapan. Maka, tempat satu-satunya yang membuat saya bisa menghirup udara panjang adalah rooftop kosan.
Meskipun rooftop kosan sering digunakan sebagai tempat toren air berukuran besar, dipenuhi pula unit-unit AC outdoor dan berbagai jemuran, tapi saya masih bisa merasakan angin sepoi-sepoi dari atas sana. Bagi saya itu sudah cukup.
Terlebih, saya bisa melihat pemandangan city light Jakarta. Gedung-gedung bertingkat dengan kerlip lampu yang menyala, menghidupkan lanskap ibu kota. Saya ingat betul, pemandangan langit Jakarta di hari ulang tahunnya, begitupun saat tahun baru tiba. Langit itu diserbu kembang api bertubi-tubi.
Saat warga Jakarta rela berdesak-desakan memenuhi area Monas untuk merayakan festival HUT atau pesta tahun baru, saya memilih tinggal di kosan usai meliput berbagai rangkaian acara tersebut. Untungnya, saya masih punya waktu jeda di momen-momen besar.
Selain meluangkan waktu untuk mencuci pakaian dan berkontemplasi di rooftop kosan, ada kalanya saya sering kesulitan tidur hingga dini hari. Padahal esoknya, saya masih harus bekerja saat pagi buta.
Tempat terbaik menjaga kewarasan
Satu tahun setelahnya, saya akhirnya mendapat peluang kerja di Jogja yang dari segi suasana dapat membuat saya bernapas lega. Dan rupanya, berkontemplasi di rooftop kosan kini menjadi kebiasaan saya.
Kontemplasi atau merenung secara mendalam, punya manfaat positif bagi kesehatan mental. Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Primatia Yogi Wulandari, berujar proses ini dibutuhkan untuk mengurai benang kusut dan mengenali perasaan yang mengganggu dalam aktivitas sehari-hari kita.
“Misal, ketika kita merasa segala sesuatu menjadi membosankan; sering kehilangan konsentrasi; atau merasakan kecemasan yang kadang tidak jelas sumbernya. Bisa juga kita mendeteksinya dari sinyal tubuh yang sifatnya fisik, seperti mudah lelah; sering ada keluhan fisik tapi tidak ada penyebab yang jelas; atau sulit tidur,” ujarnya dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (4/9/2026).
Proses refleksi juga bisa bisa dilakukan di tempat tenang. Maka, bagi saya yang aslinya berjiwa introvert, rooftop kosan menjadi tempat terbaik. Sebab, saya tidak terlalu suka berada lama-lama di keramaian.
Melamun di rooftop kosan seperti di film-film
Sebelum merasakan nikmatnya healing di rooftop kosan, ide ini sebenarnya muncul dari adegan di film-film. Contohnya saat karakter Tom di film 500 Days of Summer sering kali merenungkan hidup dan perasaannya terhadap Summer di rooftop gedung apartemennya.
Meski lanskap rooftop kosan saya tak seindah pemandangan rooftop milik Tom di Los Angeles, adegan itu memvalidasi opini saya tentang rooftop sebagai tempat yang cocok untuk melamun.
Ahli geografi, Jay Appleton dalam teori prospect and refuge menjelaskan bahwa secara naluriah, manusia menyukai tempat aman (refuge) yang membuat mereka bisa melihat pandangan luas (prospect).
Dalam hal ini, rooftop kosan saya memenuhi kriterianya. Belum lagi ada sensasi angin sepoi, awan bergerak dan warna langit yang memanjakan mata. Jika malam tiba, kelap-kelip lampu kota juga bisa membuat otak kita rileks.
Pada akhirnya, kombinasi antara udara terbuka dan kebebasan visual di ketinggian, menjadi resep sempurna untuk mengistirahatkan jiwa. Di rooftop kosan itulah, manusia dapat membiarkan pikiran mereka mengembara.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan