ADVERTISEMENT

Stasiun Lempuyangan, Tempat Pertama yang Bikin Perantau Jakarta “Kasihan” dengan Orang Jogja

Stasiun Lempuyangan Jogja. MOJOK.CO

Selama beberapa malam, Dodi menginap di sebuah penginapan dekat stasiun. Nyaris tiap hari ia bisa menyaksikan bagaimana mirisnya orang-orang yang hidup di sekitar sana.

Mulai dari tukang ojek pengkolan yang makin terkikis penghasilannya, warung kecil yang jualannya berhari-hari tak laku, hingga keberadaan pengemis dan gelandangan yang tidur di sekitar pagar Stasiun Lempuyangan. Pemandangan ini langsung membuka matanya soal Jogja.

Kota yang selama ini diagung-agungkan keistimewaannya, ternyata menyimpan masalah serius soal ketimpangan dan kemiskinan. Ironisnya lagi, masalah-masalah ini langsung menampar mukanya hanya beberapa saat setelah turun kereta.

Karena “merasa terhubung” dengan realitas pahit di sekitaran Stasiun Lempuyangan, Dodi pun memutuskan ngekos di sana hingga lulus S3. Kata dia, “untuk lebih napak tanah, merasakan Jogja yang sebenarnya.”

Mau lihat realitas suatu kota, jalan-jalan ke sekitar stasiunnya

Sebagai seorang dosen, Dodi selalu mengajarkan kepada mahasiswanya: “kalau mau tahu realitas suatu kota, datang ke stasiunnya”. Sebab, bagi dia, stasiun adalah tempat berkumpulnya manusia dengan berbagai latar belakang. Banyak orang juga menggantungkan nasib di sana. 

“Aku selalu bilang ke mahasiswa, kalau deket-deket stasiun, cobalah jalan kaki di sekitaran sana. Nanti kalian bisa melihat sendiri realitas suatu kota,” ungkapnya.

Menurutnya, Stasiun Lempuyangan adalah gambaran dari Jogja itu sendiri. Sehingga, problem-problem yang terjadi di sekitar stasiun pun juga menggambarkan masalah umum yang dialami warga Jogja.

“Bicara sampah, kemiskinan, ketimpangan sosial, semua ada di stasiun. Dan Jogja mengalami problem yang serius soal ini,” ujarnya. “Bahkan, ketika kemarin ramai-ramai soal penggusuran di Lempuyangan, lihat juga kalau problem serupa juga dialami warga Jogja lain. Ini bukan soal lokasi, ini soal sistem yang mengatur.”

Ia pun “mendeklarasikan” Stasiun Lempuyangan sebagai cinta pertamanya di Jogja. Sebab, stasiun inilah yang mengajarinya “kejujuran”.

“Stasiun Lempuyangan itu jujur kepada kita, secara apa adanya ia bilang kalau Jogja memang tak seistimewa kelihatannya,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jembatan Lempuyangan Saksi Orang-orang yang Kerja Pagi sampai Pagi untuk Hidup di Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2025 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version