Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Budayawan Sujiwo Tejo punya pesan sendiri untuk mahasiswa di Jogja yang punya kebiasaan jadi Rojali alias rombongan jarang beli. Fenomena ini, menurutnya kebangetan untuk ukuran mahasiswa yang merupakan kalangan intelektual.

“Rojali iku opo?” tanya Sujiwo Tejo saat ngobrol dengan saya di Bale Merapi, Yogyakarta belum lama ini. Presiden Jancukers ini awalnya ngobrol tentang kebiasaan orang Madura saat membuat kopi.

Sujiwo Tejo: Hanya orang Madura yang mengaduk kopi, gelasnya yang goyang

Dalang yang menghabiskan masa remajanya di Bondowoso ini menceritakan bagaimana orang Madura kalau mengaduk kopi yang goyang adalah gelasnya, bukan tangannya. 

“Hanya orang Madura yang ngudak kopi yang goyang itu gelasnya,” kata Sujiwo Tejo terbahak. Saya lantas sampaikan, di Jogja banyak kafe kopi yang milik orang-orang Madura. Banyak yang mereka menjadi korban Rojali. 

“Jadi Rojali itu rombongan jarang beli, Mbah.. mereka datang berombongan, untuk mengerjakan tugas kuliah, tapi dari sekian banyak yang beli paling satu atau dua,” jelas saya. 

Mbah Sujiwo Tejo, tampak merenung. “Jadi mereka cuma datang saja (nggak beli)?” tanyanya lagi. 

“Kalau begitu suruh datang ke Kafe Basa Basi saja,” kata Sujiwo Tejo terbahak. Pemilik Kafe Basa Basi, Edi Mulyono atau Edi AH Iyubenu sudah dikenal Mbah Tejo, dan aslinya memang Madura. Selain pemilik kafe yang bersangkutan juga pemilik penerbit Diva Press.

Di Yogyakarta, kafe kopi asal Madura memang paling banyak dikunjungi Rojali ini. Salah satunya karena harganya yang murah meriah. Mojok juga pernah mengangkat persoalan Rojali ini di program Kalcersok di YouTube Mojok.co

“Tapi memang ekonom Rhenald Kasali pernah ngomong, hati-hati bisnis kopi, yang datang banyak, tapi jarang beli, nongkrong sampai pagi,” katanya. 

“Nah itu, Rojali,” tegas saya. Saya memberikan informasi ke Mbah Tejo kalau di Jogja ada sekitar 3.000 warung kopi.

“Yang 2.000 (untuk) cuci uang,” katanya disambut tawa.

Menurut Mbah Tejo, sebagai mahasiswa sudah seharusnya, tidak hanya hobi baca di kafe kopi, atau membicarakan ekonomi kerakyatan. Apalagi setelah tahu harga kopi di Jogja sangat banyak pilihan. “Lima ribu saja mereka nggak pesan? Ibarat baca buku (di kafe) itu jendela dunia, maka beli kopi itu pintu dunia! Pesen lah,” kata Mbah Tejo. 

Mbah Tejo terbitkan buku terbaru, Bharatayudha: Takdir Medan Dusta

Di akhir obrolan, Sujiwo Tejo menceritakan kalau dirinya akan menerbitkan buku terbarunya berjudul Bharatayudha: Takdir Medan Dusta. Buku yang diterbitkan penerbit Bentang  tersebut membuka pre-order mulai 15 Mei 2026.

Jika di buku sebelumnya yang berjudul Rahvayana, Mbah Tejo menghadirkan sudut pandang baru terhadap tokoh Rahwana, maka di buku terbaru, ia menampilkan sisi lain dari Adipati Karna. .

Tokoh Karna yang selama ini identik dengan pihak Kurawa digambarkan memiliki sisi kemanusiaan, kesetiaan, dan dilema batin yang lebih kompleks.

Obrolan lengkap dengan Sujiwo Tejo bisa disaksikan di YouTube Mojok.co. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Rojali Menjadi “Parasit” Bagi Coffee Shop di Jogja, Merusak Bisnis dan Pertemanan dan tulisan menarik lainnya di kanal Liputan.

Exit mobile version