Pernikahan kini tidak lagi dipandang sebagai resolusi hidup di kalangan Gen Z—terutama dari kelompok perempuan. Sebab, dalam banyak kasus—terlebih di desa—pernikahan justru memberi beban lebih berat bagi perempuan.
***
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka pernikahan di Indonesia terus menurun dalam satu dekade terakhir. Salah satu faktor pemicunya adalah persoalan ekonomi.
Bahkan studi dari Morgan Stanley (raksasa perbankan investasi dan perusahaan jasa keuangan multinasional asal Amerika Serikat) memperkirakan: pada 2030 mendatang sekitar 45% perempuan berusia 25-44 tahun cenderung lebih memilih melajang (tidak menikah) dan childfree atau childless (hidup tanpa anak).
Pasalnya, masih dalam studi yang sama, disebutkan bahwa secara global telah berkembang paradigma: status pernikahan dan tanggung jawab pengasuhan pada anak bisa menghambat banyak hal dalam hidup perempuan, dari persoalan karier hingga kesehatan mental.
Mojok meminta pendapat dari tiga orang perempuan (dua orang berusia 25 dan satu orang berusia 27) dari media sosial yang mengaku saat ini menjadi perempuan karier. Dua (usia 25 dan 27) di sektor swasta, sementara satu lainnya (usia 25) merupakan ASN baru. Mereka sepakat bahwa pernikahan, terutama dalam kultur masyarakat Jawa, kalau mereka pikir-pikir cenderung bakal memberi beban lebih berat terhadap perempuan.
Pernikahan riil mahal karena biaya hajatan dibebankan ke pihak keluarga perempuan
Sebagai sampel permisalan, dalam pengalaman di desa asal mereka—di Jawa Tengah dan Jawa Timur—hajatan pernikahan masih menggunakan adat lama: hajatan berupa resepsi pernikahan dibebankan ke pihak keluarga perempuan.
Mulai dari sewa kuade, tenda-terop sekaligus meja-kursinya, sound system, hingga hiburan ditanggung pihak keluarga perempuan selayaknya tuan rumah. Belum nantinya suguhan dan berkatan.
Pihak laki-laki sebenarnya juga menyumbang. Dalam adat setempat disebut “duit belonjo”. Yaitu bentuk sumbangan dari pihak laki-laki yang dikhususkan untuk menyumbang keperluan menjamu tamu pihak laki-laki: suguhan, berkatan, dan sejenisnya.
Memang ada pihak yang memasang standar berapa rupiah yang seharusnya diserahkan ke pihak keluarga perempuan sebagai duit belonjo. Namun, secara umum tidak ada standar baku alias bersifat sukarela.
Alhasil, dalam pengalaman tiga responden Mojok, pada akhirnya pihak keluarga perempuan masih harus menanggung beban biaya besar.
Tren pernikahan dengan model zaman dulu saat ini memang telah banyak berubah. Di kalangan Gen Z bahkan mulai menormalisasi menikah dengan sederhana. Hanya saja, ikatan tradisi di kelompok masyarakat tertentu yang masih sangat kuat dirasa tidak serta merta membuat pernikahan secara sederhana itu terealisasi.
Konsekuensi peran ganda perempuan: antara rumah dan nafkah
Dalam kultur masyarakat desa tiga responden Mojok, perempuan masih memegang tanggung jawab domestik paling besar di keluarga: mengurus rumah (meliputi mengurus dapur, cucian, kebersihan, hingga nantinya mengasuh anak).
Namun, jika situasi ekonomi keluarga tengah sulit, perempuan pada akhirnya harus mengambil peran ganda: turut mencari nafkah karena menyadari bahwa satu sumber pemasukan dari suami sudah tidak cukup lagi untuk kebutuhan hidup yang kian banyak.
Mereka mendapati sendiri, bagaimana tetangga-tetangga mereka harus membagi peran antara ibu rumah tangga dan mencari sumber pemasukan lain untuk turut menopang ekonomi keluarga. Dibuktikan dengan Data BPS yang menunjukkan partisipasi kerja perempuan meningkat dari sekitar 52% pada 2018 menjadi lebih dari 56% pada 2025.
Membayangkannya saja membuat tiga responden Mojok bergidik. Rasanya terlalu berat. Tidak pelak jika mereka kemudian berpikir untuk tidak menikah dan apalagi lekas memiliki keturunan.
Dalam banyak momen diskusi, cara pandang mereka itu memang kerap dibenturkan dengan keimanan: dianggap tidak percaya pada rezeki Tuhan. Dibenturkan dengan dalil-dalil yang menyebut bahwa “Menikah bahkan banyak anak bisa membuka jalan rezeki.”
Mereka mengakui, barangkali memang keimanan mereka masih setipis tisu. Namun, untuk saat ini, pilihan tidak menikah hingga childfree menjadi pilihan rasional karena realitas bahwa perempuan—khususnya di desa—-kerap kali harus memikul beban tak kira-kira.
Konsekuensi pernikahan: perempuan rentan disalahkan jika tidak punya anak hingga perceraian
Konsekuensi tidak terduga dari ikatan pernikahan juga dianggap kerap perempuan menjadi pihak yang lebih rentan disalah-salahkan. Lagi-lagi, berdasarkan kasus yang tiga responden dapati di desa asal masing-masing.
Pertama, ketika tidak kunjung punya momongan, maka perempuan yang dianggap paling bersalah. Padahal, potensi kemandulan tidak hanya ada dalam diri perempuan, tapi juga laki-laki.
Merujuk WHO, 40 persen-50 persen kasus memang disebabkan oleh perempuan. Akan tetapi, laki-laki juga punya potensi penyebab di angka 30 persen-40 persen, disebabkan karena: gangguan produksi sperma, kualitas sperma, dan gangguan hormonal lain yang bisa disebabkan karena gaya hidup tidak sehat.
Lalu kedua, jika terpaksa terjadi perceraian, lagi-lagi perempuan terpojok dalam lapisan situasi yang bisa mengguncang mental. Di desa, status “janda” kerap kali berkonotasi negatif, dianggap sebagai aib. Selain itu, perempuan kerap dianggap sebagai orang yang terlalu menuntut hingga tidak becus mengurus suami sehingga memicu terjadinya perceraian.
Sementara, bagi tiga responden Mojok, ada situasi-situasi yang sah saja jika perempuan menuntut cerai. Misalnya jika sudah terjadi KDRT. Masalahnya, di desa, nilai perempuan kerap dibatasi pada bagaimana ia mempertahankan rumah tangganya, apapun situasinya.
Tidak ingin menambah beban
Pada akhirnya, melajang menjadi pilihan yang diambil oleh tiga responden Mojok, setidaknya hingga saat ini, dan sebagian banyak perempuan Gen Z.
Melajang memang tidak lantas membuat hidup mereka jauh dari beban. Akan tetapi, menunda atau bahkan tidak berpikir untuk menikah bagi Gen Z menjadi cara untuk tidak menumpuk beban lagi berupa dinamika dalam rumah tangga sebagaimana diuraikan di atas.
Mereka memang sama-sama menjadi perempuan pekerja. Memikul beban ekonomi. Bagi mereka itu saja sudah cukup menyulitkan. Oleh karena itu, mereka tidak terbayang akan menumpukinya dengan beban peran domestik di rumah tangga. Mereka mengku, mental dan fisik mereka belum siap.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Hajatan Pernikahan di Desa Itu Cuma Ego dan Ajang Pamer bagi Orang Tua, bukan Pestanya Mempelai atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan