Sebagai orang Jawa desa yang baru pertama kali ke Jakarta di usia 26 tahun, nurani saya justru terganggu dengan pemandangan sehari-hari selama seminggu di Ibu Kota. Gemerlapnya biasa saja. Realitas sosialnya yang mengiris sisi kemanusiaan.
***
Pertengahan Januari 2026, kantor mengirim saya untuk bertugas di Jakarta. Beberapa teman mengira saya antusias menjejak Ibu Kota. Karena itu memang momen pertama kali saya ke sana.
Tapi sejujurnya, saya tidak pernah tertarik dengan kota tersebut. Kalau hanya persoalan gedung-gedung tinggi dan gemerlap citylight di maalm hari, rasa-rasanya tidak jauh berbeda dengan Surabaya.
Saya tujuh tahun merantau di Kota Pahlawan. Jadi sepertinya saya tidak akan kaget-kaget amat jika menjejak Jakarta. Yang terjadi selama seminggu di Jakarta, nurani saya justru terasa teriris.
Jika kamu jatuh di Jakarta, kamu hanya bisa menolong dirimu sendiri
Pada pagi yang sedikit gerimis, saat saya berjalan kaki dengan agak tergesa di kawasan Sudirman, saya dikagetkan suara “grubyak” di arah jalan raya. Ternyata seorang driver ojek online terserempet bus TransJakarta dan terguling ke aspal.
Tubuh di driver masih tersungkur tertimpa motor. Namun, suara-suara klakson sudah saling bersahutan dari arah belakang.
Deretan pengendara motor dari arah belakangnya seperti memberi isyarat agar driver yang jatuh itu lekas bangun. Karena gara-gara ia tersungkur, laju kendaraan lain jadi tersendat. Sementara para pejalan kaki, hanya menoleh saat mendengar bunyi “grubyak”. Setelahnya, mereka langsung melangkah lagi dengan tergesa.
Si driver dengan tergopoh-gopoh lantas mencoba keluar dari timpaan motor, mengangkat motornya menepi dengan kaki agak pincang. Para pengemudi lain melewatinya begitu saja, tanpa peduli sama sekali. Paling mentok hanya melirik.
Di Jakarta, orang lebih memilih memberi makan anak kucing ketimbang anak manusia yang kelaparan
Di hari lain, juga saat berjalan di kawasan Sudirman, pemandangan saya tercuri oleh seorang anak jalanan yang menentang karung lusuh. Baju anak itu lusuh, tanpa alas kaki.
Ia sempat duduk agak lama di bawah gerimis. Mengamati seseorang berbaju rapi yang tengah khusyuk memberi makan seekor anak kucing.
Anak jalanan itu, bocah tujuh tahunan, tampak menatap lekat-lekat. Seperti berharap: kalau ada makanan untuk anak manusia, bagilah juga.
Sayangnya, si pemberi makan kucing itu bergeming. Ia tidak memalingkan wajahnya ke bocah jalanan yang menatapnya itu sama sekali. Tak lama berselang, bocah itu beranjak pergi.
“Lihatlah, di Jakarta, orang lebih ringan ngasih makan anak kucing ketimbang anak manusia yang kelaparan,” celetuk rekan kerja saya.
Nurani telah “mati” untuk selamatkan diri sendiri
Dua pemandangan yang saya lihat itu saya ceritakan kepada seorang kenalan, fotografer perempuan dari sebuah brand olahraga, yang kebetulan turut memotret dalam sebuah event yang saya liput.
“Begitulah Jakarta. Memang bisa mematikan nurani. Tapi kamu juga harus lihat sudut pandang lain,” ujar perempuan asli Jakarta tersebut.
Sudut pandang lain yang ia maksud: jika saya fokus ke driver yang jatuh, coba geser juga sudut pandangnya ke pejalan kaki dan pengendara lain yang terus mengklakson alih-alih menolong.
Mereka bisa jadi begitu (tidak mau repot-repot menolong) karena juga harus buru-buru mengejar waktu. Barangkali, kalau mereka telat datang ke tempat kerja, mereka akan kena muntaban atasan, atau yang lebih mengkhawatirkan: kena potong gaji atau bahkan ancaman surat peringatan (SP).
“Mereka awalnya mesti punya nurani. Tapi lama-lama nurani harus dimatikan karena kondisi Jakarta seperti itu,” ucapnya. “Mereka harus menolong diri sendiri dulu. Kalau merek saja belum dalam posisi aman, nggak ada waktu buat nolongin orang lain.”
“Bisa jadi, orang lebih sayang ke kucing karena di kantornya ia sudah amat muak dengan rekan kerja toxic. Sementara kucing masih menjadi makhluk tulus yang bisa dijadikan teman.”
Halal/haram jadi urusan kesekian demi uang
Pada hari terakhir menjelang kepulangan ke Jogja, saya bertemu dengan seorang teman yang juga merupakan pekerja di Jakarta.
Ia bercerita, ia mengaku tahu beberapa orang asal daerah kami (Rembang, Jawa Tengah) yang merantau di Ibu Kota. Awalnya bekerja halal dan normal, tapi kemudian terpaksa menutup nuraninya usai dikalahkan nasib berkali-kali: memilih menjadi penjarah rumah atau copet.
“Tahu mereka kalau itu salah. Tidak bisa dibenarkan. Tapi mereka seperti tidak punya pilihan. Pulang ke kampung, di samping malu karena gagal, juga takut. Di Rembang mau kerja apa, bos?” ujarnya.
Sementara di Jakarta, pekerjaan kasar yang halal juga sulit didapatkan. Alhasil, karena godaan dari orang-orang yang terlebih dulu menceburkan diri di dunia gelap itu, akhirnya mereka terpaksa mengenyampingkan soal benar/salah dan halal/haram. Yang penting dapat uang untuk hidup dan dikirim ke rumah. Sebagai tanda kalau mereka kerja di Jakarta ada hasilnya (di tulisan lain akan saya tulis lebih detail soal ini).
Kabar buruk datang lebih dekat
Meski mengaku nyaman kerja di Jakarta, teman saya itu mengamini bahwa dalam beberapa hal, kebanyakan orang memang hidup dengan menekan nurani masing-masing.
Situasi diperparah dengan kabar buruk yang datang lebih cepat—mengingat Jakarta sebagai pusat birokrasi tempat banyak kebijakan merugikan rakyat kecil disusun. Setiap kebijakan baru yang merugikan rakyat kecil, orang-orang di Jakarta lah yang akan terimbas paling awal.
Itu pelan-pelan mengikis nurani, akibat keputusasaan yang terus-menerus diberikan negara kepada mereka. “Orang-orang merasa tidak dipihak atau dibela oleh negaranya sendiri. Mereka hanya bisa bergantung pada diri sendiri,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
