Suara tangis anak kecil memecah keheningan gerbong kereta ekonomi yang saya tumpangi pada awal 2026 lalu. Ketika satu anak menangis dengan kencang, suara itu menular ke anak lainnya. Melihat anak-anak yang mulai tantrum di dalam kereta ekonomi, bikin saya berkontemplasi.
Dulu, mungkin saya merasa risih sampai muncul kalimat ‘saya tidak menyukai anak kecil’. Salah satunya karena sifat tantrum tersebut. Namun ketika dewasa, saya justru senang bermain dengan mereka karena sifatnya yang jujur, polos, dan tanpa pamrih. Sangat berbeda dengan pertemanan dewasa akhir-akhir ini.
Melihat anak tantrum di ruang publik juga bikin saya iba kepada sang ibu, “apakah dulu saya senakal itu? Kasihan sekali ibu harus malu dan bingung dengan sikap saya”.
Tanpa sadar, air mata saya menetes seiring dengan teriakan anak kecil tadi, karena teringat dengan kasih sayang para orang tua. Dalam perjalanan kembali ke perantauan itu, saya selalu terngiang kalimat ibu. Sedewasa apa pun saya hari ini, di mata ayah dan ibu, saya tetaplah anak kecil yang harus dijaga.
Bijak di dalam kereta ekonomi saat anak mulai cemberut
Di tengah riuhnya gerbong kereta ekonomi siang itu, saya masih bersyukur karena anak perempuan yang ada di hadapan saya tidak menangis. Ia memilih sibuk memainkan jam tangan milik ayahnya. Sesekali, ia minta duduk di pinggir jendela untuk melihat pemandangan padi dan sungai.
Ketika kembali duduk di tengah—antara ayah dan ibunya, si anak dengan sengaja menaruh kakinya di atas paha saya. Waktu itu saya tidak marah dan membatin, ‘Ini mah bukan dengkul ketemu dengkul lagi’. Saya yang kaget awalnya, malah merasa lucu setelah melihat kaki mungilnya.
Untungnya, sang ayah dengan tanggap memberi peringatan kepada si anak dan langsung menurunkan telapak kakinya yang masih menempel di lutut saya. Anak perempuan itu sedikit kesal, sebab mungkin tidak nyaman kalau kakinya harus lama menggantung tanpa menapak tanah.
“Nggak sopan adik, kaki adik kotor. Lihat celana kakaknya, nanti kotor. Adik mau bersihkan?” kata sang ayah.
Anak perempuan itu pun cemberut. Tanpa disangka, sang ayah dengan sengaja melepaskan sandalnya dan meletakkan di atas paha si anak. Si anak marah, ia tidak senang. Untungnya tidak sampai menangis.
“Nah, kamu juga nggak suka kan kalau bajumu kotor karena sandal ayah? Kakaknya juga begitu. Jadi duduk yang baik ya biar kakaknya duduk dengan nyaman,” kata si ayah.
Jujur, saya sedikit terkejut. Si ibu yang dari tadi hanya diam langsung menyodorkan tisu ke arah saya.
“Maaf ya Kak, mohon dimaklumi karena ini pertama kalinya dia naik kereta,” ucapnya.
Sejak saat itulah, percakapan kami jadi mengalir. Si ibu mengenalkan dirinya sebagai Melda dan suaminya bernama Habib. Mereka hendak mengantarkan adiknya yang duduk di sebelah saya ke salah satu pondok di Probolinggo.
“Kami naik dari Jogja, setidaknya butuh waktu 13 jam. Ini sudah 6 jam, untungnya dia (si anak) belum nangis,” kata Melda.
Anak tantrum adalah hal yang normal
Jujur saja, Melda khawatir jika anaknya mulai tantrum dan mengganggu penumpang lain. Ia sendiri paham, tantrum sebetulnya bagian normal dari perkembangan anak untuk meluapkan emosi mereka yang tidak terkendali, tapi tetap saja ia akan malu sebagai orang tua jika tidak bisa menenangkan anaknya.
Melansir dari laman resmi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), anak dapat merasa frustrasi, lelah, lapar, cemas, atau menginginkan sesuatu tapi ditolak, anak-anak yang sulit mengelola emosinya cenderung mengalami tantrum.
Anak-anak yang belum bisa mengkomunikasikan keinginannya pada usia 1 sampai 4 tahun, akan mudah tantrum. Misalnya, dengan menangis kencang, merengek, menjerit, atau meronta-ronta, menendang, memukul, melempar barang, hingga berguling-guling di lantai.
menghadapi tatapan orang lain saat anak tantrum di tempat umum memang berat, tapi bagi Melda dan Habib kuncinya adalah tenang. Alih-alih marah, membentak, atau berteriak balik, Melda akan menarik napas dalam-dalam.
“Kalau kami meresponsnya ikut menjadi-jadi, anak pasti mikir ‘oh gini ya cara mendapatkan perhatian itu’, nah ujungnya mereka malah nggak diam,” kata Melda.
Selain itu, Melda juga tidak serta-merta menuruti permintaan anaknya demi menghentikan tantrum. Menuruti permintaan anak, kata Melda, malah membuatnya mengulangi perilaku yang sama saat si anak membutuhkan sesuatu.
Meski begitu, Melda bukannya abai alias menyepelekan perasaan sang anak. Baik Melda dan Habib paham kalau anak sudah mulai merengek, pasti ada penyebab. Oleh karena itu, menurut mereka, ada baiknya orang tua mengajak bicara si anak.
“Seperti misalnya, anak saya tadi. Kami mencoba meraba kenapa anak saya tiba-tiba menaruh kakinya.
Orang tua dan anak saling belajar mengelola emosi di kereta ekonomi
Jika si anak masih tantrum, belum bisa tenang, orang tua dapat membawa mereka ke tempat yang lebih sepi dan aman. Dalam konteks kereta api, orang tua dapat membawa anak mereka ke lorong dekat pintu atau kamar mandi.
“Ini membantu Anda dan anak terhindar dari keramaian serta tatapan publik, sehingga Anda bisa fokus menenangkan anak tanpa merasa tertekan,” dilansir dari website Unesa, Senin (11/5/2026).
Setelah anak sedikit tenang, orang tua dapat mengalihkan perhatian mereka dengan menawarkan mereka beberapa opsi. Tawaran yang diberikan juga harus detil. Alih-alih menanyakan ‘kamu mau apa?’, langsung katakan saja ‘kamu mau ditemani jalan-jalan atau di sini dulu sampai tenang?’.
Melda dan Habib pun sudah memperkirakan jika sewaktu-waktu anaknya rewel, bahkan orang dewasa sendiri saja bakal lelah dan bosan ketika harus duduk selama berjam-jam. Apalagi, mereka juga naik kereta ekonomi yang dari segi fasilitas ala kadarnya.
Oleh karena itu, Melda dan Habib sudah melakukan antisipasi sebelum berangkat naik kereta ekonomi. Misalnya dengan memastikan kebutuhan dasar si anak, mulai dari makanan dan istirahat yang cukup.
“Sebelum berangkat, kami sudah kasih pengertian ke dia. Terus kami tanya, ‘adik mau bawa barang apa?’ terus dia minta permen dan boneka kesukaannya, kami turuti asal nanti di dalam kereta dia nggak minta macam-macam,” jelas Melda.
Jika sewaktu-waktu anaknya tantrum, Melda yakin hal itu akan berlalu. Yang penting, kata dia, sebagai orang tua ia harus lebih bijak, tenang, dan sabar, sehingga dapat menjadi teladan untuk anaknya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
