Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Naik Pesawat Super Air Jet Tak Cuma Cepat Sampai, tapi Bonus Hiburan dan Hadiah “Giveaway” Tidak Terduga dari Awak Kabin selama Penerbangan

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
31 Maret 2026
A A
Naik pesawat Super Air Jet untuk mudik Lebaran ke Jogja

Ilustrasi - Naik pesawat (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai pengguna pesawat dalam setiap perjalanan mudik, tidak banyak maskapai yang pernah saya coba. Paling itu-itu saja mengingat tujuan akhirnya adalah kota dengan luas bandara tak seberapa, maka ketika maskapai bernama Super Air Jet menunjukkan atraksi berbeda dalam penerbangan menuju Jogja. Siapa yang tidak akan terhibur?

Sempat alami kesulitan dapat tiket pesawat

Hiburan ini tidak gratis. Sebelum duduk dalam kondisi terhibur di kursi salah satu maskapai yang baru saya coba, Super Air Jet, ada masalah yang harus dihadapi sebelumnya.

Masalah itu berupa kehabisan tiket pesawat untuk pulang dari mudik setelah Lebaran.

Dari kota saya, penerbangan pesawat langsung menuju Surabaya ataupun Semarang sudah habis. Padahal, hanya dua bandara itu yang menjadi rujukan terdekat kalau ingin mencapai rute akhir Jogja.

“Kenapa nggak langsung Jogja?” 

Begitu kiranya pertanyaan orang-orang, mengingat Jogja juga punya bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Namun dengan sedikit sisa akal sehat dalam mempertimbangkan harga tiket di tengah kondisi ekonomi ini, harga tiket pesawat langsung dari salah satu kota di Kalimantan ini menuju YIA dihargai senilai dua kali lipat dibandingkan rute Surabaya atau Semarang.

Maka dari itu, opsi penerbangan langsung tujuan Jogja langsung dieliminasi.

Sayangnya terjadi kondisi di luar kendali, yakni kehabisan tiket yang dipantau sehari sebelumnya masih tersisa banyak. Bisa jadi, semua orang baru memutuskan membeli tiket pada saat yang sama. 

“Jadi, gimana, Kak?” tanya ibu, Sabtu (21/3/2026) malam. 

“Lewat Jogja aja kalau begitu,” kata saya pasrah.

“Tapi, lewat Palangkaraya,” kata saya menambahkan.

Perjalanan “gedebak-gedebuk”

Dengan keputusan itu, saya harus menempuh perjalanan darat selama lima jam untuk mencapai Kota Palangkaraya dari kota asal. Perjalanan ini, terang saja harus dilakukan sehari sebelum keberangkatan karena waktu keberangkatan pada pagi hari, sedang rata-rata mobil travel (satu-satunya opsi, selain bus) baru beroperasi pukul 10.00 WIB.

Untungnya, keluarga bersedia mengantarkan sampai berpindah kota. 

Tidak menguntungkannya, bepergian bersama keluarga berarti ada kemungkinan akan berisiko tiba dalam waktu mepet dengan keberangkatan pesawat di bandara. 

Iklan

“Nggak apa-apalah. Setengah jam sebelum baru ke bandara masih aman,” kata ayah yang bertugas sebagai sopir.

“Aman,” jawab saya sekenanya. Rasanya memang aman, tapi bukan berarti tidak ketar-ketir. 

Setibanya di Bandara Tjilik Riwut, saya langsung berlari dengan sisa waktu kurang dari setengah jam dari boarding. Memang, check-in bisa dilakukan lebih dulu online, tapi bagasi adalah urusan lain. Karena itulah, saya tetap harus mengantre panjang untuk menyerahkannya. 

Setelah itu pun, saya masih harus keluar untuk pamit kepada keluarga sebelum memasuki ruang tunggu. Singkatnya, perjalanan ini cukup “gedebak-gedebuk” sampai benar-benar duduk di kursi pesawat. 

Hiburan kecil sebelum atraksi

Jangan bayangkan kesulitan itu sudah berhenti. Sebab, sampai dengan telah duduk tenang di kursi pesawat, masih ada kejadian kecil yang cukup menggelitik sepanjang penerbangan. 

Dimulai dengan sepasang perempuan dan laki-laki muda berusia sekitar 20-an yang datang dengan baju berwarna senada, merah muda.

Untuk diketahui, pesawat ini terdiri dari 6 kursi dalam satu row, artinya setiap sayap berisi 3 kursi. Saya mendapatkan kursi 15B. Kursi ini terletak di tengah-tengah, tidak di dekat jendela ataupun lorong. Akan tetapi masalahnya, pasangan yang datang dengan baju couple itu terlihat tidak senang mengetahui ada orang lain di antara mereka. 

“Mbak, duduk di sini?” saya mencoba bertanya lebih dulu.

“Iya.”

Menerima jawaban sesingkat itu, saya menarik niat untuk menawarkan menukar kursi agar mereka dapat duduk bersampingan. Meski hasilnya, suasana canggung dan tidak terlalu menyenangkan terasa selama penerbangan.

Setidaknya, bagi saya, suasana itu luruh ketika awak kabin memberikan pengumuman yang awalnya dikira akan menjadi pengumuman seperti biasanya.

“Bapak Ibu yang terhormat, tak kenal maka tak sayang…” 

Begitu awalnya, saya mengira, mereka akan memperkenalkan pilot atau awak kabin lainnya. Trik klise.

“Maka, penumpang bisa lebih mengenal Super Air Jet melalui BookCabin,” adalah sepenggal lanjutan kalimat yang bisa saya ingat sampai diakhiri dengan momen giveaway dadakan, “Bagi Bapak Ibu yang mempunyai aplikasi BookCabin boleh angkat tangan untuk mendapatkan hadiah….”

Pesawat Super Air Jet, “badut” tapi manusiawi

Biasanya, penawaran semacam itu tidak benar-benar digubris. Tapi kali ini, saya menyaksikan beberapa orang berlomba-lomba mengangkat tangan. Terbilang lumayan, bahkan awak kabin sampai harus mengulangi dengan aba-aba menghitung mundur. 

“Tiga, dua, satu…”

“Selamat.”

Sungguh aneh bin ajaib. Aneh karena ini menjadi pengalaman baru menyaksikan maskapai pesawat melakukan giveaway di atas langit, sedang ajaib karena reaksi antusias orang-orang yang cukup di luar dugaan.

Berkat itu juga, saya tidak tertidur sepanjang sisa penerbangan. Rasa terhibur membilas kantuk yang sebelumnya masih membuai alam bawah sadar untuk mengambil alih selama setengah jam sisa waktu penerbangan. 

Namun alasan lain kenyamanan ini muncul bukan hanya karena hiburan dadakan dengan microphone yang dilakukan awak kabin, fasilitas pesawat Super Air Jet bisa dikatakan lebih manusiawi dibanding pesawat yang sebelumnya saya naiki, paling sering NAM Air yang memang kondisi unitnya saja sudah memprihatinkan.

Super Air Jet dinilai sebagai maskapai low cost carrier (LCC) dengan ruang kaki standar. Akan tetapi, pengalaman saya mengatakan sebaliknya, ruang kaki maskapai di bawah Lion Air Group ini justru terbilang lega dan lebih menyadari bahwa penumpangnya adalah manusia yang membutuhkan ruang untuk kaki dibandingkan pesawat sejenisnya: NAM Air atau Lion Air yang pernah saya naiki. 

Soal pendingin udara (AC) juga, penerbangan mudik terakhir menggunakan NAM Air terasa menyiksa karena AC yang panas. Sementara itu, perjalanan kembali dari mudik kemarin menghibur sekaligus membekukan saya di tempat sebab pendingin yang benar-benar mendinginkan seisi ruang. 

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Maret 2026 oleh

Tags: cara memilih maskapai pesawatmudik naik pesawatnaik pesawatpenerbangan pesawatpengalaman naik pesawatpesawat lion airpesawat super air jettutorial beli tiket super air jettutorial membeli tiket pesawat
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Mudik Lebaran dengan pesawat
Urban

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026
5 tips bagi yang pertama kali mudik naik pesawat dan cara dapat promo tiket murah MOJOK.CO
Kilas

Tips 5 Persiapan bagi Orang yang Pertama Kali Mudik Naik Pesawat dan Dapat Promo Tiket Murah

18 Februari 2026
naik pesawat, pengalaman pertama naik pesawat.co
Ragam

Pengalaman Pertama Naik Pesawat: Sok Berani padahal Takut Ketinggian, Berujung Malu dan Jadi Aib Tongkrongan

16 Juni 2025
pengalaman pertama naik pesawat.MOJOK.CO
Ragam

Kenangan Orang Kampung Naik Pesawat Pertama Kali: Nunggu Gratisan, Bingung di Bandara dan Panik di Udara

3 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Alumnus UT Dapat Cuan dari Tren Foto Newspaper Photobooth di Jalan Tunjungan Surabaya. MOJOK.CO

Alumnus UT Buka Bisnis Foto ala Newspaper di Jalan Tunjungan, Satu Cetak Hanya Rp5 Ribu tapi Untungnya Bisa Sejuta dalam Sehari

25 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

26 Maret 2026
4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.