Sebagai pengguna pesawat dalam setiap perjalanan mudik, tidak banyak maskapai yang pernah saya coba. Paling itu-itu saja mengingat tujuan akhirnya adalah kota dengan luas bandara tak seberapa, maka ketika maskapai bernama Super Air Jet menunjukkan atraksi berbeda dalam penerbangan menuju Jogja. Siapa yang tidak akan terhibur?
Sempat alami kesulitan dapat tiket pesawat
Hiburan ini tidak gratis. Sebelum duduk dalam kondisi terhibur di kursi salah satu maskapai yang baru saya coba, Super Air Jet, ada masalah yang harus dihadapi sebelumnya.
Masalah itu berupa kehabisan tiket pesawat untuk pulang dari mudik setelah Lebaran.
Dari kota saya, penerbangan pesawat langsung menuju Surabaya ataupun Semarang sudah habis. Padahal, hanya dua bandara itu yang menjadi rujukan terdekat kalau ingin mencapai rute akhir Jogja.
“Kenapa nggak langsung Jogja?”
Begitu kiranya pertanyaan orang-orang, mengingat Jogja juga punya bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Namun dengan sedikit sisa akal sehat dalam mempertimbangkan harga tiket di tengah kondisi ekonomi ini, harga tiket pesawat langsung dari salah satu kota di Kalimantan ini menuju YIA dihargai senilai dua kali lipat dibandingkan rute Surabaya atau Semarang.
Maka dari itu, opsi penerbangan langsung tujuan Jogja langsung dieliminasi.
Sayangnya terjadi kondisi di luar kendali, yakni kehabisan tiket yang dipantau sehari sebelumnya masih tersisa banyak. Bisa jadi, semua orang baru memutuskan membeli tiket pada saat yang sama.
“Jadi, gimana, Kak?” tanya ibu, Sabtu (21/3/2026) malam.
“Lewat Jogja aja kalau begitu,” kata saya pasrah.
“Tapi, lewat Palangkaraya,” kata saya menambahkan.
Perjalanan “gedebak-gedebuk”
Dengan keputusan itu, saya harus menempuh perjalanan darat selama lima jam untuk mencapai Kota Palangkaraya dari kota asal. Perjalanan ini, terang saja harus dilakukan sehari sebelum keberangkatan karena waktu keberangkatan pada pagi hari, sedang rata-rata mobil travel (satu-satunya opsi, selain bus) baru beroperasi pukul 10.00 WIB.
Untungnya, keluarga bersedia mengantarkan sampai berpindah kota.
Tidak menguntungkannya, bepergian bersama keluarga berarti ada kemungkinan akan berisiko tiba dalam waktu mepet dengan keberangkatan pesawat di bandara.
“Nggak apa-apalah. Setengah jam sebelum baru ke bandara masih aman,” kata ayah yang bertugas sebagai sopir.
“Aman,” jawab saya sekenanya. Rasanya memang aman, tapi bukan berarti tidak ketar-ketir.
Setibanya di Bandara Tjilik Riwut, saya langsung berlari dengan sisa waktu kurang dari setengah jam dari boarding. Memang, check-in bisa dilakukan lebih dulu online, tapi bagasi adalah urusan lain. Karena itulah, saya tetap harus mengantre panjang untuk menyerahkannya.
Setelah itu pun, saya masih harus keluar untuk pamit kepada keluarga sebelum memasuki ruang tunggu. Singkatnya, perjalanan ini cukup “gedebak-gedebuk” sampai benar-benar duduk di kursi pesawat.
Hiburan kecil sebelum atraksi
Jangan bayangkan kesulitan itu sudah berhenti. Sebab, sampai dengan telah duduk tenang di kursi pesawat, masih ada kejadian kecil yang cukup menggelitik sepanjang penerbangan.
Dimulai dengan sepasang perempuan dan laki-laki muda berusia sekitar 20-an yang datang dengan baju berwarna senada, merah muda.
Untuk diketahui, pesawat ini terdiri dari 6 kursi dalam satu row, artinya setiap sayap berisi 3 kursi. Saya mendapatkan kursi 15B. Kursi ini terletak di tengah-tengah, tidak di dekat jendela ataupun lorong. Akan tetapi masalahnya, pasangan yang datang dengan baju couple itu terlihat tidak senang mengetahui ada orang lain di antara mereka.
“Mbak, duduk di sini?” saya mencoba bertanya lebih dulu.
“Iya.”
Menerima jawaban sesingkat itu, saya menarik niat untuk menawarkan menukar kursi agar mereka dapat duduk bersampingan. Meski hasilnya, suasana canggung dan tidak terlalu menyenangkan terasa selama penerbangan.
Setidaknya, bagi saya, suasana itu luruh ketika awak kabin memberikan pengumuman yang awalnya dikira akan menjadi pengumuman seperti biasanya.
“Bapak Ibu yang terhormat, tak kenal maka tak sayang…”
Begitu awalnya, saya mengira, mereka akan memperkenalkan pilot atau awak kabin lainnya. Trik klise.
“Maka, penumpang bisa lebih mengenal Super Air Jet melalui BookCabin,” adalah sepenggal lanjutan kalimat yang bisa saya ingat sampai diakhiri dengan momen giveaway dadakan, “Bagi Bapak Ibu yang mempunyai aplikasi BookCabin boleh angkat tangan untuk mendapatkan hadiah….”
Pesawat Super Air Jet, “badut” tapi manusiawi
Biasanya, penawaran semacam itu tidak benar-benar digubris. Tapi kali ini, saya menyaksikan beberapa orang berlomba-lomba mengangkat tangan. Terbilang lumayan, bahkan awak kabin sampai harus mengulangi dengan aba-aba menghitung mundur.
“Tiga, dua, satu…”
“Selamat.”
Sungguh aneh bin ajaib. Aneh karena ini menjadi pengalaman baru menyaksikan maskapai pesawat melakukan giveaway di atas langit, sedang ajaib karena reaksi antusias orang-orang yang cukup di luar dugaan.
Berkat itu juga, saya tidak tertidur sepanjang sisa penerbangan. Rasa terhibur membilas kantuk yang sebelumnya masih membuai alam bawah sadar untuk mengambil alih selama setengah jam sisa waktu penerbangan.
Namun alasan lain kenyamanan ini muncul bukan hanya karena hiburan dadakan dengan microphone yang dilakukan awak kabin, fasilitas pesawat Super Air Jet bisa dikatakan lebih manusiawi dibanding pesawat yang sebelumnya saya naiki, paling sering NAM Air yang memang kondisi unitnya saja sudah memprihatinkan.
Super Air Jet dinilai sebagai maskapai low cost carrier (LCC) dengan ruang kaki standar. Akan tetapi, pengalaman saya mengatakan sebaliknya, ruang kaki maskapai di bawah Lion Air Group ini justru terbilang lega dan lebih menyadari bahwa penumpangnya adalah manusia yang membutuhkan ruang untuk kaki dibandingkan pesawat sejenisnya: NAM Air atau Lion Air yang pernah saya naiki.
Soal pendingin udara (AC) juga, penerbangan mudik terakhir menggunakan NAM Air terasa menyiksa karena AC yang panas. Sementara itu, perjalanan kembali dari mudik kemarin menghibur sekaligus membekukan saya di tempat sebab pendingin yang benar-benar mendinginkan seisi ruang.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













