Sedari umur lima tahun, atau lebih awal dari ingatan saya itu, saya sudah lebih akrab dengan hewan ketimbang manusia. Khususnya, kucing.
Circa 2007, di sebuah perumahan guru yang ditempati ibu dari ayah, anak-anak kucing (kitten) berkeliaran sampai sepuluh ekor—hasil dari hanya satu kucing domestik yang diadopsi di hunian yang terbuat dari kayu ulin itu. Mereka menjadi bagian dari rumah, juga penghuni yang sebelumnya sudah berjumlah delapan orang.
Kala itu, setiap kali menyambangi kediaman mereka, saya dan saudara akan berlomba-lomba menggendong kitten sebanyak yang kami bisa.
“Aku dua.”
“Aku empat!”
Bisa jadi, begitu percakapan anak umur lima tahun yang saling pamer bisa mengangkat banyak bayi berbulu sekaligus dibanding yang lainnya.
Sungguh, kekanakan. Namun, dari sinilah kiranya kecintaan terhadap hewan ini bermula.
Dari sekian hewan piaraan yang pernah singgah: ikan, keong, burung merpati, kura-kura, kelinci, hanya kucing yang masih bertahan menghuni rumah saya.
Untuk alasan personal, mereka menetap lebih lama karena mereka telah berubah dari sekadar hewan menjadi alasan saya mampu hidup sebagai manusia.
Kedekatan emosional dan irasional terhadap kucing
Saban hari, begitu membuka mata, saya tidak akan membuka ponsel atau berbicara kepada siapapun. Aktivitas apa pun ditunda sampai saya menemukan kucing di rumah dalam kondisi sehat dan menunggu diberi makan.
Kalau sudah begitu, kebutuhan mereka adalah prioritas.
Mau satu dunia menunggu, bisa saya katakan kalau kucing saya juga melakukan hal yang sama, maka mereka akan lebih dulu mendapatkannya.
Begitu juga saat berada jauh dari rumah. Hanya karena tidak berada di tempat yang sama, bukan berarti mereka akan lepas dari pantauan.
Memanfaatkan kecanggihan teknologi, saya bisa melihat mereka yang melengos karena sebenarnya tidak terlalu acuh terhadap saya, melalui panggilan video.
“Bisa-bisanya, orang kok video call sama kucing,” begitu kata salah seorang teman yang keheranan melihat saya menghubungi kucing, bukan hanya satu dua kali.
Bahkan, isi panggilan bersama keluarga kira-kira akan seperti ini:
“Kucing mana?”
“Dudung (nama kucing) sudah pulang? Sudah pada makan?”
“Mereka makan apa hari ini?”
“Mau lihat Kecil (kucing saya yang lain) dong.”
Namun, kedekatan saya dan kucing yang jumlahnya kian bertambah itu terlampau emosional—hampir irasional, sebab saya merasa lebih nyaman menghabiskan waktu bersama kucing ketimbang manusia.
Sebuah penelitian menemukan, keterikatan emosional yang kuat pada hewan peliharaan dikaitkan dengan kenyamanan yang lebih rendah kepada orang lain, menandakan ketakutan besar seseorang untuk ditolak dan tidak dicintai. Ini mengarah pada beban kesehatan mental yang lebih tinggi.
Kalau diterjemahkan dalam bahasa yang lebih sederhana, ikatan emosional pemilik dan kucing disebabkan cinta yang terasa setara dan berbalas, meski dalam bahasa yang tidak sama. Lain hal dengan manusia, kecemasan akan proporsi yang berbeda seakan-akan selalu ada.
Merasa diterima oleh kucing
Penulis John Amodeo mengatakan, kucing bisa membuat kita merasa diterima.
Kucing menunjukkan rasa senang terhadap kehadiran fisik manusia di sekitarnya, melalui dengkuran atau mereka yang berguling—menunjukkan bagian sensitifnya. Bagi John, seolah-olah hewan berkaki empat ini memercayai manusia dengan mudah dan sepenuh hati.
“Seolah mengatakan, ‘Aku percaya padamu. Beri aku sedikit cinta dan merasa nyaman’,” katanya, seperti dilansir dari Psychology Today, Kamis (26/3/2026).
Ia bilang, apabila manusia memberikan perlakuan itu, mereka akan membalasnya dengan berperilaku menerima tanpa mengharap imbalan.
Lupa memberi makan sekalipun, kata John, mereka tidak akan protes dan tetap bersama pemiliknya sampai akhir.
“Mereka membiarkan masalah begitu. Mereka hanya ada di sini bersama kita sekarang,” kata dia.
Sebagai pemilik kucing juga, saya bisa mengonfirmasi hal ini. Ada kalanya waktu makan akan mengalami kemunduran karena urusan lain yang memakan waktu lebih lama, tapi mereka hanya akan melayangkan protes kelaparan. Lalu, sudah.
Begitu juga, semisal ekornya tidak sengaja terinjak, paling-paling berteriak. Kemudian, selesai.
Dibandingkan dengan manusia yang bisa jadi mengungkit-ungkit kesalahan kecil, padahal belum tentu menerima seutuhnya sejak awal, kucing terdengar lebih baik.
Lebih baik sebagai manusia
Namun kemudian, kehadiran kucing yang selalu membuat hari-hari saya terasa lebih baik membuat saya menjadi lebih baik kepada manusia. Setidaknya, saya dapat menahan rasa kesal terhadap sesama, lalu meluapkannya dengan berkeluh-kesah kepada kucing yang akan diam sebagai yang terkena imbasnya, harus mendengarkan.
Ini juga alasan penelitian menunjukkan bahwa kucing dapat menyembuhkan manusia, tidak hanya mental, tetapi juga fisik. Sebuah penelitian selama 10 tahun menunjukkan pemilik kucing lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal karena serangan jantung daripada orang-orang yang belum pernah memilikinya.
Kelompok terakhir 40 persen lebih mungkin meninggal karena serangan jantung dan 30 persen lebih mungkin meninggal karena penyakit kardiovaskular.
Penelitian lain juga mengonfirmasi bahwa hewan peliharaan ini dapat menurunkan tekanan darah kita dan melepaskan dopamin dan serotonin, yang mengurangi stres dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.
Selain itu, perasaan lebih mampu menjadi manusia dalam kehidupan sehari-hari berkat kucing juga bukan tanpa alasan. Mereka membantu melepas oksitosin, yang berhubungan dengan perasaan jatuh cinta.
Sebagaimana cinta menyembuhkan, perasaan memiliki dan mengetahui bahwa diterima oleh kucing menimbulkan ketenangan tersendiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
