Dua tahun lalu, perjalanan mudik Lebaran saya hampir mustahil untuk langsung sampai ke kota asal. Akibatnya, harus melanjutkan dengan mobil travel yang berujung membuat trauma. Saya tidak mau naik travel lagi.
***
Setibanya dengan pesawat, saya masih harus beralih moda transportasi untuk mudik Lebaran setidaknya sampai dua tahun lalu. Biasanya, dengan penerbangan yang landas pada pukul 10.00 WIB, waktu keberangkatan mobil travel paling sesuai dan tidak terburu-buru adalah pukul 13.00.
“Sudah mama pesan ya, travel jam 1,” begitu dahulu ibu selalu mengabari.
Kebetulan, untuk travel yang digunakan adalah agen yang beberapa kali sudah pernah digunakan keluarga kami. Namun ketika saya sebut agen travel, bukan berarti kami tahu siapa supir yang akan mengemudi. Inilah permasalahannya.
Supir travel tak tahu aturan
Waktu keberangkatan travel berlaku sama pada rute kepulangan setelah libur Lebaran berakhir. Kira-kira pada Mei 2024 lalu, saya kembali menaiki travel untuk kembali ke Jogja.
“Jam 1 travelnya?”
“Iya, jam 1 aja.”
Jadilah, saya menjadi salah satu dari lima penumpang (tidak terhitung satu supir) yang duduk bersama dalam satu mobil. Tepatnya, saya duduk di kursi tengah dekat jendela—posisi yang biasanya menguntungkan, setidaknya begitu yang saya pikirkan awalnya.
Sebab, saya adalah penumpang pertama yang dijemput.
“Jemput yang lain dulu ya,” kata si sopir mobil.
Lalu, secara perlahan, saya tahu keberuntungan berubah menjadi kesialan. Dimulai dari si sopir travel yang membawa kendaraan roda empat dengan ugal-ugalan. Kecepatannya menunjukkan ambisi menjadi pembalap F1, serta kenekatan sopir dalam menyalip kendaraan besar bukan main. Bukan main membahayakan nyawa penumpang.
Kalau saja ini bukan di jalan antardaerah Kalimantan yang tidak ada polisinya, tidak banyak yang melaporkan juga, nasib sopir ini bisa jadi berakhir seperti sopir JakLingo di Jakarta, yakni diberhentikan atau diganti.
Tidak cukup sampai di situ, sopir yang membuat saya trauma untuk menaiki travel ini mulai membakar rokoknya dan membuka jendela. Tanpa mematikan ac. Cukup kompleks, ada udara alami, air conditioner, dan asap rokok.
Sungguh tidak taat terhadap UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Nomor 11 Tahun 2009 yang berbunyi:
“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).”
Kombo penumpang tidak tahu diri
Kesialan saya tidak habis pada sopir yang tidak tahu aturan. Melainkan, masih dilanjutkan dengan salah satu penumpang yang membuat saya merasa tidak nyaman sepanjang perjalanan.
Ceritanya, memang saya adalah satu-satunya penumpang perempuan. Namun, ini bukan masalah. Tidak ada perbedaan yang harusnya dilayangkan antara penumpang perempuan atau laki-laki.
Terkecuali, ketika salah satu mulai menyalahgunakan kewenangannya.
Salah satunya, dengan duduk selebar mungkin dan mengambil ruang duduk penumpang lain. “Laki-laki emang harus duduk begitu?” saya ingat mengirimkan pesan ini kepada salah seorang teman laki-laki.
Siapapun tahu, bukan itu pertanyaannya. Bukan juga mempertanyakan mengenai posisi duduk, tetapi etika berbagi kursi dalam satu mobil yang sama.
Seakan tidak cukup menyiksa dengan mencoba menahan diri dalam ruang terbatas, si penumpang di samping yang sudah mendapat lebih banyak tempat justru menyandarkan kepala selama hampir setengah perjalanan. Di titik ini, rasa ingin marah-marah tentu memuncak, kalau saja tidak menyadari bahwa kendaraan yang sedang dinaiki adalah travel.
“Travel ya, agak susah disalahkan,” kata salah seorang teman yang bereaksi terhadap cerita saat itu.
Ia lalu menanyakan, “Kurang berapa jam lagi harus menahan itu?”
“Lima jam,” jawab saya.
Sungguh keberuntungan sedang tidak bersama saya hari itu. Mulai saat itu juga, travel akan menjadi pilihan terakhir (sekalipun hanya ada dua pilihan antara travel mobil atau bus) untuk perjalanan mudik Lebaran di Kalimantan.
Gambling kenyamanan mudik Lebaran dengan travel
Beberapa teman juga pernah mengalami hal serupa dalam perjalanan mereka dengan travel. Lisa (23) salah satunya. Berbanding terbalik dengan saya yang harus menghadapi sopir mobil yang “berulah“, ia justru dihadapkan dengan rasa frustasi dan takut yang bercampur aduk sepanjang perjalanan.
“Pernah tuh aku, travelnya kayak sakit gitu lho,” katanya, Kamis (12/3/2026).
Melihat kondisi sopirnya saat itu, bukannya merasa takut kalau akan terjadi hal yang tidak diinginkan kepada dirinya dan seluruh penumpang. Lisa menjadi ketar-ketir kalau si pengemudi akan mengalami kejadian yang tidak diinginkan.
“Itu deg-degan sepanjang jalan, takut ia kenapa-kenapa,” ujarnya.
“Soalnya sopirnya, kayak orang stroke,” ujar dia menambahkan.
Namun, Lisa hanya bisa pasrah. Sebagaimana penumpang travel umumnya, Lisa bilang, tidak ada yang tahu siapa yang akan mengemudikan kendaraan travel yang ditumpangi. Jadilah, tidak ada banyak hal yang bisa diperbuat.
“Karena random, gak tahu akan siapa orangnya. Kita cuman tahu agen doang, tapi gak tahu siapa yang nyetir,” katanya.
Namun di lain sisi, pengalaman naik travel ini barang tentu tidak bisa disamaratakan—seperti kata Lisa soal pemilihan pengemudi yang random. Sebagai penumpang juga, saya tidak mengatakan menolak untuk menaiki travel selamanya. Contoh travel di Jogja, salah satu yang dinaungi Blue Bird, adalah pilihan yang jarang keliru.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
