Viralnya lagu “Stop The Wedding” karya Ashe mencerminkan kedaulatan perempuan yang berani menolak hubungan berisiko, bukan berarti anti-pernikahan.
***
Mendengar lagu Stop The Wedding yang terus berputar di beranda media sosial, saya jadi teringat oleh percakapan seorang teman dengan ibunya yang baru pulang dari perantauan. Teman perempuan saya yang usianya baru menginjak seperempat abad ini bercerita bahwa dirinya tak terhindar dari pertanyaan: kapan nikah?
Dengan senyum getir di wajah, teman saya hanya menjawab “aku nggak mau buru-buru”. Alih-alih siap menerima komentar marah dari ibunya, teman saya justru terkejut dengan respons dari sang ibu.
“Iya nggak papa, ibu mau kamu cari pasangan yang ‘setara’. Jangan seperti ayahmu,” nasihatnya.
Sontak teman saya bingung. Bukan karena respons ibunya yang tak marah, tapi kalimat terakhir yang membuatnya tertohok.
“Jadi selama ini ibu tak bahagia dengan ayah?” batinnya kala itu. Kalau divisualkan jadi adegan drama, mungkin saya akan memilih lagu Stop The Wedding untuk backsound-nya.
Teman saya lalu bercerita, jika selama ini ibunya adalah penopang utama dalam keluarga, sementara ayahnya sudah lama menganggur. Lebih dari itu, ibunya juga yang mengurus kerja-kerja domestik tanpa punya kuasa membagi perannya dengan sang suami.
Meski lelah secara mental menjalani pernikahan tersebut, ibu teman saya itu akhirnya memilih bertahan. Entah karena rasa takut atau pergulatan batin yang membuatnya tidak berdaya untuk berpisah. Alhasil, ia hanya bisa memperingati anak perempuannya agar tidak buru-buru menikah.
Percakapan antara ibu dan anak tersebut akhirnya mengingatkan saya pada lagu “Stop the Wedding” yang saat ini sedang tren di media sosial. Bagi saya, lagu ini menjadi representasi nyata bagaimana seharusnya perempuan berani bersuara, bukan ajakan untuk membenci pernikahan.
Stop The Wedding bukan ajakan untuk membenci pernikahan
Jauh sebelum lagu Stop The Wedding karya Ashe ini menjadi hit, media sosial sudah mengenal fenomena “marriage is scary”, mengingat banyaknya kasus perselingkuhan, perceraian, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Sementara bagi teman saya, pengakuan sang ibu adalah pemicu ketakutannya terhadap pernikahan. Melihat ibunya yang sehari-hari bekerja dan merasa tak bahagia dalam keluarga, membuat teman saya itu takut membayangkan masa depannya setelah menikah.
“Bersih-bersih rumah, membeli kebutuhan sehari-hari, menyiapkan makanan, mengurus suami, belum lagi kalau sudah punya anak, dan kerja-kerja domestik lainnya, membuatku berpikir apakah aku masih bisa mengejar karierku yang sekarang?” tutur teman saya ini yang juga mendengar lagu Stop The Wedding.
Di sisi lain, ia juga takut dengan ketidakpastian ekonomi saat ini, seperti meningkatnya harga properti hingga tingginya biaya hidup. Tidak jauh-jauh, untuk menyelenggarakan pernikahan saja, sebagai anak perempuan pertama, ia merasa punya beban tersendiri.
Pada akhirnya, bayangan tentang gaun pengantin mewah dan dekorasi pelaminan yang berbunga, tak lantas membuat teman saya tergiur untuk buru-buru menikah. Jauh di lubuk hatinya, ia justru mendambakan kebahagiaan sang ibu, sekalipun harus menebusnya dengan pilihan yang berat.
“Dalam hati, aku ingin bilang ke ibuku seperti Ashe bilang: ‘you don’t have to waste your night and wear your heart out. The warning signs are flashing now. Stop the wedding!’,” ucap teman saya.
Simbol kedaulatan perempuan yang punya hak atas hidupnya
Kisah teman saya itu menjadi bukti nyata bahwa lagu Stop The Wedding bukan sekadar sikap ‘manja’ anak muda yang anti menikah, tapi tentang realitas pernikahan yang ternyata tak seindah bayangannya.
Sejumlah pakar pun sepakat bahwa keengganan untuk menikah muncul, salah satunya karena realitas yang ditunjukkan di media sosial, hingga lagu Stop The Wedding menjadi viral dan mengubah cara pandang generasi kini terhadap pernikahan.
Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan membuktikan bahwa angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir. Pada tahun 2014, jumlah pasangan yang melangsungkan pernikahan ada sekitar 2,1 juta. Namun, angka ini turun drastis menjadi 1,47 juta atau sekitar 30 persen di tahun 2024.
Artinya, tren Stop The Wedding kini tak hanya memengaruhi pasangan yang telah menikah. Bahkan ‘wedding’ kini telah memiliki makna lebih luas, yakni simbol dari kedaulatan hidup perempuan yang berhak menetapkan keputusannya sendiri tanpa perlu FOMO. Bukan sekadar keputusan untuk menikah, tapi juga keputusan dalam memilih pendidikan, karier, dan hidup yang ingin ia jalani.
Oleh karena itu, jika kamu melihat perilaku tidak sehat alias red flag, seperti menerapkan budaya patriarki, berperilaku kasar baik secara fisik maupun verbal, manipulatif, atau perbuatan lepas kendali yang mengusik hidupmu, Stop The Wedding!
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Tren Stop Wedding: Ternyata Pernikahan Juga Menakutkan bagi Laki-Laki atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan