Tren Stop Wedding: Ternyata Pernikahan Juga Menakutkan bagi Laki-Laki

Stop Wedding: Ternyata Laki-laki juga Takut pada Pernikahan. MOJOK.CO

Tren stop wedding yang mencuat di medsos nampaknya tidak hanya dirasakan perempuan saja. Ternyata laki-laki juga merasakan ketakutan yang sama soal pernikahan.

***

ADVERTISEMENT

Pernikahan sering kali diperlakukan sebagai salah satu tujuan hidup yang harus dicapai. Namun, belakangan muncul suara-suara yang justru mengajak perempuan untuk tidak terburu-buru menikah, bahkan berani berhenti ketika hubungan yang dijalani tidak lagi sehat.

Bagi Lail (27), seorang pekerja di salah satu agensi digital di Yogyakarta, tren stop wedding bukan ajakan untuk membenci pernikahan. Ia justru melihatnya sebagai pengingat bahwa seseorang berhak mengakhiri hubungan yang tidak sehat, sekalipun hubungan tersebut sudah berada di ambang pernikahan.

Dalam percakapan melalui WhatsApp, Jumat (6/11/2026), Lail menjelaskan bahwa keputusan menikah semestinya merupakan kesepakatan dua orang. Jika di tengah perjalanan ditemukan ketidakcocokan yang tidak bisa diselesaikan, mengakhiri hubungan rumah tangga bukanlah sesuatu yang harus dianggap sebagai aib.

“Berhenti dari hubungan yang beracun itu sah-sah saja,” ujarnya.

Bagi Lail, persoalannya bukan semata-mata tentang keberanian perempuan membatalkan pernikahan. Ada tekanan sosial yang membuat sebagian perempuan merasa harus mempertahankan hubungan, meskipun mereka sendiri tidak lagi merasa nyaman.

Perempuan yang menikah seolah harus siap menanggung banyak hal

Lail melihat perempuan di lingkungan sekitarnya masih berhadapan dengan berbagai tuntutan sosial. Perempuan yang belum menikah ketika usianya dianggap matang bisa dicap tidak laku. Mereka yang sudah menikah tetapi belum memiliki anak juga berhadapan dengan pertanyaan dan stigma.

Bahkan, perempuan yang menikah muda dengan sederhana tidak jarang menerima anggapan bahwa pernikahannya merupakan sebuah “kecelakaan.”

Belum selesai sampai di situ. Lail juga melihat beberapa kawannya memilih menghentikan karier setelah menikah untuk mengurus rumah tangga.

ADVERTISEMENT

Pengalaman-pengalaman tersebut membuatnya merasa perempuan memiliki modal sosial yang tidak selalu cukup untuk menghadapi konsekuensi pernikahan. Mereka seolah harus memenuhi banyak standar sekaligus, mulai dari usia menikah, memiliki keturunan, sampai kemampuan mengurus rumah. Pengalaman pribadi turut membentuk pandangannya. 

“Orang tua saya pernah mengakhiri hubungan rumah tangga melalui konflik yang tidak menemukan jalan keluar secara baik-baik. Pengalaman menyaksikan keretakan tersebut membuat saya lebih berhati-hati ketika membicarakan pernikahan,” jelas Lail.

Ia bahkan pernah memiliki mantan pasangan yang terus mendesaknya agar segera menikah. Sekarang, meskipun sudah memiliki pasangan, Lail belum ingin terburu-buru melangkah ke jenjang tersebut. Ia menikmati kebebasannya untuk pergi ke mana saja, termasuk bersepeda tanpa harus merasa dibatasi.

Ada satu hal yang cukup ia khawatirkan: setelah menikah, kebebasan itu mungkin berkurang karena tanggung jawab domestik.

Karena itu, ia berusaha membicarakan pembagian pekerjaan rumah dengan pasangannya sejak sekarang. Urusan mencuci, menyapu, dan memasak, menurutnya, harus bisa dikerjakan bergantian.

“Takut juga ketika nanti setelah menikah saya malah tidak bisa sebebas itu karena beban domestik rumah tangga,” katanya.

Laki-Laki juga punya alasan untuk takut menikah

Kekhawatiran terhadap pernikahan ternyata tidak hanya dirasakan perempuan. Awan (30), seorang pekerja kantoran yang sudah memiliki kondisi ekonomi cukup mapan, juga belum ingin buru-buru menikah.

Meski demikian, Awan tidak sepenuhnya menolak pernikahan. Ia justru memahami mengapa banyak perempuan mendukung tren stop wedding. Menurutnya, ada ketimpangan tanggung jawab yang masih sering ditemukan dalam kehidupan rumah tangga.

Ia menyebut pekerjaan memasak, mencuci, membersihkan rumah, hingga mengasuh anak masih kerap dibebankan kepada perempuan. Bahkan, perempuan yang bekerja di luar rumah tidak otomatis terbebas dari pekerjaan domestik ketika pulang.

“Dengan beban seperti mencuci, memasak, mengurus anak, melayani suami dengan ditambah masih bekerja. Maka wajar kalau perempuan merasa tidak betah ada di pernikahan yang tidak sehat,” kata Awan.

Ia juga mengakui bahwa sebagian laki-laki masih melihat pernikahan sebagai sesuatu yang menguntungkan. Mereka bisa mendapatkan pasangan hidup, keturunan, sekaligus seseorang yang membantu mengurus kebutuhan rumah tangga.

Namun, Awan mengingatkan bahwa pandangan tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada semua laki-laki. 

“Menjadi suami yang bertanggung jawab tidak cukup hanya dengan mencari nafkah. Laki-laki juga harus mampu menjadi pasangan, pelindung, sekaligus kawan bekerja sama dalam mengurus rumah tangga,” jelas Awan.

Awan bahkan merasa laki-laki perlu membuktikan bahwa mereka mampu menjadi pasangan yang setara. Bukan sekadar mengucapkan janji ketika sedang membicarakan pernikahan.

Meski memahami kritik perempuan, ia juga merasa tren stop wedding perlu ditempatkan secara proporsional. Jangan sampai kritik terhadap ketimpangan rumah tangga berubah menjadi anggapan bahwa semua laki-laki merupakan pasangan yang buruk.

Menurutnya, tren tersebut semestinya menjadi pelajaran untuk membangun hubungan yang sehat, bukan ajakan untuk membenci laki-laki.

Beban domestik yang membuat pernikahan perlu dipikirkan ulang

Kekhawatiran Lail dan pandangan Awan sebenarnya memiliki konteks sosial yang bisa ditemukan dalam data.

Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Indeks Pembangunan Gender 2024 menunjukkan bahwa pada 2024, proporsi penduduk perempuan yang melakukan kegiatan mengurus rumah tangga mencapai 24,53 persen. Sementara itu, pada laki-laki angkanya hanya 3,04 persen. Data tersebut memperlihatkan adanya perbedaan keterlibatan laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan domestik.

Penelitian Harvina Putri berjudul Marriage is Scary Trend: Narratives of Fear of Marriage for Women yang diterbitkan dalam Glocal Society Journal pada 2025 juga menarik untuk diperhatikan.

Melalui analisis konten TikTok dan wawancara, penelitian tersebut menemukan bahwa narasi ketakutan terhadap pernikahan di kalangan perempuan berkaitan dengan persoalan keluarga, kecemasan memilih pasangan, nasihat perkawinan, serta tuntutan kehidupan setelah menikah.

Pengalaman pribadi, tekanan sosial, perubahan budaya, dan paparan media sosial turut memengaruhi persepsi perempuan terhadap pernikahan. Penelitian itu juga mencatat sisi positif tren tersebut sebagai bentuk berbagi pengalaman dan pengingat agar lebih selektif mengambil keputusan.

Sementara itu, penelitian Karel Karsten Himawan berjudul Either I Do or I Must: An Exploration of the Marriage Attitudes of Indonesian Singles yang terbit di The Social Science Journal pada 2019 menemukan bahwa orang dewasa lajang di Indonesia masih menghadapi tekanan sosial untuk menikah. Menariknya, meskipun tekanan tersebut cukup kuat, responden penelitian tetap memiliki pandangan positif terhadap pernikahan.

Artinya, mempertanyakan pernikahan tidak selalu berarti menolaknya. Ada orang-orang yang tetap menginginkan kehidupan berumah tangga, tetapi tidak ingin menjalankannya hanya karena tuntutan lingkungan.

Awan sendiri masih mempertimbangkan pernikahan karena merasa belum siap secara mental dan finansial. Ia belum memiliki aset yang menurutnya cukup untuk membangun kehidupan rumah tangga.

“Daripada memaksakan diri menikah dan berhadapan dengan ketidakcocokan yang berujung perpisahan, saya memilih mempersiapkan diri terlebih dahulu,” tutup Awan.

Di titik ini, pandangan Awan dan Lail bertemu. Keduanya tidak sedang menyatakan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang buruk. Mereka hanya tidak ingin memasuki kehidupan rumah tangga tanpa memahami konsekuensi dan tanggung jawab yang menyertainya.

Barangkali, stop wedding bukan berarti berhenti percaya pada pernikahan. Bisa jadi, tren ini justru menjadi pengingat bahwa menikah bukan sekadar tentang menemukan seseorang untuk hidup bersama, melainkan menemukan seseorang yang bersedia berbagi kehidupan, pekerjaan, dan tanggung jawab secara setara.

Sebab, kalau urusan mencuci, menyapu, memasak, hingga mengasuh anak masih dianggap sebagai pekerjaan salah satu pihak, wajar jika pernikahan terasa lebih menakutkan daripada yang selama ini diceritakan dalam undangan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA:  Saya Beruntung Tinggal di Sebuah Desa di Jogja yang Warganya Tak Pernah Mendesak “Cepat Menikah” dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 November 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.