ADVERTISEMENT

Perempuan Gen Z Makin Mandiri, tapi Dianggap Pilih-pilih hingga Dicap Benci Menikah padahal sedang Ikhtiar untuk Menjaga Diri

Perempuan gen z takut menikah. MOJOK.CO

Mayoritas gen Z tidak membenci pernikahan melainkan takut salah langkah untuk mengambil keputusan yang rasional. Menundanya adalah bentuk ikhtiar untuk menjaga diri.

***

Laporan Statistik Pemuda Indonesia 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 71,04 persen pemuda usia 16–30 tahun masih berstatus belum menikah pada tahun 2025. Sementara itu, Survei Indonesia Gen Z Report 2025 mengungkap sekitar 73,7 persen responden Gen Z yang masih lajang masih ingin menikah di masa depan. 

Artinya, mayoritas gen Z yang masih lajang bukan tidak ingin menikah. Melansir dari laman resmi Kementerian Agama (Kemenag), gen Z bukan membenci pernikahan melainkan ada realitas sosial yang membuat mereka mengalami krisis kepercayaan terhadap institusi pernikahan.

Pada masa kini, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai ruang aman, melainkan sesuatu yang penuh risiko dan ketidakpastian, khususnya bagi perempuan. Seperti yang dialami Desi Murniati, Habibah, dan juga Dinda*.

Terlalu mandiri malah dianggap pilih-pilih

Hidup selama 31 tahun tanpa pernah menyandang status pernikahan, Desi Murniati rasanya sudah kebal dengan pertanyaan “Kapan nikah?”. Dengan santainya dia akan menjawab, “Kapan ya? Hehehe,” sembari mengalihkan pembicaraan.

“Aku pernah merasa bawa perasaan (baper) tapi belakangan sudah nggak. Toh, nanti kalau sudah nikah tetap bakal ditanya, ‘kapan ngisi (hamil)?’, ‘kapan nambah anak?’, ‘kapan beli rumah?’, dan lain-lain,” jelasnya.

Karena jawabannya yang ambigu, Desi malah mendapat nasihat yang menurutnya tak masuk akal. Salah satunya, jangan terlalu pintar atau jangan terlalu pemilih jadi gen Z, agar laki-laki yang mendekat tidak takut.

“Padahal, aku dari keluarga kurang mampu yang akhirnya bisa kuliah dengan beasiswa, lulus, dan saat ini bekerja,” kata Desi.

Dengan dalih tersebut, alasan apa yang membuat gen Z tidak boleh memilih pasangan?

“Kalau nilai dirinya cuma sekadar bisa mengganjal perut, jelas itu nggak setara sama aku,” tegasnya.

Begitu pula dengan Habibah. Perempuan berusia 26 tahun itu bukannya tidak ingin menikah. Namun, mengingat kondisi dia sekarang yang belum siap secara finansial maupun mental, Habibah pun jadi segan.

“Sebenarnya nggak perlu nunggu mapan dulu ya, yang penting ada kerjaan tetap dan niat mau berjuang bareng. Nah, buatku tujuan punya pasangan itu biar kita jadi teman seperjuangan,” ucapnya.

“Jadi milihnya juga nggak bisa sembarangan. Harus yang bisa saling bantu dan paling penting punya tujuan sama,” lanjutnya.

Cara pandang gen Z terhadap pernikahan berubah

Penyuluh Agama Islam KUA Jambangan Surabaya, Halimatus Sa’diyah, cukup maklum dengan apa yang dirasakan Desi dan Habibah. Ia melihat, banyak perempuan kini lebih berdaya, sehingga cara pandang mereka terhadap pernikahan pun ikut berubah.

“Jika pada generasi terdahulu menikah sering kali diletakkan sebagai jaminan keamanan ekonomi dan sosial, maka bagi sebagian independent women masa kini, kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut sudah mampu mereka penuhi sendiri,” kata Halima.

Dengan begitu, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai jalan keluar dari keterbatasan hidup, melainkan sebagai sebuah pilihan sadar yang harus benar-benar menghadirkan nilai tambah secara emosional, spiritual, dan psikologis.

Dari situlah perasaan ‘baik-baik saja tanpa menikah’ muncul di kalangan perempuan gen Z. Ketika faktor-faktor di atas sudah terpenuhi, maka tebersit pertanyaan paling mendasar yaitu ‘untuk apa menikah?’

Realitas sosial bikin gen Z takut menikah

Halima berujar, selain karena banyaknya gen Z perempuan yang tumbuh sebagai pribadi berpendidikan dan berkarakter, ketakutan terhadap pernikahan juga terjadi akibat realitas sosial yang mereka saksikan sejak dini.

Mulai dari perceraian, konflik berkepanjangan, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kekerasan seksual.

“Akhirnya, pernikahan tidak lagi dipersepsikan sebagai ruang aman, melainkan sesuatu yang penuh risiko dan ketidakpastian,” kata Halima.

Bagi penyintas kekerasan seksual seperti Dinda, sulit memandang kebahagiaan dalam sebuah pernikahan. Saat ini saja, Dinda masih berjuang untuk pulih bersama pasangannya yang sekarang.

Beruntung, pasangan Dinda tidak menuntutnya untuk buru-buru menikah meski usia mereka sudah terbilang matang.

“Aku ingin pacarku menikmati masa bujangnya, karena dulu kami berdua punya pengalaman kelam saat kecil. Mumpung punya uang, aku ingin dia bisa belajar mencintai dirinya sendiri dulu karena dia sering mendahulukan kebutuhanku dibanding dirinya. Padahal, nggak papa kalau dia mau ‘egois’,” tutur Dinda.

Sebab Dinda paham, untuk membangun rumah tangga tentu harus punya finansial yang cukup. Apalagi jika mereka berdua merencanakan anak di kemudian hari. 

Normalisasi gen Z yang takut menikah

Pengalaman Dinda menunjukkan bahwa menunda pernikahan adalah langkah rasional. Menanggapi fenomena ini, Halima melihat ketakutan tersebut sebagai bentuk ikhtiar untuk menjaga diri. Ia menegaskan bahwa pernikahan adalah ibadah yang agung dalam Islam tapi tidak seharusnya membebani jiwa. 

Meski begitu, mereka tidak boleh menutup diri secara total terhadap segala bentuk kebaikan. Dalam kitabnya, Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Imam al-Ghazali menekankan pentingnya menjaga tawāzun atau keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan harapan (rajā’). 

“Oleh karena itu, solusi atas kegamangan gen Z terhadap pernikahan bukan dengan mendesaknya agar ‘segera menikah’ lewat cara-cara yang menyudutkan, ataupun melayangkan vonis kepada kaum laki-laki karena dianggap ‘tidak bernyali’,” ujar Halima. 

“Namun dengan bersiap diri membangun kesiapan finansial, mental, emosional, serta tanggung jawab moral, sekaligus meningkatkan keluhuran akhlak, serta meluruskan cara pandang bahwa pernikahan merupakan ibadah yang dijalani bersama,” lanjutnya.

Karena itu, yang perlu dinormalisasi dalam masyarakat bukanlah sikap takut atau tidak menikah, melainkan menunggu sambil bersiap. Menunda menikah untuk memperbaiki diri, menata mental, memperkuat iman, dan memperjelas visi hidup adalah proses yang konstruktif.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Pernikahan Terutama di Desa Memberi Beban Lebih Berat ke Perempuan, Jadi Dasar Gen Z Tak Menikah karena Tak Sanggup Membayangkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.