Kuliah kerja nyata (KKN) menjadi salah satu syarat kelulusan di salah satu PTN di Jogja. Setiap mahasiswa wajib mengikuti KKN sebab hukumnya seketika menjadi fardhu ‘ain. Namun, kewajiban inilah yang mengantarkan saya pada pengalaman paling tidak ingin diulangi semasa kuliah, atau memungkinkan diulangi asal tidak kembali pada salah satu desa di Jawa Barat itu.
***
Sekitar empat tahun yang lalu, saya merupakan salah satu mahasiswa yang berbaris di lapangan bersama dengan ratusan mahasiswa lainnya. Bukan untuk orientasi, melainkan pelepasan mahasiswa untuk KKN.
Hari itu, saya sudah bersama salah satu kelompok KKN yang akan diberangkatkan ke regional Jawa Barat.
Beberapa bulan sebelumnya, saya masih mencari-cari kelompok sebelum terjebak dalam kelompok yang menyenangkan, kalau saja tidak perlu ada drama pertemanan dan warga desa yang toxic.
Terjebak di kelompok yang awalnya menyenangkan
Karena tidak terlalu banyak referensi, saya mencoba bertanya ke salah satu teman. Ia merekomendasikan saya ke salah satu kelompok KKN yang memilih lokasi strategis—tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dari Jogja.
Pilihan lokasi itu setidaknya cukup menjadi saya alasan mengiyakan tawaran rekomendasinya.
Begitu bergabung bersama teman sekelompok lainnya, pengalaman KKN juga tidak serta-merta memusingkan. Program-program disusun dengan mempertimbangkan banyak hal yang didiskusikan, kemudian satu sama lain saling memberikan usulan mengenai rancangan program kerja. Semua terlihat lancar dan berjalan nyaman sampai dengan pelepasan KKN.
Kata orang, buruknya pasangan akan ketahuan setelah tinggal bersama. Kurang lebih itulah yang juga dialami saat KKN, kamu baru akan tahu buruknya teman kelompok setelah menetap bersama di bawah satu pondokan.
Masalahnya saja, sebelum mencoba membayangkan, pondokan tempat saya ini dihuni oleh 10 perempuan sekaligus. Sungguh, ujian yang tidak dapat dibayangkan harus dilalui dalam 50 hari.
Banyak drama pertemanan di KKN tidak penting
Mari mulai dengan kebersihan rumah. Semua orang memiliki standar kebersihan masing-masing. Perbedaan standar itu membuat acuan setiap orang berbeda dalam menentukan mana yang bersih atau tidak.
Bayangkan dengan sepuluh standar, bagaimana bisa standar bersih itu ditetapkan?
Jawabannya, tidak bisa. Tidak ada.
Tuturan-tuturan semacam ini, bukan sesuatu yang langka, diucapkan dengan lantang. Ia seakan-akan menjadi makanan sehari-hari.
“Ini siapa ya habis mandi, rambutnya.”
“Tolong abis masak dibersihin dong.”
“Abis cuci piring, dibuang ya sampahnya.”
Padahal sebenarnya, situasi yang terjadi serbasalah. Misal, soal cuci piring, si pelaku memang salah. Si penegur juga tinggal membuang saja sampahnya, tetapi tidak mau sebab si pelaku yang bersalah. Jadilah, semua saling tunjuk dan tidak ada yang benar.
Salah satu riset yang dipublikasikan PubMed Central menunjukkan, tinggal dalam satu atap yang sama dengan orang lain memang dapat menimbulkan masalah. Permasalahan ini bahkan dapat merujuk pada gangguan kesehatan mental akibat pemeliharaan rumah yang buruk.
Teman KKN jadi beban kelompok
Beberapa narasumber Mojok juga membagikan cerita yang sama. Mereka menyebutkan pengalaman KKN itu menyenangkan, tetapi juga menyebalkan dalam satu waktu. Hal ini juga menyangkut pertemanan tidak diperkirakan.
Beberapa narasumber bercerita, pengalaman KKN dapat berubah menjadi ajang bertahan hidup bagi satu kelompok yang terdiri dari delapan orang. Sebab, sebagian besar dari mereka belum memiliki kemampuan dasar untuk dapat bertahan hidup di luar perkotaan yang serbamudah.
Tinggal di Jogja, kemampuan masak tidak menjadi sebuah keharusan. Ada kurir online yang siap mengantar jemput pesanan makanan tanpa harus kerepotan memasak sendiri di kos-kosan.
Namun, itulah yang menjadi bumerang. Mayoritas anggota kelompok yang tidak bisa memasak menjadi beban bagi yang lainnya karena tidak selalu bisa memasak setiap hari. Alhasil, kata dia, mereka akan memasak makanan ala kadarnya, terkesan mencampurkan saja seluruh bahan, tanpa tahu cara memasak dengan benar.
“Dia nggak punya sense bertahan hidup. Tiap hari mereka masak sup terong campur timun,” kata dia, Kamis (9/4/2026).
Tak hanya persoalan dapur, cerita lainnya mengatakan, teman kelompok yang menjadi beban juga ditunjukkan melalui kinerja yang buruk. Akibat nolep (no-life) atau tidak memiliki pengalaman kegiatan atau organisasi selama di kampus, mereka gagap dalam mengimplementasikan program KKN, bahkan untuk sekadar pengurusan izin.
“Mereka juga nggak bisa perkara perizinan, karena nggak aktif di kampus,” kata dia.
“Mereka sekadar ketemu RT aja gagap,” kata dia menambahkan.
Sudah harus menghadapi teman, masih ditunggu warga desa yang toxic
Meski pengalaman mengenai realisasi program KKN yang saya miliki cenderung aman, warga desa tidak jarang menjadi masalah yang lebih krusial dibandingkan teman kelompok.
Peribahasa yang berbunyi ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’ menjadi alasan menyebalkan mahasiswa KKN mau tidak mau menerima segala perilaku warga desa. Salah satunya, tradisi ngeliwet di Jawa Barat, yakni memasak dan makan bersama nasi liwet khas Sunda yang disajikan di atas daun pisang panjang.
Pada hari pertama kedatangan kelompok KKN, kami disambut oleh pemilik pondokan dengan liwetan. Bukan tidak senang, hanya saja kedatangan tersebut tidak terlalu tepat waktu dan tempat, sebab yang datang adalah serombongan bapak-bapak ke penginapan para perempuan pada malam hari.
Namun, demi menjaga kesopanan, mahasiswa KKN dibuat tidak bisa menolak.
Mana setelah makan, rombongan kunjungan pertama warga desa ini juga tidak langsung pulang. Melainkan, mengobrol hingga larut malam.
Setelah itu, hari-hari yang dijalani di salah satu desa di Jawa Barat ini menjadi kian berat. Warga desa tampak baik, tetapi ada banyak tuntutan yang dilontarkan tanpa suara. Misal, ada keharusan untuk mengikuti pengajian yang tidak selalu bisa dihadiri oleh mahasiswa KKN.
“Siapa giliran datang pengajian?”
“Aku sudah minggu kemarin.”
Bahwa percakapan mengenai pengajian adalah soal pembagian giliran. Hampir semuanya ogah-ogahan karena tidak merasa nyaman untuk hadir, sebab telah beraktivitas penuh seharian dan tidak bisa sepenuhnya bersosialisasi dalam pengajian tersebut. Ini juga yang kurang tepat, menurut saya, pengajian menjadi kesempatan menjalin hubungan sosial.
“Kalau mau deketin Ibu PKK, lewat pengajian,” kata salah seorang teman.
Namun, pengajian itu berisi 5 menit pembacaan Al-Qur’an, 5 menit ceramah, dan 20 menit ramah-tamah. Artinya, energi sosial yang dibutuhkan harus dipersiapkan dengan ekstra. Sementara itu, waktu sudah menunjukkan malam hari.
“Karena nggak datang pengajian, jadi ada omongan mahasiswa KKN kurang membaur.”
Masalah sebenarnya, hampir semua kegiatan warga desa yang tidak diikuti mahasiswa akan dikatakan sebagai kepayahan mahasiswa karena tidak membaur. Padahal faktanya, kapasitas mahasiswa yang terbatas tidak selalu memungkinkan mereka untuk melakukan semuanya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
