Pengalaman mendaki ke Bukit Pengilon dengan pemandangan Pantai Siung di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan saya pelajaran berharga. Tak hanya menguatkan fisik dan mental, tapi juga membentuk rasa empati.
***
Minggu (4/10/2026) pagi, saya bersama empat orang teman pergi ke Pantai Siung, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bukan hanya untuk menikmati pantai, tapi juga mendaki Bukit Pengilon yang tak jauh dari bibir pantai.
Jaraknya sekitar 1,5 hingga 2 kilometer dengan ketinggian 160 meter dari atas permukaan laut. Kami sendiri membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk tiba di puncak, mulai dari melewati Bukit Ragil hingga Banyutibo Waterfall.
Meski begitu, jalur pendakian ke Bukit Pengilon terbilang susah. Kami harus melewati jalan yang cukup ekstrem sejak berada di pintu masuk: menapaki tangga berpasir halus yang membuat kaki rawan melorot. Jarak antar tangganya pun cukup tinggi, sehingga otot paha kami harus bekerja secara ekstra.
Masalahnya, saya tidak menemukan pos sebagai tempat beristirahat. Namun, terdapat warung-warung milik warga, baik yang masih buka maupun warung yang sudah tidak beroperasi. Dari sinilah letak permasalahannya.
Dicegat di tengah jalur dan diminta ‘uang lewat’
Beberapa menit setelah melewati medan terjal di pintu masuk Bukit Pengilon, saya akhirnya berhasil menanjak hingga bertemu jalanan landai. Tak jauh dari situ, terdapat sebuah warung yang belum buka.
Si pemilik warung yang tadinya sedang duduk santai kemudian menghampiri saya. Saya yang sedang berdiri menunggu teman-teman melewati medan mulanya berpikir bahwa beliau hendak menyapa. Namun tiba-tiba, dia menengadahkan salah satu tangannya.
“Bayar Rp2 ribu saja, Kak per orang. Minum-minum teh hangat di dalam,” ujar perempuan tua tersebut.

Saya pun menolak untuk minum teh hangat di dalam. Namun, ibu-ibu tadi terus meminta uang. Padahal, saya bahkan tidak duduk di gazebo yang tersedia. Sebab saya tahu, jika duduk di sana saya harus menggelontorkan uang Rp10 ribu seperti yang tertulis di atas dinding kayunya.
Tak lama kemudian teman-teman saya tiba. Karena ibu tadi seolah tak membiarkan kami untuk melanjutkan perjalanan, saya pun memutuskan bayar Rp10 ribu untuk lima orang, meski kami sudah membayar uang Rp5 ribu per orang di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Bukit Pengilon dengan bukti tiket.
Meskipun hanya ditarik Rp2 ribu per orang, saya cukup kesal karena merasa dihalang-halangi. Ditambah, kelelahan saya usai melewati medan terjal tadi belum sepenuhnya surut. Namun kekesalan ini, hanya saya pendam dalam hati.
Medan terjal di jalur pendakian Bukit Pengilon tak ada apa-apanya
Kami pun melanjutkan perjalanan ke medan yang lebih landai: melewati jalan setapak menanjak, area persawahan, sampai kandang sapi milik warga. Tak terkecuali warung yang menjual minuman dan camilan.
Lagi-lagi, di warung tersebut kami diminta membayar uang sebesar Rp3 ribu per orang untuk ‘ongkos jalan’ Bukit Pengilon. Namun berbeda dari yang sebelumnya. Alih-alih langsung membayar, kami pun memutuskan istirahat usai ditempa debu dan angin panas.

Setelah mengatur napas, minum, dan melemaskan kaki sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan ke puncak. Dalam perjalanan inilah saya yang tadinya jengkel dengan ‘ongkos jalan’ yang berulang, justru menemukan realitas nyata bagaimana perjuangan warga Gunungkidul mencari air bersih di tengah cuaca ekstrem.
Ada yang berusaha mengisi air ke sejumlah jerigen plastik dan galon berukuran sekitar 15 liter di sungai yang mengering. Lalu, memboyongnya dengan tongkat di atas bahu menuju atas bukit. Ada pula yang habis mengarit dan membawa jerami keringnya untuk pakan sapi.
Meski kesulitan mencari air bersih dan berjalan kaki tanpa alas, mereka tetap menyapa kami untuk memberi semangat menuju puncak Bukit Pengilon.
“Mari-mari,” ucapnya singkat sambil susah payah menggotong beban yang dia bawa tanpa melupakan senyum tipis di wajahnya. Seulas senyum itulah yang membuat perasaan jengkel saya luruh.
Cara warga bertahan hidup di Bukit Pengilon
Sekitar 45 menit kemudian, kami tiba di warung terakhir dan harus membayar Rp2 ribu per orang. Sebelum menapaki tanjakan kembali yakni jalan terakhir menuju puncak Bukit Pengilon, saya pun memutuskan istirahat sejenak di warung beratap panel surya.

Adanya teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) itu memang bukan hal baru bagi warga di sekitar Kapanewon Wonosari, Gunungkidul. Melansir dari Kompas.com, mayoritas warga di sana sudah memanfaatkan energi matahari tersebut sekitar 10 tahun.
Menurut laporan tersebut, warga mulai mengenal panel surya sejak tahun 2006, setelah gempa besar mengguncang Bantul. Saat itu listrik padam dalam waktu lama dan banyak rumah tenggelam dalam kegelapan.
Sampai kemudian, salah satu warga bernama Muhammad Ahab berpikir untuk mencari sumber energi alternatif yang bisa dimanfaatkan warga. Dari situ, ia mulai belajar merakit sendiri perangkat tenaga surya dan mulai membagikan pengetahuannya ke sekitar, termasuk ke warga Gunungkidul.
Tak pelak, lampu-lampu di sepanjang jalan dan rumah warga di Gunungkidul kini tetap menyala, meski terjadi pemadaman listrik di sejumlah wilayah. Begitulah lagi-lagi saya sadar, cara warga Gunungkidul khususnya di Bukit Pengilon bertahan hidup.
Setelah lebih dari satu jam, akhirnya saya dan tim berada di puncak. Sembari melihat panorama laut lepas dari Samudra Hindia, saya turut mengagumi ketangguhan warlok Gunungkidul. Perjalanan mendaki ini pun menjadi perjalanan batin yang berhasil mengganti rasa kesal saya dengan empati.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pantai Siung Membayar Lunas Kekecewaan Saya dari Pendakian Bukit Pengilon yang Menyiksa selama Satu Jam atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan