Kedung Klurak Mojokerto: Spot Healing Warga Surabaya yang Tak Bisa Lari dari Urusan Pekerjaan

Wisata Kedung Klurak di Mojokerto. MOJOK.CO

Suasana alam yang asri dan fasilitas lengkap menjadikan Klurak Eco Park, atau dikenal dengan nama Kedung Klurak di Mojokerto, sebagai destinasi andalan para ‘budak korporat’ asal Surabaya yang ingin liburan sambil nyambi kerja.

***

ADVERTISEMENT

Sebelum memutuskan pergi ke Kedung Klurak, teman-teman saya sudah menyeleksi tempat healing yang cocok untuk budak korporat. Alih-alih memilih Kota Batu yang jaraknya lebih jauh dari Kota Surabaya, kami akhirnya melirik Mojokerto sebagai destinasi wisata yang lebih pas.

Menurut seorang teman yang sudah pernah ke Kedung Klurak, destinasi ini dulunya masih sepi dan hanya berupa sungai alami. Lokasinya pun cenderung tersembunyi karena dikelilingi hutan pinus.

Namun kini, Kedung Klurak di Mojokerto mengalami perubahan pesat. Salah satunya karena akses jalan yang sudah tertata rapi dan tidak terlalu ekstrem atau curam. 

Bahkan, beberapa teman saya yang tidak ikut rombongan elf dapat mengendarai motornya ke sana. Meski begitu, mereka mengaku tetap harus hati-hati karena jalannya yang menanjak, berkelok, serta penerangan yang terbatas menjelang malam.

Selain aksesnya yang mudah, pengelola Kedung Klurak juga sudah membangun berbagai fasilitas yang memuaskan pengunjung, mulai dari persewaan peralatan kemah, kolam renang anak, playground, instalasi listrik, deretan toilet, kafe, hingga pujasera.

Tenda yang disediakan pun bermacam-macam tergantung dari lokasi blok yang dipilih, ada Omah Gubuk berbentuk pondokan kayu tradisional, glamping deck, glamping exclusive, atau tenda umum yang langsung berseberangan dengan sungai.

Namun dari semua itu, ada salah satu fasilitas yang menurut kami penting dan patut disyukuri, yakni Wi-Fi berbayar berbasis voucer digital. Meskipun harus mengeluarkan uang Rp5 ribu untuk satu akun, fasilitas ini sangat membantu kami sebagai budak korporat.

Kedung Klurak cocok untuk workcation

Eka (25), salah satu teman saya sempat khawatir saat sinyal HP-nya tiba-tiba hilang sesaat baru tiba di loket masuk. Bagaimana tidak, pekerjaannya sebagai customer service sekaligus project management office membuatnya harus standby setiap saat walaupun ia sudah mengajukan cuti.

ADVERTISEMENT

“Aku tetap harus cek grup karena biasanya masih di-tag, ditanya-tanya juga sama atasan maupun teman kantor soal hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan,” kata Eka.

“Jadi waktu di Kedung Klurak aku harus tetap bekerja, kayak mengajukan payment sekaligus update cabang,” tegasnya. 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Klurak Eco Park (@klurak.ecopark)

Tak terlalu berbeda dengan Eka, saya pun harus mengunggah satu artikel yang harus tayang pada hari itu juga. Alhasil, kami membeli voucer digital Wi-Fi bersama yang lokasinya berada di atas—dekat menara berwarna biru keunguan.

Beruntungnya lagi, kami tak perlu khawatir jalan malam-malam karena petugas Kedung Klurak akan meronda dengan sepeda motornya. Beberapa pengunjung di area bawah pun masih terlihat kongko meski waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. 

Sementara di area atas, tempat kami membeli voucer, pedagang warung masih sibuk melayani pembeli. Salah satu pemuda yang menjaga warung tersebut berujar bahwa mereka buka selama 24 jam.

Meski begitu, voucer digital kami hanya berlaku selama 12 jam dan hanya bisa dipakai untuk satu perangkat. Alhasil, Eka harus membeli voucer digital Wi-Fi sebanyak tiga (satu untuk perangkat tab, dua untuk gawai).

Wi-Fi bukan sebenar-benarnya solusi

Meski terkesan ribet, Eka merasa senang karena bisa menyempatkan diri untuk ikut tadabur alam bersama salah satu organisasi yang dia geluti sejak SMA di sela-sela kesibukannya bekerja. 

“Al-Kahfi, organisasi yang sering mengadakan forum studi moral untuk mengingatkan kembali diri kita tentang arti bersyukur akan kehidupan,” ucap Eka.

Terlebih, Eka merasa tidak sedang bekerja karena suasana Kedung Klurak yang asri. Apalagi, ditemani oleh teman-teman dekatnya. Begitu pun saya yang menobatkan tempat ini sebagai workcation terbaik di Mojokerto.

Di sisi lain, Eka mengingatkan bahwa kerja tetaplah kerja dan liburan tetaplah liburan. Kedua kegiatan tersebut mestinya tidak disatukan, mengingat dampaknya pada kesehatan karena kurangnya waktu istirahat yang benar-benar lepas dari pekerjaan.

“Terlepas dari itu, Klurak Eco Park sangat aku rekomendasikan untuk berlibur maupun bersantai bersama keluarga, teman, dan sahabat,” ujarnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pantai di Rembang Butek dan Kotor, Tapi Itulah Keindahan yang Bisa Dinikmati karena Potensi Wisata Lain Tak Bertahan Lama atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 November 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.