Pantai di Rembang butek dan kotor. Tapi itulah keindahan yang bisa dinikmati karena tidak populernya wisata-wisata lain di sana.
Wisata pantai di Rembang bisa dibilang tidak ada matinya. Pantai-pantai—yang dikelola sebagai tempat wisata—yang membentang dari Kaliori hingga Sarang dan telah eksis sejak saya MTs masih terus beroperasi hingga saat ini. Misalnya, Pantai Pasir Putih Wates, Karang Jahe, Caruban, Bonang-Binangun, Jatisari, hingga Balongan.
Melimpahnya pantai di Rembang sempat membuat sejumlah teman kuliah saya dulu salah sangka. Mereka mengira bahwa suasananya tidak jauh berbeda dari pantai-pantai di Malang, Tulungagung, Blitar, atau Pacitan, sebagai jujukan populer wisata pantai di pantai selatan karena air biru, pasir putih nan halus, dan pemandangan yang Instagramable.
Itulah kenapa teman-teman kuliah saya di Surabaya awalnya antusias liburan di rumah saya. Sampai akhirnya mereka melihat sendiri dan menyimpulkan: ternyata tidak sesuai ekspektasi.
Satu kesamaan pantai di Rembang: butek dan kotor
Sejak MTs hingga sekarang sudah berusia 26 tahun, saya masih mendapati satu kesamaan mutlak pantai-pantai di Rembang: air butek dan pasir yang kotor.
Sebenarnya ada pantai yang butek (keruh kecokelatan) murni karena faktor alami: sedimentasi dan lumpur. Karakteristik pantai di jalur Pantura (Pantai Utara Jawa) cenderung dangkal dan memiliki dasar berlumpur. Gelombang laut mengaduk endapan lumpur ini sehingga air tampak keruh atau kecokelatan.
Namun, ada pula pantai yang airnya bahkan sampai menghitam bukan karena faktor alam. Melainkan karena bercampur dengan limbah pabrik-pabrik industri pengolahan ikan.
Tidak hanya itu, jangan harap bisa berjalan di atas pasir putih yang memanjakan telapak kaki. Sebab, terutama di pantai Jatisari hingga ke arah Timur (Sarang), pesisir pantai digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Alhasil, tepian pantai dipenuhi oleh kresek-kresek berisi sampah rumah tangga. Popok pun bisa ditemukan berserakan karena memang ada warga desa yang masih asal melempar popok ke laut.
Sore mantai selalu ramai
Meski begitu, nyaris setiap sore, pantai-pantai tersebut selalu menjadi jujukan baik oleh kalangan anak muda (hendak kencan atau nongkrong dengan teman sebaya).
Contoh kecilnya adalah Pantai Jatisari yang letaknya di bawah desa saya persis. Setiap sore pasti dipenuhi anak-anak muda (usia SMP-SMA) yang datang untuk berfoto. Mereka mengincar latar belakang bebatuan berlumut yang aslinya sebenarnya biasa saja, tapi memang bisa menjadi agak estetik kalau diedit tipis-tipis. Apalagi dengan tambahan lanskap senja di Rembang yang selalu merah.
Beberapa bulan terakhir, saya juga mendapati “inovasi” yang membuat sebuah pantai akhirnya tetap memiliki daya tarik tersendiri. Misalnya di Bonang-Binangun: di bukit bekas galian kapur di tikungan Pasujudan Sunan Bonang, kini disulap menjadi tempat ngopi yang kursinya langsung menghadap laut Jawa.
Kalau siang, tampaknya memang tidak menarik. Panas kering.
Namun, kalau sudah di atas jam 4 sore, suasana berubah menjadi riuh oleh anak-anak muda yang ingin mantai, nyore, dan nyenja.
Saat beranjak malam bahkan lebih ramai lagi. Tempat ngopi itu dipasangi lampu-lampu warna-warni. Sementara di laut menyuguhkan kerlap-kerlip lampu nelayan. Itu sudah cukup membuat orang-orang yang nongkrong bertahan hingga jam 11 malam.
Keindahan pantai Rembang bukan pada senjanya
Senja memang menjadi salah satu alasan wisata pantai di Rembang masih eksis sampai sekarang, meski sebenarnya butek dan kotor. Apalagi pada akhir pekan atau hari nasional, setiap pantai bisa tumplek blek oleh rombongan keluarga.
Tidak hanya orang Rembang sendiri, orang dari Blora pun sampai rombongan demi berwisata ke pantai Rembang. Karena sebagaimana diketahui, hanya ada tanah kering dan minyak di Blora, alias tidak ada pantai di sana.
Jangankan Blora yang jelas-jelas tidak punya pantai. Orang dari Juwana (yang notabene juga daerah pesisir) saja pun ada yang rela ke Rembang demi wisata “mantai”.
Keindahan pantai-pantai di Rembang sebenarnya terletak pada posisinya sebagai wisata murah. Mau hari libur atau tidak, tarifnya selalu tidak berubah. Tidak ada istilah nuthuk harga atau aji mumpung. Untuk motor umumnya di kisaran Rp3 ribu-Rp5 ribu. Sementara untuk mobil di kisaran Rp10 ribuan.
Begitu juga untuk harga-harga makanan yang tersedia di area pantai. Masih masuk akal, bukan harga ngenthel (istilah “markup” bagi orang Rembang).
Toh memang, bagi daerah-daerah plat K, Rembang menjadi daerah dengan branding sebagai tempat wisata pantai terkuat dari daerah pesisir lain seperti Pantai atau Juwana.
Wisata lain: viralitas sesaat, musiman, dan tidak terurus
Apakah hanya ada wisata pantai di Rembang? Sejatinya tidak.
Sejak saya MTs, saya mengalami beberapa kali kemunculan wisata-wisata alam baru non-pantai di Rembang. Hanya saja, wisata-wisata tersebut sifatnya viral sesaat dan musiman.
Misalnya, yang paling baru, di Kecamatan Sluke pernah viral wisata Lembah Manah sejak Covid-19 lalu. Yakni wisata perbukitan yang menawarkan suasana padang rumput seolah mirip Taman Nasional Baluran.
Wisata tersebut sempat sangat viral hingga nyaris selalu ramai setiap sore. Bahkan pernah menjadi destinasi ngecamp viral. Namun, keviralan tersebut hanya sesaat saja. Pamornya perlahan-lahan memudar.
Rembang juga punya wisata Air Terjun Kalimancur Gowak. Hanya saja, wisata ini hanya bisa dinikmati pada musim hujan. Karena kalau musim kemarau pasti kering kerontang.
Kalau saya pribadi sebenarnya melihat wisata sejarah sebagai ceruk potensi besar Rembang. Mengingat kabupaten asal saya ini punya tinggalan-tinggalan historis yang bernilai besar, seperti makam Sunan Bonang, Pasujudan Sunan Bonang, Kampung Pecinan dan jejak Majapahit di Lasem, hingga museum dan makam R.A. Kartini.
Masalahnya, potensi-potensi wisata sejarah tersebut seperti tidak diurus dengan serius. Sehingga, bahkan saya masih menjumpai fakta: orang Rembang sendiri saja tidak tahu di mana letak makam R.A. Kartini. Padahal namanya selalu diperingati dengan upacara pakai kebaya tiap 21 April, namanya juga kerap muncul di buku mata pelajaran sejarah. Bukan sepenuhnya salah mereka kalau tidak tahu.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Semakin Tak Punya Alasan untuk Tinggal dan Mencintai Kabupaten Rembang: Tak Beranjak ke Mana-mana, Kolotnya Dipelihara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan