Para pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang lokasinya di pinggir kuburan rasa-rasanya perlu keahlian lebih dari sekadar manajemen-operasional maupun kreativitas promosi agar laris. Mereka harus dibekali keahlian yang lebih relevan dengan wilayah tugas mereka yang berdekatan dengan kuburan—sebagai ruang yang kerap diidentikkan dengan hal-hal gaib nan menakutkan.
***
Sebagaimana pagi-pagi biasanya, sebelum berangkat ke kantor saya berhenti sejenak di sebuah angkringan langganan. Mengisi perut dengan 3-4 gorengan dan segelas kopi susu untuk menyegarkan pikiran.
Senin (10/8/2026) pagi itu, secara kebetulan ada dua orang laki-laki pegawai koperasi swasta di Sleman yang tengah menyeruput kopi sembari rasan-rasan perihal Kopdes Merah Putih. Saya pun nimbrung.
Keduanya mengaku belum bisa menangkap alasan kenapa banyak Kopdes Merah Putih dibangun di tempat-tempat tidak terduga, seperti di tengah-tengah kebun hingga di pinggir kuburan.
“Wah pasti pegawainya kalau jaga sambil gemetar itu,” celetuk salah satu dari mereka.
“Ya belum tentu, Mas. Bisa jadi yang ditugaskan di Kopdes pinggir kuburan itu orang-orang yang sudah kebal,” sahut ibu-ibu pemilik angkringan. Wah gayeng ini.
Ringkas cerita, menurut dua pegawai koperasi swasta di Sleman dan ibu-ibu pemilik angkringan itu, rasa-rasanya orang yang dipilih menjadi pegawai Kopdes Merah Putih di pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian lain. Kalau manajerial pasti sudah khatam. Kedisiplinan dan ketaatan pada pemerintah pastinya juga sudah mengendap bawah sadar. Secara, mereka sudah ditatar di Latsarmil terlebih dulu sebelum diterjunkan ke medan perjuangan: mengelola Koperasi Desa.
Lantas, apa saja keahlian lain yang mereka maksud? Kira-kira begini:
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) harus dibekali ilmu supranatural untuk hadapi penampakan
Meski keberadaan arwah gentayangan sekarang banyak disangkal oleh kelompok-kelompok penentang logika mistika, tapi tidak bisa dimungkiri bahwa dalam keyakinan masyarakat akar rumput masih banyak yang mengaku bersinggungan dengan arwah gentayangan/penampakan.
Maka dari itu, pegawai Kopdes Merah Putih harus benar-benar dibekali ilmu supranatural. Tujuan paling utama tentu agar tidak anxiety, berjaga dengan kewaspadaan karena ancaman gangguan penampakan-penampakan yang berseliweran.
Kalau ada bayangan hitam, putih, atau merah yang berkelebat di depan koperasi, ya biasa saja. Tidak langsung diserang panic attack.
Itu baru gangguan di luar, belum gangguan gaib di dalam koperasi desa. Misalnya, bisa jadi tiba-tiba lampu koperasi nyala-mati nyala-mati, minyak goreng di rak tiba-tiba jatuh, karung beras geser sendiri, dan sejenisnya. Jika si pegawai sudah dibekali ilmu supranatural, tentu akan cuek-cuek saja, asal si arwah gentayangan itu tidak mengancam kedaulatan Kopdes Merah Putih.
Rajah-pagar gaib untuk menangkal gangguan gaib
Dengan bekal ilmu supranatural itu juga, pegawai Kopdes Merah Putih di pinggir kuburan akan memiliki kepekaan untuk mendeteksi jelmaan dari arwah gentayangan.
Karena sangat dimungkinkan si arwah gentayangan tidak hanya mengganggu dalam bentuk bayangan seliweran atau menjatuhkan barang. Para penunggu kuburan bisa saja melancarkan teror dalam bentuk lain: menjelma menjadi pembeli. Jika si pegawai Kopdes sudah punya kepekaan, pasti tidak akan tertipu, tapi justru membaca doa atau mantra untuk mengusirnya.
Bahaya kalau tidak. Sebab, sesudah dilayani, uang yang disodorkan oleh si arwah yang menjelma sebagai pembeli untuk membeli barang tersebut ada potensi berubah menjadi daun. Rugi dong. Ini baru mengancam kedaulatan negara.
Arwah-arwah semacam ini tentu juga bakal mengancam sirkulasi pembeli dari masyarakat desa. Karena kalau diganggu, masyarakat pasti akan trauma untuk balik belanja lagi.
Oleh karenanya, pegawai Kopdes Merah Putih pun harus punya keahlian membuat rajah atau pagar gaib. Pagar gaib tersebut dibuat melingkar melindungi kawasan Kopdes Merah Putih. Kalau dalam bayangan saya, ya mirip seperti kubah yang melindungi kawasan Wakanda di jagat Marvel Cinematic Universe (MCU). Dengan begitu, arwah-arwah gentayangan di kuburan pun terhalang jika ingin mengganggu para pembeli.
Keahlian ruqyah bagi pegawai Koperasi Desa (Kopdes) itu vital
Meski sudah dipagari, dalam banyak fenomena di masyarakat desa, sering kali masih ada satu-dua arwah yang bisa menembusnya. Di titik ini semakin terlihat betapa pegawai Kopdes Merah Putih pinggir kuburan memang harus dibekali keahlian berlapis.
Ruqyah menjadi keahlian vital yang harus pegawai Kopdes Merah Putih pinggir kuburan pelajari dan miliki. Sebab, sekali ada arwah yang bisa menembus pagar pelindung gedung Koperasi Desa, akibatnya bisa memicu kesurupan massal di kalangan pembeli yang hari itu tengah belanja. Apalagi kesurupan sering kali tidak mengenal waktu. Di siang bolong pun kerap terjadi.
Tanpa keahlian ruqyah, pegawai Kopdes Merah Putih jelas akan kebingungan dan kewalahan saat arwah-arwah penunggu kuburan merasuki para pembeli. Ya paling tidak, kalau dalam bayangan saya, setiap pegawai harus memiliki keahlian setingkat Ustaz Qodrat (tokoh utama dalam film Qodrat karya Charles Ghozali yang diperankan oleh Vino G. Bastian).
Ustaz Qodrat punya keahlian yang komplet. Selain ruqyah, ia juga menguasai ilmu bela diri untuk bertarung dengan iblis tingkat tinggi. Perpaduan dua keahlian yang membuatnya selalu bisa menangkal serangan-serangan mengerikan dari entitas mengerikan itu.
Keahlian sosial: gali kubur kalau ada orang meninggal
“Tapi urusan di kuburan itu nggak cuma sama setan loh. Urusan sama manusia juga,” celetuk salah satu pegawai koperasi swasta itu.
Ada benarnya. Jika kuburan yang berdekatan dengan gedung Koperasi Desa Merah Putih masih aktif (bukan kuburan terbengkalai), artinya masih akan ada aktivitas kubur-mengubur di sana.
Maka dari itu, dua laki-laki pegawai koperasi swasta, ibu-ibu pemilik angkringan, dan saya sepakat kalau pegawai Kopdes Merah Putih (khususnya laki-laki) harus dibekali dengan keahlian sosial yang relevan dengan kuburan.
Sehingga, jika ada orang meninggal dan hendak dikuburkan, si pegawai Kopdes akan sigap turut serta membantu minimal untuk ikut menggali kuburan. Toh, karena telah menjalani Latsarmil, tentu saja kemampuan fisiknya tidak patut diragukan.
Ikatan sosial dengan masyarakat tersebut (semoga saja) nantinya bisa menarik respek masyarakat setempat. Dari situ, masyarakat setempat tidak akan ragu untuk melarisi dagangan Koperasi Desa Merah Putih di sana.
“Orangnya baik, suka bantu gali kubur, masa kita nggak baik juga ke dia, larisi lah,” setidaknya akan keluar pikiran semacam itu. Dalam kultur masyarakat desa, jangan pernah meragukan persoalan utang budi. Baik sama orang lain, besar kemungkinan akan dibalas baik. Suka membantu, besar kemungkinan akan dibantu juga.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
