ADVERTISEMENT

Kasta Menu Makanan di Tahlilan yang Bikin Boncos, Mahal dan Memberatkan tapi “Wajib” Dipenuhi Tuan Rumah

Nasi berkat tahlilan, dimasak dengan susah-payah tapi berakhir mubazir MOJOK.CO

Jika ada satu hal yang bikin acara tahlilan di desa terasa begitu mencekik, jawabannya ada pada menu makanannya. Sebagai orang yang lahir dan besar di desa, saya menyadari betul bahwa suguhan untuk tamu adalah pos pengeluaran terbesar yang sering kali membuat keluarga yang berduka jadi kelimpungan.

Di banyak wilayah perdesaan, meski memiliki kultur yang sedikit berbeda, menu hidangan di tahlilan ternyata memiliki “kasta” tersendiri. Tiap peringatan kematian, mulai dari tujuh harian (mitung dino), empat puluh harian (matang puluh), seratus harian (nyatus), setahun (mendhak), hingga seribu harian (nyewu), memiliki standard menu yang selalu berganti dan terus di-upgrade

Sialnya, kasta hidangan tak pandang bulu. Keluarga kaya maupun miskin di lingkungan tersebut sama-sama dituntut untuk mematuhinya, tanpa pengecualian, atas dalih “kepantasan”.

Bare minimum daging ayam dan kambing di menu tahlilan

Sebagai orang yang lahir dan besar di sebuah desa di ujung tenggara Wonogiri, serta sudah beberapa kali menggelar tahlilan di rumah, saya paham betul kasta-kasta menunya. Pada peringatan awal, kasta hidangan biasanya masih berada di tahap yang dianggap paling standard. 

Untuk tahlilan malam pertama hingga hari ketujuh, standard kepantasannya adalah menyembelih atau memasak ayam. Olahannya bisa bermacam-macam, mulai dari digoreng biasa, dimasak kari, hingga dijadikan opor. 

Teman lauknya pun standard, biasanya berupa urap sayur dan lauk-pauk pelengkap lainnya. Di fase ini, dapur keluarga duka sudah sibuk oleh ibu-ibu tetangga yang rewang sejak pagi.

Namun, begitu memasuki peringatan empat puluh harian, menu makanan ini wajib naik kelas. Standardnya berubah menjadi daging kambing, yang paling sering diolah menjadi tongseng atau gulai. 

Alasan upgrade kasta ini sebenarnya cukup logis, meski tetap memberatkan. Yakni, soal cakupan jumlah tamu yang diundang semakin banyak.

Jika pada hari pertama hingga ketujuh tamu yang hadir hanya kelompok tahlil rutin dan tetangga terdekat, pada empat puluh harian undangannya bisa meluas hingga ke RT lain. 

Bahkan, bagi keluarga tokoh terpandang, tamunya bisa mencakup satu dusun. Tak heran jika daging kambing menjadi opsi wajib untuk menjamu keramaian tersebut, yang otomatis membuat anggaran melonjak.

Daging sapi wajib ada di acara nyatus hingga nyewu

Beban finansial sesungguhnya baru benar-benar menghantam ketika keluarga memasuki peringatan seratus harian, peringatan satu tahun, hingga seribu harian. 

Pada fase akhir ini, daging sapi adalah kasta tertinggi sekaligus syarat mutlak yang pantang ditawar. Meski pada seratus harian kadang masih ada keluarga yang memilih menghidangkan kambing, sangat jarang ditemui tuan rumah yang tidak menyajikan sapi pada acara mendhak dan nyewu.

Olahannya pun dibuat mewah layaknya menu hajatan pernikahan. Daging sapi biasanya dimasak menjadi kari atau bestik, didampingi sambal goreng kentang dan cabai. 

Tentu saja, biaya yang dikeluarkan melonjak sangat drastis. Harga satu kilogram daging sapi dengan kualitas standard saat ini berkisar di angka Rp150 ribu. Untuk memberi makan puluhan hingga ratusan tamu dari satu dusun, tuan rumah setidaknya membutuhkan minimal 10-15 kilogram daging sapi.

Uang jutaan itu baru untuk daging mentahnya saja. Angka itu belum termasuk bumbu, beras, kerupuk, kue-kue jajan pasar, hingga lauk pauk untuk cangkingan (nasi besek yang wajib dibawa pulang oleh para tamu). Jika diakumulasi, biayanya bisa dengan mudah menembus belasan juta rupiah.

Mulai ada modifikasi menu tahlilan, tapi tetap mahal

Berdasarkan pengalaman saya nyinom di acara tahlilan, belakangan ini kasta menu tersebut semakin dimodifikasi meski pakem utamanya (daging) tidak berubah. Modifikasi ini ada yang sebatas variasi olahan kekinian, meski ada pula yang sangat ekstrem dan biasanya dilakukan oleh orang-orang berduit.

Dari segi olahan, misalnya, menu hidangan kini mulai bergeser ke sate-satean atau bakso daging yang butuh effort ekstra. 

Bahkan, saya pernah menjumpai keluarga kaya yang sengaja mendatangkan langsung gerobak mi ayam bakso paling kondang di daerah kami ke halaman rumahnya saat acara tahlilan. Para tamu dibiarkan memesan sendiri layaknya di pesta pernikahan. 

Manuver keluarga tajir semacam ini, disadari atau tidak, makin meninggikan standard kepantasan di mata warga desa, yang perlahan akan menjadi beban tak kasatmata bagi tetangga miskin di kemudian hari.

Kalau tak ikut standard, takut “doa tak sampai”

Beberapa orang sebenarnya mulai sadar akan beban kasta daging yang tak masuk akal ini. Anak-anak muda di desa sering kali mencoba rasional dan mengedukasi orang tua mereka bahwa suguhan tahlilan semestinya disesuaikan dengan kemampuan dompet keluarga. 

Jika mampunya hanya menghidangkan nasi urap dan lauk tahu tempe, ya sudah, itu tidak masalah dan tidak akan mengurangi keikhlasan doa.

Sialnya, di lapangan, rasionalitas ini sering kalah oleh dogma yang dipelihara sejak lama. Dalam liputan sebelumnya, berjudul “Biaya Tahlilan di Desa Mahal karena Omongan Tetangga: Ada Standard “Pantas” yang Kudu Dipenuhi, Bikin Tuan Rumah Tak Punya Waktu Berduka”, narasumber Mojok menyebut bahwa di daerahnya masih ada anggapan kuat dari generasi tua bahwa jika menu tidak sesuai dengan pakem kasta daging tadi, maka tahlilannya dianggap tidak afdal dan doanya dikhawatirkan “tidak sampai”. 

Itu juga terjadi di desa saya.

Ketakutan akan mitos agama yang melenceng dan sanksi sosial inilah yang membuat warga miskin memaksakan diri melakukan segala cara, termasuk berutang, demi mematuhi aturan kasta menu tahlilan tersebut.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Amplop Tahlilan Dicap Tradisi Memberatkan Berdalih Sedekah tapi Isinya Paling Dinantikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.