User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Ilustrasi -Pengalaman Naik Kereta Api (Mojok.co/Ega Fansuri)

KA Bengawan memang bedebah. Ia bikin badan pegal dan dengkul nyari. Namun, kereta murah ini justru bikin penumpangnya merasa tak kesepian.

***

Awal tahun 2026 lalu, saya mendapat “rezeki” perjalanan pulang dari Jakarta ke Jogja menggunakan kereta eksekutif KA Taksaka. Karena berstatus perjalanan dinas, tiket yang harganya lumayan mahal, sekitar Rp600 ribu itu, dibiayai penuh oleh kantor.

Sesuai harganya, fasilitas di dalam gerbong benar-benar mewah. Kursinya tebal, empuk, dan bisa direbahkan dengan leluasa. Ruang kakinya pun sangat luas. Saking nyamannya kereta ini, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya bisa tertidur pulas di dalam kereta. 

Padahal saat itu hari masih sore. Biasanya, mata saya paling susah diajak kompromi dan tidak pernah bisa tidur kalau sedang berada di jalan.

Ketika terbangun, badan saya terasa sangat segar. Sama sekali tidak ada punggung yang kaku atau leher yang pegal. Namun, saat saya melihat ke sekeliling, suasananya begitu hening. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing dalam diam. Nyaman sekali rasanya, tapi entah kenapa di saat yang sama, terasa begitu sepi.

Kenyamanan yang sunyi di atas KA Taksaka sore itu justru melempar ingatan saya jauh ke masa lalu. Pikiran saya melayang kembali ke hari-hari di mana perjalanan backpacker-an tidak pernah terasa sepi. Masa-masa di mana saya dan ribuan penumpang lainnya masih setia mengandalkan kereta ekonomi bersubsidi. Kereta yang selalu sukses bikin badan pegal, tapi penuh dengan tawa dan cerita: KA Bengawan.

Tiket gaib, harus dipesan berbulan-bulan sebelumnya

Bagi saya, dan banyak orang lain, yang pernah berjuang dengan uang pas-pasan, perjalanan dengan KA Bengawan sebenarnya tidak dimulai saat kami duduk di dalam gerbong. Perjuangan itu bahkan sudah dimulai sejak 45 hari sebelumnya. 

Saya ingat betul, saya bersama dua teman harus bersiap di depan layar HP pada akhir September 2023 hanya demi sebuah tiket untuk berangkat di pertengahan November. Dari Solo menuju Jakarta.

Kenapa kami sampai rela begadang dan repot-repot berebut tiket jauh-jauh hari? Jawabannya tentu saja karena harganya. Bayangkan, dari Jakarta menuju Solo, atau sebaliknya, tiketnya cuma Rp 74.000! Sangat murah. 

Karena harganya yang miring ini, tiket KA Bengawan sering kami juluki sebagai “tiket gaib”. Begitu jam pemesanan dibuka, tiket bisa ludes hanya dalam hitungan menit.

Sensasi mendapat tiket murah ini adalah kebanggaan tersendiri. Rasa lega saat proses pembayaran berhasil adalah awal dari petualangan kami.

Ingatan saya kemudian berpindah ke suasana subuh di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Berbeda dengan Stasiun Gambir yang tenang dan eksklusif, Pasar Senen selalu penuh hiruk-pikuk. 

Pukul setengah lima pagi, lobi stasiun sudah dipenuhi ribuan calon penumpang dengan tas-tas besar, kardus, dan oleh-oleh. Udaranya kadang terasa gerah, tapi sekarang fasilitasnya sudah makin bagus. Ada eskalator baru yang bikin kami tidak perlu repot angkat barang lewat tangga.

Adu dengkul, bahu pegal, tapi dapat teman baru

Namun, realita sesungguhnya baru dimulai begitu kaki melangkah masuk ke dalam gerbong ekonomi. Kami disambut oleh 106 kursi yang posisinya tegak lurus 90 derajat dan saling berhadapan. Jarak antar kursinya sangat sempit. Di sinilah letak ujian sekaligus seni naik KA Bengawan: “adu dengkul”.

Seorang kenalan saya, Jeremi, bercerita bahwa formasi kursi ini tidak masalah kalau kita bepergian bersama keluarga. Lutut yang saling mentok dengan ayah, ibu, atau adik sendiri tentu tidak bikin canggung. 

Namun, beda ceritanya kalau kita bepergian sendiri atau dengan teman, dan harus berhadapan dengan orang asing.

“Awalnya pasti terasa risih. Lutut kita dan lutut penumpang di depan pasti bersentuhan. Mau tidak mau, kita harus tersenyum, nahan sungkan,” kata Jeremi, membagikan kisahnya, Minggu (8/3/2026).

Dari ucapan maaf karena lutut yang mentok itulah, keajaiban biasanya terjadi. Obrolan mulai mengalir. “Turun stasiun mana, Mas?”, “Kerja di mana sekarang?”.

Dari basa-basi singkat, obrolan bisa berlanjut sampai cerita soal kampung halaman, pekerjaan di Jakarta, sampai urusan keluarga. Gerbong yang tadinya berisi orang asing, mendadak terasa seperti ruang tamu yang hangat. Semua merasa senasib sepenanggungan.

“Ritual” khas KA Bengawan di Stasiun Cirebon

Satu hal lagi yang paling dikangenin dari KA Bengawan adalah “ritual” di Stasiun Cirebon Prujakan. Biasanya, sekitar jam 9 pagi atau jam 12 siang, kereta akan berhenti agak lama di stasiun ini, sekitar 7 sampai 15 menit. Tujuannya untuk pergantian masinis dan mengisi air toilet.

Waktu jeda ini selalu dimanfaatkan penumpang untuk berhamburan turun ke peron. Tujuannya, kalau saya sendiri, ada dua:meluruskan punggung yang mulai pegal karena duduk tegak terlalu lama, dan berburu makanan murah.

Banyak yang berlari kecil ke warung-warung di sekitar stasiun, seperti Warung Sudarno–saya masih ingat betul namanya–untuk beli nasi bungkus isi tempe orek dan telur dadar yang harganya cuma Rp20 ribu

Makan bekal atau nasi bungkus beramai-ramai di dalam gerbong, sambil sesekali saling tawar makanan dengan penumpang sebelah, adalah kenikmatan yang susah dicari di tempat lain.

Setelah perut kenyang, hiburan berikutnya adalah menatap pemandangan dari balik kaca jendela. Selepas Cirebon dan masuk ke area Purwokerto, pemandangan alamnya sangat indah. Rel yang berkelok, bukit-bukit hijau, sampai melintasi sungai besar di Jembatan Serayu. 

KA Bengawan bikin pegal, tapi bikin tak pernah kesepian sepanjang perjalanan

Perjalanan panjang hampir 9 setengah jam itu biasanya akan mencapai titik akhir di sore hari. Kalau berangkat pagi dari Jakarta, kereta akan sampai di Stasiun Lempuyangan sekitar jam setengah tiga sore, lalu berakhir di Stasiun Purwosari, Solo, jam setengah empat sore.

Stasiun Lempuyangan biasanya jadi titik di mana gerbong mulai sepi karena separuh penumpang turun di sana. Kalau kursi di depan kita tiba-tiba kosong, rasanya seperti mendapat “hadiah besar”. Kaki yang dari tadi ditekuk akhirnya bisa selonjoran bebas.

Jika disuruh memberi nilai secara jujur dan objektif, kenyamanan fisik di KA Bengawan mungkin hanya pantas dapat nilai 4 dari 10. Kursinya keras, ruang geraknya terbatas, dan badannya pegal. Namun, dengan harga Rp 74 ribu, kita memang tidak sepantasnya menuntut fasilitas mewah ala raja.

Kini, lamunan saya terhenti saat pengumuman di kereta eksekutif yang saya naiki berbunyi. Kereta sudah hampir sampai di tujuan. Saya merapikan barang bawaan. Punggung saya tidak sakit sama sekali. Badan saya segar karena tidur nyenyak sepanjang jalan.

Saat melangkah keluar dari gerbong yang sepi dan dingin ini, saya tersenyum menyadari satu hal. Uang memang bisa membeli kenyamanan untuk badan kita. Namun, uang tidak bisa membeli rasa senasib dari obrolan tulus dengan orang tak dikenal.

KA Bengawan mungkin bikin punggung pegal, tapi dia tidak pernah membuat kita merasa sendirian di perjalanan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sebagai “Alumnus” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version