Inkonsistensi Surabaya dalam membangun branding kota membuat saya merasa gereget ingin pindah ke Jogja. Meski begitu, saya masih berharap Kota Pahlawan tersebut dapat berbenah.
***
Jika ada julukan yang tepat untuk menggambarkan Surabaya hari ini, maka saya meminjam istilah populer “cowok bingung” menjadi Surabaya Kota Bingung. Secara harfiah, cowok bingung disematkan pada laki-laki yang digambarkan tidak konsisten, plin-plan, dan sulit memberikan kepastian dalam hubungan asmara.
Begitu pula pandangan saya saat melihat Surabaya hari ini. Setelah merantau selama 2 tahun di Jogja, sikap untuk membanding-bandingkan kedua kota tersebut tak dapat saya hindari. Barangkali, saya terlalu larut dengan keromantisan Jogja, tapi ada beberapa fakta yang tidak dapat saya tepis.
Bahwa Jogja selalu tepat dalam mem-branding kotanya terlepas dari kritik pedas di dalamnya. Dia dikenal sebagai Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Pariwisata, hingga Kota Gudeg. Dan itu dapat dibuktikan secara nyata bahkan hingga hari ini.
Misalnya, Jogja sebagai Kota Pelajar dapat dilihat dari banyaknya institusi serta suasana yang mendukung kehidupan akademik, seperti berdiskusi atau hak untuk berekspresi. Sementara, Surabaya sebagai Kota Pahlawan hari-hari ini justru terlihat senyap.
Surabaya minim ruang berekspresi
Selama 2 tahun di Jogja dan bolak-balik ke Surabaya tiap satu bulan sekali, saya merasa komunitas di Kota Pelajar lebih hidup. Tak hanya berkumpul dan berdiskusi, komunitas di Jogja juga sering mengadakan berbagai pameran seni, workshop, hingga konser.
Bahkan seorang teman asal Jogja pernah bilang begini kepada saya, “rugi kalau nggak pernah serawung. Banyak-banyakin pengalaman di Jogja, karena pilihannya sangat terbuka,” ujarnya.
Dan memang benar, berbagai komunitas sudah ada di sini, mulai dari komunitas baca buku, merajut, journaling, kolektif seni, olahraga, hingga komunitas jalan kaki.
Tak hanya komunitas, hadirnya ruang publik sebagai tempat berinovasi juga tersedia di Jogja, baik berbayar maupun gratis. Seperti Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Ruang Literasi Kaliurang, Jogja National Museum (JNM) Bloc Jogja, hingga kedai-kedai kopi yang berisi obrolan progresif.
Sementara di Surabaya, ruang-ruang publik seperti itu masih terbatas. Kalaupun ada, belum menunjukkan Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Pengalaman saya saat SMA hingga kuliah, belum ada tempat terbuka yang bebas digunakan, selain mal, kafe, rumah pribadi, atau kosan teman.
Pernah saya dan teman-teman mencoba kerja kelompok di Balai Pemuda Surabaya, tapi yang ada malah kami diinterogasi karena harus membuat surat perizinan dulu. Bahkan membawa kamera DSLR saja pada saat itu dilarang. Begitu pula saat saya hendak kumpul ramai-ramai di taman kota.
Selain agenda kumpul-kumpul, saya merasa ruang belajar individu di Surabaya juga masih sedikit. Dulu, saat bosan belajar di rumah, saya lebih sering menghabiskan waktu di Perpustakaan Umum Kota Surabaya atau Perpustakaan Unair agar tak boncos kalau ke kafe melulu.
Ruang publik di Surabaya yang nyaris tak berfungsi
Seiring berjalannya waktu, Surabaya juga mulai merintis konsep smart city. Upaya itu juga bisa dilihat dengan hadirnya KORIDOR Coworking Space sebagai dapur inovasi tempat para pendiri startup, mentor, dan komunitas digital untuk berkumpul.
Sejak didirikan tahun 2017, saya menyambut baik ruang inovasi tersebut. Lokasinya ada di Lantai 3 Gedung Siola, Jalan Tunjungan. Untuk menuju ke sana, pengunjung perlu melewati Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Siola yang disulap menjadi taman.
Namun, seiring dengan pembongkaran JPO tersebut, KORIDOR Coworking Space pun tak lagi beroperasi. Penutupan ini sudah satu tahun lamanya dan membuat saya sangsi akan dibuka kembali.
Pasalnya, peristiwa semacam ini tidak terjadi satu kali. Banyak ruang-ruang publik di Surabaya yang akhirnya tampak sunyi jika dibandingkan di Jogja. Misalnya, Pos Bloc Surabaya dan Panggung Terbuka dan Teater di Taman Prestasi.
Tak hanya itu, tempat hiburan juga nyaris mangkrak seperti Taman Remaja Surabaya, Surabaya Carnival Park, hingga Kenjeran Park (Kenpark) yang semakin sepi pengunjung. Saya berharap, Surabaya Urban Creative Hub (SUCH) yang baru-baru ini diresmikan pemkot sebagai pusat industri kreatif tak bernasib sama dengan KORIDOR maupun tempat lainnya.
Mencari jati diri dengan memaknai julukan Kota Pahlawan
Kenyataan soal minimnya ruang publik dan komunitas itulah yang membuat saya kerap kecewa dan tak sengaja membanding-bandingkan Surabaya dengan Jogja. Meski begitu, hati saya masih tertambat kuat pada kota kelahiran saya ini yang seolah masih kebingungan mencari arah.
Karena kotanya terkesan kaku dan minim ruang berekspresi, wajar jika Surabaya kesulitan menggaet orang dari luar daerah untuk tinggal berlama-lama. Beruntungnya, kota ini cukup sadar diri dengan tidak memaksakan branding sebagai kota wisata melainkan “kota transit”.
Buktinya valid dan ia mampu menerima itu.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya mencatat, Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) di Kota Surabaya hanya berkisar antara 1,4 hingga 1,5 hari. Sementara di kota tetangga (wilayah Malang Raya), wisatawan dari luar kota cenderung memperpanjang masa tinggal mereka selama 1,47 hingga 2,1 hari.
Melihat realitas statistik tersebut, saya pun tak ingin menuntut Surabaya agar mengejar julukan yang muluk-muluk, apalagi memaksanya sehingga bisa diromantisasi seperti Jogja.
Biarlah Surabaya mencari jati diri seiring berjalannya waktu. Sebagaimana julukan “Kota Pahlawan” yang dimaknai sebagai simbol ketangguhan, inovasi, dan semangat kolektif warganya untuk bertahan di tengah kerasnya tantangan kota modern.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Wisata Surabaya Membosankan, Cuma Punya Kafe Estetik di Jalan Tunjungan dan “Sisi Utara” yang Meresahkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
