Ketika sepupu saya yang tunawicara hendak kuliah di sebuah PTN di Jogja, beberapa orang di desa menunjukkan kesan terheran-heran. “Bisu kalau disekolahkan nantinya apa bisa ngikuti?” Begitu kira-kira pertanyaan dari beberapa orang.
Yang tidak banyak orang tahu—terutama di desa saya di Rembang, Jawa Tengah—bahwa sepupu saya tersebut memiliki otak yang cerdas. Ia sangat menguasai di bidang hitung (Matematika). Ia pun pandai melukis. Hasil lukisannya sangat bagus.
Itu lah kenapa sejak lulus dari SMALB, ia dengan kesadaran penuh mengajukan permintaan ke orang tuanya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi—mengikuti jejak kakak-kakaknya sebelumnya.
Permintaan tersebut langsung di-acc. Salah satu kakaknya saat itu mengajak saya untuk mencari rekomendasi kampus umum yang memfasilitasi pendamping akademik khusus bagi teman tunawicara. Ketemu lah sebuah PTN di Jogja.
Ia pun bisa lulus tepat waktu. Semakin membuat sejumlah orang di desa terheran-heran: Kok bisa, padahal bisu?
Selama ini memang ada salah persepsi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di desa. Tunawicara, tidak bisa bicara, diperlakukan tidak semestinya. Bahkan ada pula yang menyamakannya dengan orang gila (ODGJ). Alhasil, potensinya tidak tersalurkan dengan semestinya.
Antara tidak tahu ada SLB atau dianggap tidak layak sekolah
Suatu kali, seorang teman bercerita tentang saudaranya di desa yang bernasib seperti itu.
Usia saudaranya—yang tunawicara itu—kini sudah 30-an tahun. Aktivitasnya terbatas pada: mencari rumput untuk pakan kambing, sesekali juga ikut jadi buruh kuli di desa.
Selain itu, jika dua aktivitas “kerja” tersebut sedang kosong, ia akan mengisi waktu dengan ikut main bola di lapangan desa saban sore, atau ikut main catur di sebuah warung kopi desa.
Orang-orang memanggilnya “bekok”. Tidak lain karena keterbatasannya dalam bicara. Mulutnya hanya bisa mengeluarkan bebunyian “ak-ok-ak-ok” sebagai bentuk komunikasi. Ia jelas tidak bisa bahasa isyarat kecuali isyarat makan: tangan memuluk. Hanya itu.
Cerita seorang teman, saat kecil dan diidentifikasi tidak bisa bicara, keluarganya langsung putus harapan. Menganggapnya bahwa ia akan tumbuh sebagai orang tidak bisa apa-apa.
Itu lah kenapa tidak ada pilihan untuk menyekolahkannya. Buat apa? Misalnya belajar membaca, ia toh tidak bisa melafalkannya. Meski sebenarnya ia bisa disekolahkan di SLB. Tapi saat itu, orang desa pun belum terliterasi perihal keberadaan SLB. Imbasnya, hingga usia 30 tahun, ia masih kesulitan berkomunikasi, sama sekali tidak mengenal bahasa isyarat.
Jadi orang tunawicara (bisu) di desa: dibiarkan cuma sekadar hidup
Pada akhirnya, ia dibiarkan hidup sekadar hidup. Dikesampingkan dari potensi untuk tumbuh menjadi manusia pada umumnya.
Orang tua hanya fokus memberinya makan. Memintanya membantu jika tenaganya dibutuhkan (sekadar jadi pesuruh), sisanya ya dibiarkan sedemikian adanya. Pokoknya sekadar hidup.
Ia ibarat pemberian Tuhan yang tidak terlalu diharapkan. Tapi tidak ada pilihan lain. Bagaimana pun pemberian Tuhan, jadi harus dirawat. Ya minimal diberi makan. Sialnya, begitu lah cara pikir orang-orang di sekitarnya.
Namun, yang paling memuakkan menurut teman saya adalah: Ketika usia teman tunawicara itu kini sudah kepala tiga dan hanya begitu-begitu saja, saat orang-orang seusianya sudah pintar mencari uang sendiri dengan merantau, diam-diam ada orang-orang yang menatap teman tunawicara itu dengan ironis sekaligus sinis.
“Lah ya, umur sudah segitu, tapi gara-gara bisu jadi nggak bisa apa-apa. Kasihan orang tuanya harus menghidupi sampai segede itu,” begitu kira-kira yang terucap.
Teman saya merasa sedih sekali mendengar ucapan yang ditujukan ke saudaranya yang tunawicara tersebut. Sebab, bukan sepenuhnya salah si saudara tunawicara jika ia kini terkesan tidak bisa apa-apa. Karena sejak kecil banyak orang sudah mempersepsikannya sebagai manusia “tak utuh” yang tidak punya kemungkinan untuk survive.
Jadi orang tunawicara (bisu) di desa: disamakan seperti orang gila
Cerita lain: Ketika saya kecil dulu, saya punya adik kelas SD perempuan tunawicara.
Ketika SD, banyak anak takut berdekatan dengannya. Hanya karena ia kerap menggeram. Itu adalah caranya berkomunikasi, tapi anak-anak menangkapnya sebagai hal menyeramkan.
Tidak berhenti di situ. Saya ingat betul beberapa orang secara tidak langsung juga menganggapnya sebagai orang gila. Tidak bisa bicara, hanya bisa menggeram, dianggap secara otomatis tidak punya pikiran normal.
Itu lah kenapa beberapa orang tua tidak mengizinkan anaknya bermain dengan adik kelas saya itu. Alasannya: takut nanti dilempar batu.
Adik kelas saya yang tunawicara itu memang kerap melempar batu ke anak lain. Tapi itu bukan tanpa alasan. Ia akan melakukannya sebagai bentuk perlawanan ketika ia diolok-olok karena tidak bisa bicara atau sekadar ditirukan caranya menggeram.
Ia memang bisu, tapi ia sadar kalau ia sedang diolok-olok. Jadi wajar saja kalau ia tersinggung dan meluapkan kemarahannya dengan melempar batu.
Untungnya, setelah lulus SD di desa, ibunya lantas menyekolahkannya dari tingkat SMP hingga SMA di sebuah SLB di pusat kabupaten. Hasilnya, ia berkembang lebih baik. Dan itu memunculkan keheranan bagi sejumlah orang di desa: Ternyata bisa mikir juga ya?
Apalagi ketika orang-orang tahu kalau adik kelas itu akhirnya punya bahasa isyarat khusus sebagai bentuk komunikasi. Bertambah heran lah mereka: Cuma gerak-gerakin jari tapi kok ibu dan teman-temannya paham ya?
Keheranan itu menunjukkan, betapa selama ini ia benar-benar disamakan dengan orang gila. Tidak bisa bicara sama dengan tidak berakal.
Dan semua itu terbantahkan dengan bagaimana akhirnya ia berdaya. Lulus dari SMALB, ia bisa mencari pekerjaan sendiri. Ia akhirnya juga menikah dengan sesama teman tunawicara—teman sekolahnya dulu—yang juga sama-sama berdaya: bekerja sebagai karyawan di Alfamart yang memang tengah berupaya menciptakan ruang kerja inklusif.
Logika keliru soal otak dan mulut
Ketika belakangan viral sebuah lomba cerdas cermat: Dewan juri menganulir jawaban benar seorang peserta hanya karena artikulasinya kurang sempurna, teman saya lantas menatap nanar saudara laki-lakinya (yang saya ceritakan sebelumnya) dengan nanar.
Teman saya akhirnya memahami, kekeliruan logika memang sudah kadung mendarah daging dalam sistem sosial kita. Bagaimana bisa kapasitas otak bisa diabaikan sama sekali hanya karena persoalan mulut yang tidak sempurna dalam mengucap.
Keluhan teman saya tersebut: Kenapa orang-orang sekitar tidak sadar bahwa saudaranya yang bisu itu nyatanya bisa menangkap dengan baik cara bermain catur?
Diajari naik motor, tidak butuh waktu lama baginya untuk lekas menguasai. Main bola, ia jago. Ia pun sangat bisa menangkap instruksi, membuatnya tidak pernah gagal memahami jika sedang bantu-bantu menjadi buruh kuli.
Itu jelas-jelas menunjukkan kalau ia hanya tidak bisa bicara, tapi bukannya tidak bisa berpikir. Sayangnya, bahkan hingga di usianya yang sudah 30 tahun, masih banyak orang di sekitar yang tidak menyadarinya. Alhasil, ia tetap ditempatkan di posisi sekadar dibiarkan hidup, tanpa difasilitasi untuk menemukan potensi terbaiknya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
