Sebagai pengguna iPhone selama kurang lebih delapan tahun, saya dapat mengatakan bahwa ponsel berlogo apel selalu mempunyai daya tarik tersendiri. Hal ini dibuktikan dengan bangkitnya iPhone keluaran lama, seperti seri 5, 6, dan 7, berkat ketertarikan gen Z yang “berbeda”.
***
Beberapa waktu lalu, sebuah cuitan melalui timeline Twitter (kini X) saya. Ujarnya, market iPhone ramai dengan seri lama yang kembali digandrungi.
Saat itu juga, saya mengingat bahwa ada salah seorang teman yang sudah menggunakan salah satu iPhone seri terbaru, terhitung pada waktu pembeliannya, tetapi tidak terlalu lama kemudian membeli seri 6 untuk kebutuhan berbeda.
Lantas sebenarnya, mengapa iPhone lama kembali diminati?
Testimoni sebagai mantan pengguna iPhone 7
iPhone pertama saya adalah seri 7. Tepatnya, 7 plus, warna merah. Sebenarnya, ingatan warna merah ini paling melekat karena ia satu-satunya ponsel saya yang tidak berwarna hitam, atau putih.
Seingat saya, ponsel itu dibeli setahun setelah masuk Indonesia. Kurang lebih, pada tahun 2018.
Saya tidak ingat persis bagaimana pemakaian saat itu, tetapi semuanya terasa cukup nyaman. Ukuran ponsel yang cukup besar dengan layar 5,5 inci memenuhi selera subjektif awal, sebagai pengguna yang lebih menyukai ponsel dengan layar yang besar.
Belum lagi, bodi ponsel ini cukup ramping dengan dimensi 138.3 x 67.1 x 71 mm dan bobot 137 gram. Keunggulan ini membuatnya terasa nyaman digenggam, sekalipun berukuran cukup besar.

Selain itu, ponsel ini sudah menawarkan kamera ganda 12MP. Siapapun tahu, kamera iPhone terbilang unggul dibandingkan ponsel lainnya. Maka, saat itu, kamera ponsel ini terasa cukup memuaskan. Ia jernih, meski agak kekuningan.
Seri ini juga masih mendapatkan pembaruan hingga 5 tahun. Artinya, mulai dari tahun masuknya pada 2017, iPhone 7 plus masih mendapatkan pembaruan hingga 2022. Pada tahun ini, iPhone 14 dirilis.
Maka tak heran, ia dikatakan masih layak digunakan hingga tahun 2021.
Tak heran iPhone seri lama kembali digemari
Hal ini menuntun saya pada ketidakheranan ketika salah seorang teman yang sudah menggunakan iPhone 13, malah membeli iPhone 6. Alasannya adalah untuk kebutuhan foto.
Kamera seri teranyar dianggap terlalu jernih dan tajam. Sementara itu, seri lama seperti iPhone 5 dan 6 memberikan kesan grain (bulir) semacam berdebu yang memenuhi kriteria estetika dan buram.
Mencoba melacak penilaian estetika yang didasarkan pada iPhone seri lama ini, saya menyadari bahwa seorang teman ini menyukai K-pop. Budaya Korea memberikan beberapa referensi yang cukup mendominasi dalam gayanya.
Maka, tren serupa ditemui sudah ramai sejak tahun lalu di Korea Selatan.
@bungachaandini Membalas @kucing_ koprol Gils gak di edit tp hasilnya udah oke bgt, kalau kamera iphone jaman sekarang tuh terlalu terang , oksidasi trus kayak filter2 instagram hasilnya kalau suka tone yg minimalis natural dan ga over exposure pakek ip 5s udh mantulity bgt😖🫶🏻 #iphone5s #digicam #iphone5scamera #photo #aesthetic ♬ The Fate of Ophelia – Taylor Swift
Melansir dari Korea Times, seorang mahasiswa, Park Soo-yeon (22) mengaku memiliki dua ponsel, yakni iPhone 16 dan iPhone 5S yang sudah berusia 10 tahun. Ia menggunakan model terbaru untuk berkomunikasi sehari-hari, tetapi lebih menyukai seri 5S untuk mengambil foto.
“Memotret dengan iPhone lama terasa seperti menggunakan kamera film jadul,” kata dia. “Meskipun mengambil gambar sekarang, fotonya memiliki nuansa nostalgia yang membuatnya terasa baru.”
Persis. Alasan ini juga beberapa kali saya jumpai dari mereka yang memilih untuk menggunakan iPhone seri lama.
Tren yang sudah ramai di Korea Selatan ini, ditemukan bersumber dari dorongan konsep “young-tro” yakni young dan retro, yang merujuk kepada gelmobang nostalgia baru di kalangan gen Z. Alih-alih menggunakan ponsel seri paling baru, mereka justru lebih tertarik dengan ponsel lama yang memberikan kualitas foto pudar dan menawarkan nuansa vintage.
Di Indonesia, tren ini bisa dilihat dari kamera-kamera lawas yang kembali diminati. Mulai dari kamera analog yang menggunakan rol film, butuh dicuci, dan memberikan warna autentik yang terkesan grainy—sebut saja, berdebu. Hingga kamera digital alias digicam keluaran lama.
Hal ini tercermin dari penjualan digicam yang meningkat. Salah satunya, penjualan digicam oleh Canon meningkat hingga sekitar 16 persen pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024. Penjualan ini diprediksi kembali meningkat setidaknya hingga 10 persen pada tahun 2026.
Berdasarkan data Global Growth Insight, nilai pasar digicam juga mencapai 1,58 miliar dolar AS pada 2025, serta diproyeksikan meningkat menjadi 1,83 miliar pada 2026. Pelonjakan ini menunjukkan pergeseran selera, atau kembalinya selera lama di kalangan gen Z yang justru muda. Namun meningkatnya harga kamera menimbulkan pergantian perangkat menjadi menggunakan iPhone seri lama yang memberikan kualitas serupa.
Gen Z membawa kembali masa lalu melalui tren foto
Pengguna lainnya yang menggunakan iPhone 6 sebagai ponsel kedua mengatakan, seri lama justru lebih populer di kalangan teman-temannya dibandingkan seri terbaru. Ia mengatakan, warna foto yang ditangkap iPhone seri lama lebih unik dibandingkan yang terbaru.
“Di antara teman-temanku, iPhone lama sebenarnya lebih populer daripada yang terbaru. Warna foto yang diambil dengan iPhone lama lebih unik dibanding yang diambil yang lebih baru,” kata Lee Ji-soo (23), dikutip dari Korea Times, Senin (20/4/2026).
Seperti yang saya katakan sebagai mantan pengguna iPhone 7 plus, kualitas kamera seri lama dan baru terasa jauh berbeda. Kamera iPhone seri lama buram dan agak kuning, sedang seri terbaru tampak jernih.
Perbedaan ini rupanya memberikan daya tarik di mata gen Z.
Ketertarikan itulah yang menyebabkan adanya peningkatan sehingga harga iPhone lama meningkat. Di Korea Selatan, iPhone SE yang dirilis satu dekade lalu dijual dengan harga lebih dari 200 ribu won (kurang lebih Rp2,3 juta) di pasar barang bekas. Sementara itu, iPhone 6S yang dirilis pada 11 tahun lalu dihargai 100 ribu won (sekitar Rp1,1 juta).
Menurut platform barang bekas, penjualan seri 6S pada tahun 2023 melonjak 519 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kembalinya iPhone seri lama ke pasaran ini menunjukkan selera gen Z yang lebih menyukai sesuatu yang mengesankan nostalgia. Kualitas gambar yang jernih, seharusnya menjadi keunggulan dan nilai jual, tetapi malah menginginkan kualitas “berpasir” dari sebuah foto.
Namun sebenarnya, kembalinya tren ke gaya dan perilaku lama ini dapat dipahami. Keinginan nostalgia, misal, dapat dilihat sebagai sebuah coping mechanism yang membawa ingatan masa lalu melalui vibes. Dalam psikologi, memori tidak menyimpan detail tajam seperti megapiksel kualitas kamera, tetapi menyimpan perasaan dan suasana foto grainy sebagai contohnya yang ingin dikenang kembali.
Alasan lain, Jane Baudrillard memperkenalkan konsep hyper-reality menunjukkan bahwa olahan digital kerap dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Kualitas iPhone 17, misal, yang terlalu jernih melampaui kenyataan yang dilihat langsung sehingga menghilangkan kesan natural dan memunculkan perasaan asing.
Karena inilah, sebagian dari gen Z memilih kembali menggunakan iPhone lama mereka.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan