Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 Agustus 2026
A A
Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Ilustrasi - Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setiap Mojok.co membuka rekrutmen, ada satu jenis pertanyaan yang kerap saya terima dari beberapa kenalan: Apakah IPK, jurusan kuliah, atau nama besar kampus masih menjadi parameter penting bagi saya—sebagai orang yang diberi kepercayaan memilih kandidat—dalam proses menyortir seluruh cv yang masuk email? 

Pertanyaan tersebut tidak berangkat dari ruang kosong. Pasalnya, ada banyak kasus: sekalipun pelamar memiliki IPK sempurna, dari jurusan akreditasi A, atau dari kampus dengan nama besar, nyata-nyata tidak menjamin langsung bisa diterima kerja. Bahkan ada yang mengirim 100-an lamaran kerja yang berujung tanpa kabar sama sekali. 

POV jadi HR: menghadapi 777 lamaran kerja untuk 1 posisi, tak satupun ngecek IPK

Awal tahun lalu, saat Mojok membuka lowongan kerja untuk posisi reporter, ada sebanyak 777 cv yang masuk dalam waktu kurang dari sebulan. 

Pihak HR sebenarnya mempermudah saya. Sebab, dari ratusan cv yang masuk, pihak HR telah menyortir menjadi 10-15 kandidat. Dengan begitu, saya tidak perlu menghabiskan banyak energi untuk untuk mengecek satu persatu cv yang masuk. 

Meski begitu, saya merasa lebih mantap jika tahu latar belakang seluruh pelamar. Maka di luar 10-15 kandidat yang direkomendasikan HR, saya tetap membaca satu persatu CV, sebanyak 777 itu. 

“Apa yang jadi pertimbanganmu menentukan kandidat yang layak?” 

Untuk menjawab pertanyaan dari beberapa kenalan tersebut, saya pastikan bahwa IPK hingga nama besar kampus tidak menjadi variabel penting. Saya nyaris tidak pernah membaca bagian-bagian itu. 

IPK bukan hal utama bagi HR saat ini, yang penting skill, pengalaman, dan etos kerja

Saat menghadapi cv-cv dari profesional, hal yang cermati serius adalah: apakah skill dan pengalamannya relevan yang kebutuhan perusahaan.

Begitu juga untuk fresh graduate. Saya lewati bagian IPK maupun jurusan kuliah. Bahkan kalau ada yang secara terang-terangan menulis “saya sebagai sarjana cumlaude dari jurusan… dan seterusnya” pun tidak lantas memikat saya. Saya hanya ingin tahu skill-skill yang si fresh graduate kuasai melalui portofolio yang ia kirim. 

Di atas itu, di tahap users interview, saya akan memastikan satu hal paling krusial: etos kerja. Melalui pertanyaan-pertanyaan dan simulasi implisit, jawaban dari si pelamar kerja sudah cukup memberi gambaran perihal karakteristik kerja dari si pelamar. 

Seturut pengakuan dua orang HR perusahaan di Jakarta yang saya konfirmasi, mereka mengaku menggunakan metode serupa. Memang ada perubahan paradigma HR dari era dulu dengan sekarang. 

Dulu, IPK hingga nama besar kampus memang menjadi variabel pertama yang dinilai. IPK tinggi menunjukkan bahwa seorang kandidat yang mengirim lamaran kerja adalah orang pintar, sehingga bisa diandalkan. Sementara nama besar kampus diasumsikan mencetak lulusan-lulusan dengan kompetensi yang tidak bisa diragukan. 

Psikotes dan urusan di atas kertas bukan jaminan

Namun, saat ini paradigma lama itu telah tergeser. Pasalnya, banyak kasur yang dijumpai dua HR itu menunjukkan, IPK tinggi atau nama besar kampus sama sekali bukan jaminan untuk mengukur kompetensi seseorang. 

Dalam lingkup dua HR Jakarta itu, ketercapaian KPI di kantor lama, proses mengejar KPI, hingga skill-skill yang menjadi daya tawar khusus, adalah variabel paling mudah untuk mengukur etos kerja dan kompetensi dari si pelamar. 

Iklan

Bukannya apa-apa. Dua HR Jakarta itu pernah mengalami: ketika hanya mengukur dari aspek di atas kertas saja (IPK, asal kampus, prestasi akademik, hingga hasil psikotes), pada akhirnya juga tidak menunjukkan pekerjaan yang memuaskan. 

Bahkan, bagi mereka, psikotes bukan menjadi gambaran sepenuhnya dari seorang kandidat. Yang bicara adalah pengalaman dan skill yang ditawarkan. 

Sehingga tidak jarang, banyak HR yang tidak jarang merasa kurang puas dengan hal-hal di atas kerja, lantas memutuskan untuk menghubungi HR dari perusahaan lama si pelamar. Tidak lain untuk menggali rekam jejak si pelamar di kantor sebelumnya. 

Itulah kenapa lulusan sekolah vokasi disebut memiliki keterserapan lebih tinggi di dunia kerja ketimbang lulusan S1. Merujuk hasil tracer study dalam rentang 2021-2024, keterserapan tenaga kerja lulusan vokasi (sarjana terapan) ada di angka 77%. Sementara lulusan pendidikan akademik S1 hanya sebesar 72%. Karena lulusan sekolah vokasi, dengan skill yang dimiliki, dinilai lebih siap langsung terjun di dunia kerja. 

Beri bukti skill

HR butuh bukti skill. Itu poinnya. Dan itu pula yang saya lakukan ketika menentukan seorang kandidat layak diterima atau tidak. 

Saya amat biasa mengecek secara detail satu persatu ratusan cv yang masuk. Dari situ akan saya telusuri lebih jauh untuk mengetahui produktivitas dan setiap potensi yang si pelamar miliki. 

Dan menurut  Laporan Dampak Micro Credentials 2026 oleh Coursera dan Rep Data: saat ini IPK tinggi tidak menentukan seseorang dengan mudah mendapat kerja. Karena perusahaan kini lebih mengutamakan bukti keterampilan yang dimiliki pelamar dibandingkan indikator tradisional, seperti indeks prestasi kumulatif (IPK) maupun nama perguruan tinggi. 

Hasil survei menunjukkan 98 persen perusahaan di tujuh negara (Amerika Serikat, Inggris Raya, India, Arab Saudi, Meksiko, Indonesia, dan Filipina) telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan (skill based) untuk posisi entry level. 

Khusus dalam konteks Indonesia, tercatat hampir 100 persen pemberi kerja yang disurvei menyatakan telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan. Sebanyak 97 persen mengaku menggunakan pendekatan tersebut secara luas untuk posisi entry level. 

Sebanyak 96 persen perusahaan di Indonesia bahkan menyatakan bahwa karyawan entry level yang memiliki micro credentials menunjukkan kinerja lebih baik pada tahun pertama. 

Tapi nyatanya masih banyak kandidat tidak kompeten yang bisa dengan mudah tembus sebuah perusahaan karena pengaruh orang dalam? Ah, kalau itu lain soal. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Realita Sarjana Muda Gusar Mencari Kerja: 4 Tahun Lamanya Berkutat dengan Buku, Lulus Kuliah Memilih Pasrah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2026 oleh

Tags: hripk tak penting di mata hrkriteria kandidat yang dicari hrlamaran kerjatips cv diterima
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Derita Membuat SKCK yang Merepotkan Sekaligus Diskriminatif MOJOK.CO
Esai

Pengalaman Buruk Mengurus SKCK, Dokumen yang Merepotkan Sekaligus Diskriminatif Bagi Pencari Kerja

27 Oktober 2025
Pengalaman Pakai Joki Melamar Pekerjaan di Medsos, Nyadar Kalau Cuma Akal-Akalan Setelah Keluar Banyak Duit dan Tak Ada Panggilan Interview.MOJOK.CO
Ragam

Pengalaman Pakai Joki Melamar Pekerjaan di Medsos, Nyadar Kalau Cuma Akal-Akalan Setelah Keluar Banyak Duit dan Tak Ada Panggilan Interview

25 Mei 2024
Jobstreet: Aplikasi Lowongan Kerja yang Membatasi Penggunanya Melamar Kerja MOJOK.CO
Konter

Jobstreet: Aplikasi Lowongan Kerja yang Membatasi Penggunanya Melamar Kerja

22 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

8 Agustus 2026
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.