Astrea Grand 1996 Milik Bapak: Saksi Bisu Ketangguhan Orang Tua Saya, Kini Tetap Slay Menyibak Kemacetan Surabaya

Kenangan Honda Astrea Grand 1996 di Surabaya. MOJOK.CO

ilustrasi - Bapak Nggak Mau Buang Honda Astrea Grand 1996 karena Banyak Kenangan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Honda Astrea Grand 1996 milik Bapak saya masih terpajang di teras rumah kami. Menurut Bapak dan Ibu saya, motor bebek legendaris itu memiliki sejumlah kenangan sehingga sayang untuk dijual. Nyatanya, meski tampak ringkih dari luar, motor itu kini masih bisa digunakan kakak saya untuk mengitari Kota Surabaya.

Rogoh Rp2 juta untuk modifikasi Astrea Grand 1996

Sabtu (22/8/2026) saya pulang kampung dari Jogja ke Surabaya. Setibanya di rumah lama, saya agak terkejut karena tak lagi menjumpai Honda Astrea Grand 1996 milik bapak di teras rumah. Apa sudah dijual ya? 

Namun ternyata dugaan saya salah. Bapak bilang motor legendaris itu sudah diakuisisi oleh kakak laki-laki saya dan baru-baru ini dibawa ke bengkel untuk dimodifikasi. Lagi-lagi saya syok, karena artinya mesin motor itu belum mati walaupun body-nya sudah tampak ringkih dari luar.

Kakak saya mengaku hanya mengeluarkan uang sekitar Rp2 juta untuk mengganti body motor Honda Astrea Grand 1996 agar tampilannya lebih fresh. Setelah saya lihat sendiri bentuknya, saya pun percaya. Motor tua yang sering saya lihat berdebu itu kini sudah necis dengan warna hitam doff pada keseluruhan badannya.

“Kalau mesinnya sudah kena (rusak), pasti pengeluarannya semakin banyak daripada variasi body motornya,” ujar kakak saya.

Belum bisa dipakai sembarang tempat

Meski begitu, Honda Astrea Grand 1996 yang dulunya milik Bapak saya masih belum bisa dipakai untuk bepergian jarak jauh. Pertama, karena belum ditambahkan kaca spion. Kedua, plat motornya sudah mati alias masa berlaku STNK-nya sudah lewat bertahun-tahun. 

Dua alasan itu saja sudah cukup bagi polisi untuk menahan motor kami. Namun, apa mau dikata, Bapak saya masih sangat menyayangi motor itu hingga masih dipajang di teras kecil rumah kami meski anak-anaknya sudah dewasa.

“Motor itu sebenarnya Bapak beli sekitar tahun 2000. Itu pun second, bekas dari teman Bapak,” kata Bapak saya.

Bagi Bapak saya kala itu, Honda Astrea Grand yang diproduksi tahun 1996 sangat populer dan menjadi motor bebek harian yang bisa dia andalkan untuk bekerja. Mulai dari bahan bakarnya yang irit, perawatannya yang mudah, hingga kapasitas mesinnya yang tangguh dan terbukti masih bisa dipakai sampai sekarang. 

“Waktu itu Bapak dan Ibumu kerja antar barang yang muatannya bisa berkilo-kilo, tapi body Honda Astrea Grand tetap kokoh, nggak mudah ngadat dalam artian mesinnya tidak gampang mati sendiri, tetap enak meskipun dipakai untuk bawa barang berat,” tuturnya.

Kenangan manis dari Astrea Grand 1996

Namun seiring berjalannya waktu, pasar otomotif terus bergeser jadi lebih selektif untuk menyesuaikan kebutuhan. Bapak saya yang dulunya cukup memiliki Honda Astrea Grand dengan ruang bakar di dalam mesin sebesar 100 cc, kini beralih ke motor yang lebih modern. Begitu pula saya dan kakak saya pada mulanya.

Meski begitu, Bapak dan Ibu saya mengaku tak sampai hati menjual motor tua tersebut karena salah satu alasan kenangan di atas. 

“Bahkan seandainya kalau tidak bisa dipakai di jalanan pun, sepertinya layak dimuseumkan,” kelakar Ibu saya, “tapi kami belum rela karena banyak kenangannya,”.

Bagi Bapak dan Ibu saya, Honda Astrea Grand 1996 sudah menjadi bagian dari keluarga. Dia, kata Ibu saya, lebih dari benda mati. Bersama motor itulah Bapak dan Ibu saya menua bersama.

“Motor ini jadi pengingat perjalanan hidup Bapak dan Ibu, betapa tangguhnya kami dulu,” tegas Ibu saya mengenang Honda Astrea Grand 1996.

Tampil slay di tengah kemacetan Surabaya

Bagi saya sendiri, Honda Astrea Grand 1996 sudah seperti kakak tertua. Saya ingat betul saat menaikinya di usia anak-anak. Bapak sering membonceng saya di belakang untuk keliling Kota Surabaya atau bonceng di depan untuk menemaninya ngobrol sambil mengantar barang.

Setelah menanyai saya macam-macam tulisan yang ada di sekitar jalan, sekaligus melatih saya membaca, kami pun ngandok soto bersama atau jalan-jalan ke taman kota.

Di atas motor itu juga, Bapak meminta saya untuk menggenggam kanan-kiri bajunya dengan erat, atau meminta saya menepuk punggungnya jika salah satu sandal saya terjatuh di jalan karena kaki saya belum mampu mencapai foot step Honda Astrea Grand 1996.

Siapa sangka, kini Honda Astrea Grand 1996 milik Bapak itu masih menemani kami. Bahkan, saya masih berkesempatan menaikinya. Meski rawan tilang, kakak saya nekat mengantar saya pulang ke Stasiun Gubeng dengan motor legendaris tersebut. 

“Ini nggak bisa cepat lagi nih? Keretaku jam 14.30 WIB loh,” kata saya gusar.

“Nggak bisa, wes mentok iki (sudah maksimal ini). Santai ae,” jawabnya bangga sembari berkonsentrasi membelah kemacetan di Surabaya, tak peduli dengan lirikan pengendara motor lain yang melihat Honda Astrea Grand 1996 kami dengan berbagai ekspresi, ada yang bingung, merasa aneh, bahkan takjub.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Honda Astrea, Vespa dan Bisnis Motor Tua yang Harganya Nggak Masuk Akal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version