Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
28 Juli 2026
A A
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO

Ilustrasi - Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai pelanggan militan warung madura, ketika mencoba mampir ke Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, saya menemukan ada beberapa hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi untuk saat ini memang belum ada di Koperasi Desa. 

Ketimbang ke waralaba minimarket yang tersebar di mana-mana, intensitas belanja saya memang lebih sering ke warung madura. Untuk kebutuhan apapun, dari beras, keperluan mandi, sebat, dan printilan-printilan kecil lain. 

Iklan

Persinggungan saya dengan warung madura lantas mempertemukan saya dengan banyak hal unik dengan toko kelontong yang juga tersebar di banyak daerah ini. Gara-gara itu, kemunculan Kopdes Merah Putih memancing rasa penasaran saya untuk mengulik barangkali ada yang menarik dari penyedia kebutuhan pokok buatan pemerintah ini. 

Sejauh yang saya telusuri, kira-kira inilah hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi belum dimiliki oleh Koperasi Desa, dan memang agak “berlainan”: 

Warung madura 24 jam hingga hari kiamat, Koperasi Desa (Kopdes) tidak tahu buka kapan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa daya tawar utama warung Madura adalah jam operasionalnya selama 24 jam non-stop. Bahkan sampai ada anekdot kalau warung madura akan buka terus sampai hari kiamat. 

Kalau toh ada hari ketika “terpaksa” tutup, itu pun tidak sering-sering amat. Misalnya warung madura di dekat kos saya: memastikan tutup tiap bulan Maulid. Karena memang, bagi sebagian banyak orang Madura, peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw memang menjadi momentum besar. 

Sementara dalam konteks lain, pasti sifatnya gantian. Saat ada penjaga toko kelontong 24 jam itu hendak pulang, maka pasti sudah disiapkan pengganti selama penjaga sebelumnya di kampung halaman. 

Berbeda dengan sebuah Kopdes Merah Putih yang saya temui di Jombang dan Jogja. Karyawan Kopdes mengaku memiliki jam operasional dari pagi hingga sore. Itu pun dengan arus pembeli yang jarang-jarang. 

Perbedaan lain dari warung madura: selama 24 jam pasti ada saja orang yang mampir. Saya sendiri saja sering belanja di jam-jam dini hari. 

Selain itu, menurut keterangan warga setempat, si Kopdes Merah Putih yang awalnya buka itu sempat juga tutup. Jadi sempat buka-tutup, buka-tutup. Bahkan ada juga Kopdes di desa lain yang awalnya buka, tapi kemudian tutup tanpa pernah diketahui kapan buka lagi. 

Koperasi Desa (Kopdes) tak punya pom mini seperti warung madura, jadi waswas di jalanan pelosok

Perbincangan dengan beberapa warga di Jombang, warung madura dianggap lebih kontekstual dengan keberadaan pom mini di depan tokonya. 

Di Jombang, sejumlah toko kelontong 24 jam itu memang buka di jalanan yang jauh dari SPBU Pertamina. Dengan begitu bisa menjadi alternatif bagi pengendara motor jika kehabisan bensin. 

Sementara Kopdes Merah Putih malah terkesan anomali. Banyak gedung Kopdes berlokasi jauh dari pusat keramaian. Kopdes di Jombang yang saya hampiri tersebut berada di jalanan sepi yang jauh dari permukiman, dikelilingi ladang tebu dan jagung. 

Misalnya melintas di jalanan tersebut, saya kebayang agak susah kalau kehabisan bensin. Keberadaan Kopdes mungkin bisa jadi oase: setidaknya masih melihat ada kehidupan. Bisa mampir juga buat beli minuman atau camilan. Tapi PR terbesarnya adalah bensin. Masa harus minta nyedot bensin dari motor si karyawan Kopdes?

Iklan

Di sisi ini, sejumlah warga setempat yang saya agak berbincang sepakat: warung madura masih jadi andalan. 

Orang telponan sepanjang jam vs karyawan gabut tunggu pelanggan

Pelanggan warung madura pasti kerap menemui penjaga warung yang telponan sepanjang waktu. Ada saja yang diobrolkan dengan mode loudspeaker. 

Karena merasa tidak ingin obrolan terpotong meski pembeli datang silih-berganti, telponnya tidak begitu saja dimatikan. Penjaga toko kelontong 24 jam itu akan tetap melayani pembeli, setelahnya nyambung telpon lagi. 

Karena kalau setiap pembeli datang dimatikan, pasti putus-nyambung. Sementara setiap beberapa menit sekali, pasti ada saja pembeli yang mampir. Entah untuk beli minum, isi bensin, atau beli sebungkus sebat. 

Suasananya berbeda dengan di Kopdes Merah Putih. Wawancara saya dengan seorang kasir Kopdes menunjukkan: si kasir kerap mengaku gabut dan suntuk untuk menunggu pelanggan. 

Sekali ada orang yang mampir pun motifnya iseng: bikin konten parodi tentang Koperasi Desa Merah Putih. Alhasil malah membuat si kasir makin kesal. 

Etalase kreatif dan estetik tidak seperti baris-berbaris

Saya cukup mengikuti perkembangan Kopdes Merah Putih melalui konten-konten media sosial. Salah satu yang menjadi perhatian warganet adalah display barang di rak-rak Kopdes. 

Banyak warganet menyebutnya lebih mirip baris-berbaris. Penyeragaman merek dengan tone warna yang sama di setiap rak membuat display rak menjadi agak kurang estetik. 

Ditambah lagi ada beberapa rak yang masih kosong (tanpa barang). Hal itu membuat warganet meragukan ketersediaan stok barang di Kopdes Merah Putih.

Tentu berbeda dengan temuan di warung madura. Dari kejauhan, keberadaan warung madura sudah bisa ditandai setidaknya dari dua hal. Satu, pom mini yang terletak di bagian paling depan toko. Lalu dua, jika malam hari, keberadaan warung madura bisa ditandai dari kerlap-kerlip lampu hias warna-warni. 

Selain itu, warung madura dikenal karena cara display etalase depannya yang estetik, dengan memainkan perpaduan warna dari banyak merek sebat yang dijual. 

Warung madura juga tidak memiliki rak kosong. Setiap ruang pasti terisi barang dagangan, dengan tata letak yang rapi dan tidak membosankan. Tidak hanya terkesan warungnya penuh, toko kelontong 24 jam itu juga dikenal serba-ada. 

Itu kalau kita melihat dari sudut pandang “yang ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki Koperasi Desa”. Maka perku dikulik: sesuatu yang ada di Kopdes tapi warung Madura tidak punya. Soon lah.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Latihan Ala Penjaga Warung Madura Operasikan Toko 24 Jam: Memang Tak Seperti Latsarmil Koperasi Desa tapi Teruji atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2026 oleh

Tags: barang yang dijual di kopdesjam buka kopdeskopdeskopdes merah putihkoperasi desapilihan redaksitoko kelontong madurawarung madura
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Koperasi di Yogyakarta. MOJOK.CO
Kabar

Hari Koperasi Nasional ke-79 di DIY: Sudah Saatnya Koperasi sebagai Sakaguru Perekonomian Nasional Nggak Lagi Gaptek

23 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO
Sehari-hari

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Romo Pitoyo dalam acara peresmian Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto Yogyakarta. MOJOK.CO

Laboratorium Alam De Britto: Pondok Perenungan Manusia agar Tak Kehilangan Hati Nurani di Tengah “Bahaya” AI

28 Juli 2026
Sri Sultan HB X tegaskan: penataan kawasan pedestrian Malioboro bukan berarti apa-apa tidak boleh MOJOK.CO

Sri Sultan HB X: Malioboro Full Pedestrian Bukan Tutup Total Akses Kendaraan, Tapi Penataan agar Tidak Crowded

24 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.