Jalan-jalan ke Deles Indah, Klaten untuk yang kedua kalinya membuat saya takjub. Seiring berjalannya waktu, daerah ini berubah menjadi “harapan”. Dulu, ia kerap diremehkan dan seolah tertinggal dari daerah sekitar yang lebih populer seperti Jogja atau Solo. Kini, kota dengan julukan 1001 Umbul ini berhasil menunjukkan taringnya.
Klaten sendiri adalah salah satu daerah yang sejak dulu ingin saya sambangi. Saat kerja di Jakarta dulu, saya kerap terkesima dengan keindahan Klaten. Malahan, alih-alih pulang kampung ke Surabaya, saya lebih ingin mengunjungi Klaten untuk liburan karena sudah muak lihat gedung-gedung tinggi dan ingin cuci mata dengan yang ‘hijau-hijau’.
Oleh karena itu, mata saya selalu terbelalak saat melihat pemandangan asri Klaten di balik jendela kereta dari Jakarta menuju Surabaya. Dan akhirnya, mimpi saya ke Klaten keturutan sejak merantau di Jogja. Malah kini sering bolak-balik ke sana untuk bekerja.
Nasib Klaten yang selalu diremehkan
Salah satu tempat yang menjadi jujugan saya adalah Deles Indah, objek wisata yang terletak di lereng sebelah timur kaki Gunung Merapi. Karena waktu tempuhnya sekitar 45 menit dari Kaliurang, saya kira lokasinya masih di Jogja tapi saya salah.
Lokasi pastinya berada di desa Sidorejo, Klaten. Hampir saja saya membuat nasib Deles Indah seperti Candi Borobudur yang sering disangka orang ada di Jogja, padahal lokasinya ada di Kabupaten Magelang.
Kesalahpahaman itu sering terjadi karena daerah tersebut berdekatan dengan Jogja atau Solo yang lebih populer sebagai tempat wisata. Padahal, wisata di Klaten kini tak kalah populer. Melansir dari laman resmi Klaten, Kabupaten Klaten kini menempati posisi ke-2 sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi di Provinsi Jawa Tengah.

Selama libur Lebaran 2026 kemarin (13 Maret hingga 28 Maret), jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Klaten mencapai 555.460 orang mengalahkan Wonosobo, Jogja, dan Solo. Sementara, peringkat pertama adalah Kabupaten Kebumen.
“Angka (kunjungan) itu meningkat 11 persen dibandingkan tahun lalu, sekaligus menempatkan Klaten pada peringkat dua tujuan wisata di Jawa Tengah,” jelas Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo melalui laman instagramnya @hamenang, pada Jumat (03/04/2026).
Ia menjelaskan ada 5 destinasi wisata populer yang dikunjungi, antara lain Kompleks Candi Prambanan, Rowo Jombor, Umbul Pelem, Umbul Kemanten, dan Objek Mata Air Cokro.
Deles Indah, Klaten yang semakin viral
Meskipun Deles Indah tak masuk ke dalam daftar 5 wisata populer tadi, saya menyaksikan langsung transformasi pembangunan yang ada. Setahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya mendaki ke Deles Indah setelah diterima sebagai karyawan di Jogja.
Saat itu, suasana Deles Indah tidak seramai sekarang. Belum banyak warung maupun kafe yang buka. Bahkan sekarang mulai dibangun campground, masjid, hingga rumah makan dengan area yang luas. Ada pula “pelari kalcer” dan pesepeda yang mendaki Deles Indah sambil ngonten.
Salah satu pendiri kedai Gligir Gumuk berujar baru beberapa bulan ini membangun gubug kayu di sekitar pos V—arah pulang menuju gerbang masuk wisata Deles Indah. Menu kedainya terdiri dari berbagai minuman, mulai dari es teh, es jeruk, dan wedang, serta mendoan. Harganya pun masih normal saat saya beli.
“Saya bawa bahan-bahannya ke sini pakai sepeda motor Vario, bisa kok dipakai naik karena sudah dilatih,” katanya, Sabtu (4/4/2026) saat saya tanya soal rekomendasi motor yang ia gunakan karena Mio karbu saya susah dikendarai di tanjakan.
Program pembangunan semakin digenjot
Sejujurnya, akses dari Sleman menuju Deles Indah tak begitu sulit. Jalannya pun sudah mulus, tapi memang menanjak. Namun, kunjungan kedua saya bulan ini sedikit mencemaskan karena rute yang saya pilih di Google Maps berbeda dengan rute pertama kali saya ke sana.
Salah satunya saat melewati jalan berbatu dan berkubang di sekitar Bendungan Kendalsari, Kecamatan Kemalang, Klaten. Sebab teman saya yang mengendarai motor BeAt hampir jatuh karena bagian bawah motornya menatap bebatuan jalan dan nyaris menabrak pengendara motor sekitar.
Untungnya, ia tidak terluka sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan yang butuh waktu sekitar 17 menit sebelum tiba. Selain motoran, wisatawan juga bisa naik commuter line (KRL) dari Jogja ke Klaten dengan harga tiket Rp8 ribu. Waktu tempuhnya pun tak sampai satu jam.
Terbukti, Kota 1001 Umbul ini kian menggeliat. Rencana pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) pun kian masif digalakan hingga 2029, yang terdiri dari 10 program prioritas. Salah satunya, bela beli produk UMKM, perizinan mudah, dan perluasan lapangan kerja, hingga dalan alus, padang, dan banyu lancar.
Pada akhirnya, Klaten, daerah yang dulunya dianggap tertinggal, kini sukses mengalahkan Jogja dan Solo. Selain menawarkan berbagai tempat wisata, Klaten juga memiliki kuliner yang punya cita rasa manis dan gurih. Cocok untuk kalian yang katanya ingin healing maupun slow living.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Bukit Argobelah: Tempat Terbaik Melihat Pemandangan Gunung Merapi dari Dekat, Tak Sampai Satu Jam dari Jogja Bisa Dapat Ketenangan Batin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan